EMPAT TAHUN JOKOWI/JK – Presiden: Bangun Terus Optimisme dan Kepercayaan di Tengah Tantangan

Presiden Joko Widodo (kiri) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) bersiap menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan tertutup di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (9/8/2018). (Sumber: Kompas/ANTARA/WAHYU PUTRO A)

Empat tahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Joko Widodo terus membangun optimisme dan memperkuat kepercayaan dan daya saing kepada masyarakat meskipun sejumlah tantangan ekonomi, sosial dan politik menghadang dari dalam maupun luar negeri.

Memang, tak mudah bagi Presiden Jokowi mewujudkan cita-cita tersebut. Apalagi membangun manusia Indonesia yang tangguh di hari-hari ini dan mendatang pasca pembangunan infrastruktur fisik dan ekonomi yang masif pada saat instabilitas kondisi perekonomian global dan bencana yang datang bertubi-tubi hingga saat ini.

Namun, apapun yang terjadi, dengan mengoptimalkan segala sumber daya manusia dan alam, serta peluang untuk memperkuat daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga mewujudkan tata krama politik yang beradab dan beretika, Presiden Jokowi akan terus bergerak dan bekerja menyelesaikan sisa pemerintahannya satu tahun lagi.

Saat kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Jawa Tengah, Jumat (19/10/2018), Presiden Jokowi menyempatkan diri menjelaskan apa yang sudah dan akan dilakukannya kepada Pimpinan Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo.

Di sebuah restoran di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali, Jokowi memaparkan dengan hangat. Selama kurang lebih 48 menit, beberapa kali, Jokowi yang maju kembali sebagai calon Presiden banyak tersenyum dan tertawa lepas menanggapi sejumlah pertanyaan. Inilah sebagian wawancaranya.

Empat tahun Bapak memerintah, di antaranya ada event-event besar seperti Asian Games serta Pertemuan Tahunan IMF- Bank Dunia yang awalnya orang skeptis dan ragu, ternyata berjalan dengan sukses. Bahkan, pidato Bapak dapat disebut memakau dunia. Sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang ingin dicapai?

Jadi, kita ingin mendapatkan sebuah trust, kita ingin membangun kepercayaan dunia internasional terhadap negara kita, Indonesia, sehingga event-event besar itu, yang sejak awal kita rencanakan detail, berjalan baik. Ini masyarakat tidak tahu, detail-nya. Contoh Asian Games, kita dapat tamu atlet dan official kurang lebih 17.000 orang, bagaimana meng-handle transportasi, penginapan atlet, dan lainnya. Semua kita cek, hampir setiap minggu kita ikuti prosesnya. Prestasi atlet juga kita cek, latihan-latihan di luar dan dalam negeri. Berapa emas yang akan disumbangkan, semula 16 emas, ternyata malah tambah 20 dan akhirnya dapat 31 emas masuk rangking keempat padahal sebelumnya banyak yang ragu. Begitu juga Asian Paragames. Targetnya 16 dapatnya 37 sehingga rangking-nya ke-5. Penyelenggaraannya juga kita dapat pujian.

Kemudian IMF-World Bank Annual Meeting, sama. Itu juga sekian tahun kita siapkan. Tapi orang ramai (bicarakan) anggarannya. Katanya, habis Rp 560-an miliar. Ini perlu saya sampaikan bahwa uang itu dipakai untuk pembangunan, mulai dari perbaikan infrastruktur, seperti apron parkir pesawat, hingga jalan terowongan di Bali untuk atasi jalan macet. Awalnya, mereka menyampaikan 16.000 orang yang datang, ternyata 36.600 orang. Jadi, biayanya untuk itu, yang setelah even pun sarana itu juga tetap dapat kita pakai. Bukankah mereka (peserta) bayar sendiri untuk hotel, pesawat, dan lainnya. Inilah yang sering disalahpahami orang.

Karena belum tahu, sebagian orang jadi pesimis dengan hal itu?

Ya, kita ingin membawa masyarakat, membawa negara ini dalam optimisme, apapun tantangannya, apapun rintangannya. Karena memang (sekarang ini) tantangannya berat, tetapi kita harus maju dan membawa masyarakat, bangsa dan negara ini, kepada sebuah optimisme di masa datang.

Pidato Bapak Presiden di Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia memang memukau, karena winter is coming jadi pembicaraan media-media. Kenapa menggunakan analogi film itu?

