LIGA INGGRIS: Tren Buruk ”The Reds”

Penyerang Red Star Belgrade, Milan Pavkov (tengah), bersama rekan-rekannya merayakan gol ke gawang Liverpool pada pertemuan kedua Liverpool dan Red Star dalam lanjutan Liga Champions Grup C di Stadion Rajko Mitic, Belgrade, Rabu (7/11/2018) dini hari WIB. (Sumber: Kompas/AFP/ANDREJ ISAKOVIC)

Liverpool semakin sering kehilangan taringnya saat menjalani laga tandang di Liga Champions. Lini depan mereka yang terkenal garang pada musim lalu mendadak tumpul.

Belgrade, Serbia, Baranews.co – Liverpool tidak merasakan masalah yang serius setelah dikalahkan Red Star Belgrade, 0-2, dalam laga Grup C Liga Champions di Stadion Rajko Mitic, Belgrade, Serbia (7/11/2018) dini hari WIB. Namun, ”The Reds” harus waspada karena mereka sedang mengalami tren buruk, yaitu selalu kalah di kandang lawan.

Kekalahan di Belgrade itu melengkapi rentetan hasil buruk Liverpool di Liga Champions saat menjalani laga di luar Stadion Anfield, kandang mereka. Sejak kalah 2-4 di kandang AS Roma pada laga kedua semifinal musim lalu, Liverpool selalu kalah dalam dua laga tandang berikutnya pada musim ini. Sebelum kalah di Belgrade, The Reds kalah 0-1 di kandang Napoli.

Dengan dua kekalahan dan dua kemenangan, finalis Liga Champions musim lalu ini tetap masih punya kans untuk lolos ke babak 16 besar. Mereka dan Napoli saat ini mengemas enam poin, sedangkan PSG memiliki lima poin dan Red Star dengan empat poin.

”Saya tidak mengatakan bahwa dua kekalahan laga tandang ini merupakan masalah serius. Namun, kami tentu tidak ingin hal ini terjadi lagi,” kata Pelatih Liverpool Juergen Klopp.

Mantan pelatih Borussia Dortmund ini pun pantas merasa cemas karena laga berikutnya adalah laga tandang ke Stadion Parc des Princes pada akhir November nanti untuk melawan Paris Saint-Germain.

Kemenangan atas PSG pada laga pertama di Anfield menjadi harga mati karena pada laga terakhir di fase grup, Liverpool akan menjamu Napoli yang kini semakin berkembang di bawah asuhan Pelatih Carlo Ancelotti.

Faktor mental

Menanggapi kekalahan dari Red Star, Klopp mengakui, faktor mental menjadi salah satu penyebabnya. ”Ketika fans Red Star bernyanyi keras, saya rasa itu atmosfer sepak bola yang biasa. Namun, ketika Red Star mencetak gol kedua, atmosfer terasa berbeda,” ujar Klopp, seperti dikutip laman Liverpool.

Malam itu Red Star hanya butuh waktu 30 menit untuk unggul dua gol. Pahlawan mereka adalah Milan Pavkov yang mencetak gol pada menit ke-22 dan ke-29.

Dengan dua gol itu, Red Star akhirnya bisa kembali memenangi laga turnamen kasta tertinggi di Eropa untuk pertama kali sejak 26 tahun terakhir. Pada tahun 1991, mereka pernah berjaya dengan menjuarai Piala Champions (sebelum era Liga Champions). Sejak saat itu mereka meredup dan tidak pernah lolos dari fase grup.

”Mungkin saya tidak akan bisa tidur pada dua atau tiga hari ke depan,” ujar Pavkov mengungkapkan kebahagiaannya kepada UEFA. Mencetak gol ke gawang Liverpool adalah sesuatu yang sudah lama ia impikan dan malam itu ia langsung mencetak dua gol.

Setelah Pavkov mencetak kedua golnya itu, kepercayaan diri para pemain Liverpool langsung ambruk. ”Pada saat turun minum, kami menyusuri lorong panjang ke kamar ganti. Para pemain Red Star berjalan dengan ceria dan kami sebaliknya,” ujar Klopp.

Intimidatif

Tidak hanya dua gol Pavkov yang membuat para pemain tertunduk, tetapi jga suasana di Stadion Rajko Mitic memang terkenal intimidatif bagi tim tamu. Lorong dari lapangan menuju ke kamar ganti yang diceritakan Klopp itu merupakan salah satu bagian stadion yang unik dan ”menyeramkan” bagi semua lawan Red Star.

Lorong itu sangat panjang dan sempit. Di tembok lorong banyak terdapat coretan-coretan dengan cat merah. Berjalan menyusuri lorong itu serasa sedang memasuki sebuah bungker perang.

Apalagi, suara fans Red Star di tribune penonton turut membuat tembok lorong bergetar.

”Bagi tim tamu, saya dapat membayangkan suasana di dalam lorong sangat mengintimidasi. Ini akan menjadi pengalaman spesial bagi para pemain (Liverpool),” ujar gelandang Liverpool asal Serbia yang sedang dipinjamkan ke Herta Berlin, Marko Grujic, seperti dikutip laman Goal.

Di atas lapangan, setelah menyusuri lorong itu, para pemain Liverpool memang bisa menguasai permainan dan menyerang. Namun, lini depan mereka mendadak tumpul. Daniel Sturridge yang menggantikan posisi Roberto Firminho bahkan gagal mencetak gol meski sudah berdiri bebas di depan gawang.

The Reds tidak lagi segarang saat mereka melibas Red Star, 4-0, di Anfield, dua pekan lalu. ”Kami harus bermain lebih baik lagi pada laga berikutnya,” ujar gelandang Liverpool, James Milner.

Meski demikian, nasib Liverpool masih lebih baik daripada tim Inggris lainnya, Tottenham Hotspur, yang terancam tersingkir lebih awal. Rabu kemarin, Spurs bisa mengalahkan PSV Eindhoven 2-1 berkat dua gol Harry Kane. Namun, mereka masih di peringkat ketiga Grup B dengan empat poin. (AP/AFP/DEN)/Kompas Cetak

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*