‘Download Software’ Gratis, Risikonya Mahal

Pengguna yang melakukan download (mengunduh) software dan sistem operasi gratis alias bajakan tak selamanya menguntungkan, ada risiko yang mesti dibayar setelahnya.

Baranews.co – Pengguna yang melakukan download (mengunduh) software dan sistem operasi gratis alias bajakan tak selamanya menguntungkan, ada risiko yang mesti dibayar setelahnya.

Ada kalanya, pengguna malah mesti membayar biaya yang lebih mahal dari “penghematan” ini, seperti diungkap Biplab Sikdar, Associate Professor dari Departement of Electrical & Computer Engineering National University (NUS) of Singapore.

“Pengguna biasanya menggunakan software bajakan karena mereka lebih murah. Padahal sebenarnya ada biaya yang terkadang harus dibayar lebih mahal setelahnya dengan menggunakan bajakan ini,” jelas Sikdar saat ditemui di kantor Microsoft di Singapura, Selasa (30/10).

Populernya software bajakan tak dapat dipungkiri lantaran embel-embel gratis yang ditawarkan bagi pengguna. Kalau pun mesti membeli, setidaknya harganya jauh lebih murah dari software asli. Siapa yang tak suka dengan barang gratis dan murah?

Tapi, sebuah ungkapan menyebut bahwa tidak ada makan siang yang gratis. Jadi, sebenarnya pengguna mesti membayar software bajakan yang murah dan gratis itu dengan resiko.

Bagi perorangan, kehilangan data pribadi ini beresiko dicurinya nama pengguna dan akun email atau media sosial misalnya. Tapi, apa ruginya jika data pribadi dicuri? Masalahnya bisa seringan dibajaknya akun-akun lain kita seperti media sosial misalnya. Bisa juga terjerat masalah berat jika email kita memiliki data sensitif seperti data perusahaan atau keuangan. Hal ini bisa berujung kekacauan hingga tuntutan hukum.

Contohnya seperti yang terjadi pada Hillary Clinton. Salah stafnya terkena gugatan hukum lantaran ia kerap mengirimkan kopi dari email rahasia kenegaraan ke akun Yahoo miliknya sendiri dan milik Clinton. Padahal Yahoo sendiri mengakui bahwa seluruh akun pengguna mereka telah diretas sejak 2013.

Bagi perusahaan dan institusi, resikonya lebih besar, peretas bisa menyusup ke dalam sistem perusahaan dan melakukan perusakan atau pencurian data. Akibatnya, kerugian uang dan kepercayaan pelanggan bagi perusahaan dan institusi itu.

Nilai kerugiannya pun luar biasa besar. Data dari BSA (Business Software Alliance) menyebut bahwa tiap PC yang terinfeksi malware menyedot kerugian hingga US$10 ribu (sekitar Rp152 juta) dari total US$350 miliar (Rp5,3 kuadriliun). Angka ini sudah mencakup kerugian biaya TI, kehilangan produktivitas, dan adanya peretasan keamanan.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk pengunduhan atau pembelian software bajakan. Tapi juga berlaku untuk pembelian laptop baru yang diisi dengan software dan sistem operasi bajakan. Resiko yang sama juga menghantui pengguna produk-produk bajakan di laptop anyar ini.

Untuk itu Sikdar mengimbau agar pengguna tidak mudah tergiur dengan tawaran laptop anyar dengan harga terlalu murah yang dipasangi oleh software dan sistem operasi palsu.

“Pengguna mesti lebih waspada ketika membeli PC baru dan jangan tergiur pada tawaran yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Penghematan itu bersifat jangka pendek dan tidak sebanding dengan kerugian dari hilangnya data pribadi dan identitas digital mereka,” tambahnya. (cnnindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*