Ya, itu metafora, itu simbolisme, itu analogi-analogi yang sebenarnya sederhana. Kita ingin meyampaikan secara sederhana dan ternyata bisa, pesan kita juga bisa sampai, dan bisa dipahami semuanya. Tujuannya itu saja. Tetapi pesan besarnya adalah bahwa persaingan tidak sehat antarnegara, kompetisi tidak sehat antaregara, perang dagang, proteksionisme, yang marak di negara-negara yang dulunya mengampanyekan ekonomi terbuka, keterbukaan ekonomi, keuangan terbuka, sekarang berbeda. Dengan pesan itu, kita ingin sampaikan rivalitas, dan bukan berkompetisi itu tidak sehat. Sekarang bagaimana membangun kolaborasi, kerjasama strategis antarnegara.

Pekerjaan rumah apa yang harus dikerjakan satu tahun ini?

Jadi kembali lagi ke membangun kepercayaan. Dengan kepercayaan itu, investasi akan melihat kita. Kemarin, Alhamdulillah untuk investasi kita mendapatkan Rp 200 triliun. Saya kira, ini riil dan konkret, dan saya sudah perintahkan para menteri segera menindaklanjutinya jadi realita sehingga dampaknya betul-betul ada dan bisa kita rasakan. Karena membangun sebuah kepercayaan, membangun market confidence itu tidak mudah.

Soal ekonomi Pak. Empat tahun Presiden memimpin, salah satunya pembangunan infrastruktur yang cukup massif dan dirasakan publik. Sudah cukup puaskah dengan pembangunan selama ini?

Kita ingin jangka menengah dan jangka panjang (berlangsung). Tumpuan pertumbuhan ekonomi yang didukung konsumsi akhirnya didukung oleh faktor produksi sehingga perlu yang namanya hilirisasi, perlu industrialisasi. Namun, untuk menuju ke sana, banyak syarat-syaratnya, seperti kesiapan infrastruktur, kemudahan perizinan, urusan yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dan lainnya. Semua pondasi itu, harus satu persatu kita persiapkan. Infrastruktur dulu, misalnya. Anggarannya juga meningkat. Mulai 2015 meloncat 87 persen dari sebelumnya. Tahun 2018, anggarannya naik jadi Rp 400 triliun.

Jadi, infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan, PLTU dan rel kereta api yang disiapkan ini terkait indek daya saing global kita agar semakin lama daya saing kita semakin baik. Pembangunan juga tidak hanya di Jawa saja tapi juga di luar Jawa, tidak Jawasentris tapi Indonesiasentris. Ini yang kita lakukan menuju hilirasi atau industrialisasi.

Jalan tol di Bandar Lampung, Lampung, yang sudah mulai digunakan setelah diresmikan, Jumat (23/3). Infrastruktur jalan tol diharapkan menunjang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Lampung yang masih jauh tertinggal.

Namun, ada yg mengkritik jalan tol misalnya, yang menikmati malah kelas menengah?

Tidak seperti itu (sebenarnya tujuannya), ini (infrastruktur) untuk semuanya karena efeknya jangan dilihat jalan tolnya saja. Jalan tol itu bisa untuk mendistribusikan logistik, mobilitas orang dan barang yang semakin cepat. Yang lewat jalan tol bukan hanya mobil pribadi tapi juga truk dan bus. Kalau jalan tol itu bisa diintegrasikan antara pelabuhan, dan airport, kita masuk dalam konektivitas menuju industrialisasi.

Bagaimana dengan jalan Trans Papua. Banyak orang mengkritik bahwa penduduk Papua sedikit, kenapa bapak Presiden membuka isolasi Papua?

Membangun infrastruktur ini bukan hanya urusan ekonomi, dan jangan hanya dihitung secara ekonomi saja. Pertama, pembangunan infrastruktur juga mempersatukan, konektivitas antarkabupaten, antarkota, antarprovinsi. Kita adalah negara besar. 17.000 pulau yang kita miliki, dan ada 514 kabupaten/kota, dan 34 provinsi. Kalau tidak ada konektivitas, (tidak) akan terhubung satu sama lainnya.

Kedua, kita sering hanya berhitung ekonomi terus. Kalau ingin ekonomi untung, return ekonominya cepat, return politiknya cepat. Kalau itu pertimbangannya, bangun saja di Jawa. Bangun superkoridor di Jawa sebelah utara. Selain mudah, juga (butuh) sedikit tenaga listriknya. Lalu, tambah pelabuhannya. Cukup kita bangun di situ saja. Tapi, itu bukan yang namanya pemerataan, itu bukan yang namanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Membangun negara bukan seperti mengelola bisnis atau membangun perusahaan. Mengurus negara, ada sisi keadilan sosialnya, ada sisi pemerataannya juga. Itulah yang harus kita hitung juga.

Satu isu ekonomi yang juga sering jadi sorotan adalah utang luar negeri. Sebagai kepala pemerintahan, bapak dianggap orang yang sering menerima pinjaman dan menambah utang. Bagaimana respons bapak?

