PILPRES 2019: Menaksir Peluang Jokowi-Ma’ruf

Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin didampingi petinggi partai pengusung di Gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018). (Sumber: KOMPAS/PRADIPTA PANDU)

Elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin saat ini di atas 50 persen. Meski demikian, sejumlah langkah harus dilakukan untuk mempertahankan fundamen yang sudah kuat dan memperlebar dukungan di segmen tertentu.

Jika pemilihan presiden digelar saat ini, menurut hasil survei terbaru Litbang Kompas, pasangan Joko Widodo- Ma’ruf Amin akan memperoleh 52,6 persen dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno mendapat 32,7 persen suara. Sementara mereka yang belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya ada 14,7 persen. Seandainya 14,7 persen responden ini merapat kepada Prabowo-Sandi, dalam hitungan sederhana, peluang Jokowi- Ma’ruf masih sedikit lebih lebar.

Namun, dengan memperhitungkan aspek margin of error (MOE), peluang ini bisa jadi masih di titik kritis. Pasalnya, dengan MOE sebesar 2,8 persen, rentang perolehan Jokowi-Ma’ruf saat ini berada di kisaran 49,8-55,4 persen. Terlebih ada pemilih yang berpotensi menggeser arah dukungannya.

Ada 30,7 persen pemilih Jokowi-Ma’ruf yang masih berpeluang mengubah dukungannya hingga pemilu nanti. Sementara kemungkinan serupa pada pasangan Prabowo-Sandi sebesar 34,2 persen.

Dengan adanya pemilih ragu pada kedua belah pihak dan mereka yang hingga kini belum menentukan pilihan, total massa mengambang dapat mencapai 46,8 persen. Ini yang membuat hasil akhir pertarungan ini masih sulit dipastikan.

Indikasi lain juga menunjukkan, masih cukup ruang bagi kedua kubu untuk memikat mereka yang kini berada di zona ambigu. Terdapat 31,7 persen responden yang tidak memosisikan diri untuk menegasikan atau menolak salah satu pasangan calon. Kelompok ini bisa menjadi peluang bagi kedua belah pihak untuk menarik simpati.

Sedikit peluang juga dapat terbaca pada tingkat resistensi yang lebih tegas. Pemilih Jokowi-Ma’ruf yang memastikan diri untuk tidak akan memilih Prabowo-Sandi sebesar 82,2 persen. Sebaliknya, pemilih Prabowo-Sandi yang memastikan tidak akan memilih Jokowi-Ma’ruf sebanyak 79,3 persen. Hal ini menunjukkan sikap fanatisme yang sudah cenderung tinggi pada tiap konstituen. Namun, ruang untuk mengubah elektabilitas juga masih tetap ada.

Jika demikian, di mana peluang Jokowi-Ma’ruf untuk memperlebar dukungan?

Komposisi pemilih

Dilihat dari posisi demografis pemilihnya, 55,7 persen pemilih pasangan Jokowi-Mar’uf   berpendidikan sekolah dasar. Sementara di kubu Prabowo-Sandi, jumlah pemilih dari kelompok ini mencapai 46 persen.

Jika dilihat dari gambaran kelas sosial, pasangan Jokowi-Ma’ruf lebih menonjol dalam menarik kelas bawah. Adapun komposisi persentase Prabowo-Sandi di kelompok kelas menengah dan atas lebih menonjol daripada Jokowi-Ma’ruf. Gejala ini menunjukkan, ekspansi Jokowi-Ma’ruf selama ini lebih mengena pada pasar pemilih kelas bawah, sedangkan Prabowo-Sandi meluas di kelas menengah dan atas.

Deklarasi 20 elemen pendukung pasangan no 1 Jokowi- Ma’ruf Amin di Surabaya, Sabtu (13/10/2018) bakal menyasar pemilih pada wilayah Jokowi kalah pada 2014

Kelas bawah dan mereka yang selama ini terpinggirkan dari laju pembangunan memang menjadi kelompok masyarakat yang paling diuntungkan oleh perluasan dan percepatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi. Sikap Jokowi yang merakyat juga memberi warna kuat pada model kepemimpinannya, yang cenderung diapresiasi secara luas oleh masyarakat kelas bawah.

Namun, jejak Jokowi ini terasa kian menipis di kalangan menengah dan atas. Ini karena relatif kurangnya program dan kebijakan yang mendorong tumbuhnya harapan akan perbaikan kehidupan kelas menengah dan atas. Kelas yang membawa perubahan dengan memopulerkan model kepemimpinan Jokowi yang sederhana, antikorupsi, pekerja keras, dan merakyat kini seolah dibiarkan sendiri menghadapi kondisi ekonomi yang mengimpit. Kelas yang selalu aktif dan responsif akan ide-ide baru ini memerlukan pegangan yang jauh lebih menjanjikan peluang keberlangsungan dan peningkatan kualitas hidupnya.

