KECELAKAAN LION AIR – Presiden: Manajemen Keselamatan Harus Ditingkatkan

Anggota Polairud Barharkam Mabes Polri menggunakan drager, alat yang digunakan untuk berkomunikasi antara penyelam dengan petugas di kapal, saat melakukan penyelaman pencarian pesawat Lion Air nomor register PK-LQP nomor penerbangan JT-610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Selasa (30/10/2018). (Sumber: KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Jakarta, Baranews.co – Kecelakaan yang menimpa pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 (29/10/2018), semestinya mengingatkan semua pihak untuk memperketat pengelolaan keselamatan di angkutan udara. Kendati konsumen menghendaki harga penerbangan murah, tak semestinya aspek keselamatan diabaikan.

Presiden Joko Widodo meminta Menteri Perhubungan supaya manajemen keselamatan penumpang pesawat diperketat. Hal ini diperlukan untuk mencegah berulangnya kecelakaan pesawat. “Saya sudah sampaikan kepada Menteri (Perhubungan), perketat manajemen keselamatan penumpang. Tapi, saat ini kita berkonsentrasi pada pencarian korban dan pesawat dulu,” tutur Presiden kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Pengetatan pemantauan aspek keselamatan penumpang menjadi penting. Sebab, Indonesia menargetkan adanya kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara tahun 2019. hal ini perlu didukung angkutan udara yang aman dan nyaman bagi wisatawan.

Pengetatan pemeriksaan juga sudah diterapkan. Untuk meningkatkan keamanan terbang, kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin, ramp check atau pemeriksaan operasional maskapai, pesawat, dan pilot dilakukan lebih sering. Bila pengecekan random biasanya dilakukan pada 10-15 persen di setiap maskapai; untuk Lion Air, ramp check diterapkan secara acak sampai 40 persen.

Di sisi lain, untuk memperlancar penyelidikan penyebab jatuhnya pesawat PK-LQP oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), lanjut Budi Karya, pemerintah meminta Direktur Teknik Lion Air dibebastugaskan. Bila sudah mendapatkan cukup bahan, KNKT akan menyimpulkan penyebab kecelakaan.

Pembebastugasan ini, kata Budi, bersifat sementara. Setelah pemeriksaan rampung, barulah ditentukan tindakan berikutnya. Namun, sementara Direktur Teknik Lion Air Muhammad Asif dibebastugaskan, Lion Air perlu menggantikan posisinya dengan pejabat lainnya.

Pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610, rute Jakarta-Pangkalpinang, jatuh di lepas pantai Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). Dalam kecelakaan ini, sebanyak 189 penumpang dan kru menjadi korban.

Pesawat berjenis Boeing 737 MAX 8 ini relatif baru baik bagi Lion Air maupun bagi Boeing, pabrik pesawat Amerika Serikat. Boeing 737 MAX 8 beregistrasi PK-LQP yang jatuh di Perairan Kawarang adalah pesawat ke-10 yang dioperasikan Lion Air. CEO Lion Air Edward Sirait mengarakan, pesawat ini diterima pada 13 Agustus 2018 dan dioperasikan pertama kali pada 15 Agustus 2018.

Namun, diakui pula sempat ada kendala teknis pada penerbangan malam sebelumnya. Pada Minggu malam, pesawat ini melakukan penerbangan rute Denpasar-Jakarta dan mengalami gangguan. Namun, kendati Edward tak mau menceritakan detail gangguannya, dia meyakinkan bahwa tim mekanis sudah memperbaiki sesuai prosedur produsen pesawat. (NINA SUSILO/Harian KOMPAS)

Be the first to comment

Leave a Reply