Kurangnya wacana perubahan yang mengena pada kalangan menengah dan atas ini juga dikuatkan oleh komposisi dukungan pemilih Jokowi-Ma’ruf saat ini yang cenderung lemah di kalangan pelajar/mahasiswa. Kalangan ini, yang kebanyakan merupakan generasi milenial, lebih condong mendukung Prabowo-Sandi. Meski pada generasi di atasnya keterpilihan Jokowi-Ma’ruf cukup kuat, pergerakan di kalangan pemilih muda ini dapat menjadi pernyataan simbolik yang cukup berpengaruh karena besarnya energi eskalatif mereka. Program-program yang memberi perhatian kepada generasi ini berpeluang menahan arus dukungan keluar yang lebih deras. Sokongan yang lebih konkret juga diperlukan untuk kalangan pekerja serabutan yang sejauh ini cenderung menggeser pilihannya kepada Prabowo-Sandi.

Peluang bagi Jokowi juga masih bisa diperbesar dari sisi kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahannya, yang sejauh ini dipandang cukup memuaskan. Ruang untuk mengomunikasikan keberhasilan harus lebih menjangkau semua kubu. Sejauh ini ada 15,8 persen pemilih Jokowi yang sebetulnya masih belum puas atas kinerjanya. Namun, di sisi lain ada 37,7 persen pemilih Prabowo-Sandi yang sebetulnya merasa puas atas kinerja pemerintahan Jokowi. Ini menunjukkan korelasi yang cukup lemah antara penilaian atas kinerja pemerintahan dan pilihan politik pada kelompok ini. Karena itu, diperlukan strategi lain yang lebih mengena terhadap kelompok ini, selain bersandar pada komunikasi atas keberhasilan kinerja.

Posisi geografis

Hasil survei menunjukkan adanya penguasaan dan persaingan ketat elektabilitas para kandidat di sejumlah wilayah. Jokowi-Ma’ruf unggul di   Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur, serta gabungan Maluku dan Papua.

Di wilayah Jawa, kemenangan Jokowi-Ma’ruf diprediksi mencapai 57,1 persen. Kekuatan dukungannya terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jateng dan DI Yogyakarta, kemenangan pasangan ini mencapai tiga perempat dari total suara pemilih, sedangkan di Jatim kekuatan penetrasinya mencapai 69,6 persen. Namun, potensi keterpilihan mereka lebih lemah di Jawa Barat dan Banten. Di DKI Jakarta, dukungan terhadap pasangan ini juga sedikit berada di bawah Prabowo-Sandi.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Presiden Joko Widodo (depan tengah) didampingi Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Sirodj (depan, kedua dari kiri), Ketua MUI sekaligus Dewan Pembina Majelis Dzikir Hubbul Wathon KH Maruf Amin (depan, ketiga dari kanan), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimun Zubair (depan, kedua dari kanan) dan perwakilan Alim Ulama berfoto bersama pada acara Halaqah Alim Ulama yang diselenggarakan Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (13/7). Dalam acara tersebut, Ketua MUI sekaligus Dewan Pembina Majelis Dzikir Hubbul Wathon KH Maruf Amin mendeklarasikan berdirinya majelis dzikir tersebut.

Sementara itu, wilayah Sumatera juga akan menjadi medan pertarungan yang sengit. Di sini, Jokowi-Ma’ruf mendapat dukungan 38,1 persen dan Prabowo-Sandi 40,5 persen. Jika dilihat lebih dalam, basis dukungan Jokowi-Ma’ruf ada di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung. Wilayah lain, terutama Aceh, Sumatera Barat, dan Riau, cenderung lebih mendukung Prabowo-Sandi.

Di Sulawesi, potensi kemenangan Jokowi-Ma’ruf masih cukup rentan karena dukungannya hanya beda sedikit daripada pasangan Prabowo-Sandi. Di sini, Jokowi-Ma’ruf memperoleh 44 persen dan Prabowo-Sandi 38,5 persen. Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo menjadi area pertarungan yang menantang bagi Jokowi-Ma’ruf untuk meluaskan dukungan yang sejauh ini lebih banyak mengalir kepada pasangan lawan.

Masa kampanye yang masih enam bulan lagi akan menjadi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk memperbesar peluang. (BAMBANG SETIAWAN/ LITBANG KOMPAS/Harian KOMPAS)

Be the first to comment

Leave a Reply