Waktu kita dilantik, memang jangan sampai ada persepsi mengutang seperti itu. Tetapi, semua Presiden juga mengutang. Saya kira ini nggak ada masalah, asal ada kalkulasinya, dan tidak menabrak Undang-undang Keuangan Negara. Kedua, negara lain juga masih melakukan pinjaman. Tapi, yang lebih penting, pinjaman itu dipakai untuk hal-hal yang produktif dan menghasilkan income, misalnya membangun airport, itu ada income-nya. Juga membangun pelabuhan, ada incomenya juga tol.

Salah satu isu lain yang menimbulkan kekhawatiran publik adalah nilai rupiah yang menembus Rp 15.000. Bagaimana langkah Bapak sebagai otoritas pemerintah?

Ada dua hal. Pertama, memang ada di internal kita dan kedua dari eksternal dan semua negara sekarang ini mengalami hal yang sama, yaitu pelemahan nilai mata uang. Bahkan, beberapa negara malah pelemahannya jauh lebih besar lagi. Yang penting kita tetap waspada, tetap hati-hati, dengan catatan, satu pertumbuhan ekonomi tetap harus kita jaga dan saat ini kita masih pada posisi yang baik. Inflasi juga harus tetap kita. Yang ketiga, kehati-hatian kita mengelola fiscal. Penggunaan APBN harus betul-betul produktif. Yang keempat, dari sisi moneter juga harus merespons setiap perubahan ekonomi global. Saya kira, saat ini, Bank Indonesia juga sangat merespons cepat dengan membuat aturan-aturan, memberikan insentif-insentif mendorong investasi. Kita juga terus perbaiki neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan dan bagaimana mendorong produk-produk kita bisa diekspor dan membangun industrialisasi agar ada nilai tambah. Yang paling penting adalah dunia internasional terus mempercayai kita, ada market confident, dan masyarakat yang juga melihat usaha-usaha dan kerja keras kita.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pramuniaga melayani konsumen yang akan menukarkan uang di salah satu money changer di Jakarta

Soal BBM, sempat diumumkan akan naik harganya. Tapi kemudian dikoreksi. Apa yang terjadi sebenarnya sehingga ada koreksi?

Sebetulnya memang itu sudah diputuskan sebulan sebelumnya. Harga BBM harus naik, tapi begitu (dinaikkan) hari itu, ada angka-angka baru yang disajikan kepada saya terkait dengan daya beli dan inflasi sehingga akhirnya kita hitung kembali. Saya tanya ke Pertamina, kalau naik menjadi sekian, seperti yang akan kita putuskan kemarin, Pertamina dapat tambahan keuntungan berapa. Ternyata juga kecil sekali sehingga kita putuskan dibatalkan.

Terkait penanganan bencana di Lombok, NTB; Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah, serta daerah lainnya akibat gempa yang terjadi bertubi-tubi. Apa benar bapak memaksakan diri datang sebagai Presiden pada kesempatan pertama. Apa pesan yang Bapak ingin sampaikan sebenarnya?

Kita ingin memastikan bahwa negara hadir. Kemudian organisasi (tanggap dan penanganan bencana berjalan) di lapangan. Juga memberikan ketenangan kepada masyarakat bahwa pemerintah tidak diam.

Indonesia ini ‘kan negara yang dikepung berbagai bencana. Apa yang kita lakukan sebagai warga negara di tengah-tengah negeri seperti itu?

Yang pertama kita semuanya harus sadar bahwa kita berada di wilayah cincin api, yang setiap saat dan tidak bisa kita duga, kita ramal, gempa bisa terjadi, tsunami bisa terjadi. Oleh sebab itu, kesadaran itu yang harus kita miliki sehingga kesiapan manajemen bencana, kesiapan kita menghadapi bencana, harus cepat.

Kini soal penegakan hukum. Korupsi dari dulu hingga kini terus merajalela. Apakah Bapak Presiden punya resep jitu untuk setidaknya mengurangi korupsi di negeri ini?

Memang korupsi dari dulu marak sekali dan yang ditangkap juga semakin banyak. Bukan karena yang korupsi semakin banyak tapi karena keterbukaan. Menurut saya, kembali lagi, kuncinya bukan penangkapan tapi membangun system agar orang tidak bisa melakukan penyelewengan dan korupsi. Salah satunya, membangun e-budgeting, menyederhanakan sistem-sistem, sehingga misalnya orang minta izin tidak ruwet, mudah dan gampang. Karena keruwetan itu menimbulkan keinginan untuk membayar atau menyuap. Kalau sistem bisa dibangun dengan baik, saya yakin ini akan memagari kita dari korupsi. Penangkapan, kita harus melihat pengalaman selama ini, tidak membuat jera.

Bagaimana terkait kasus Novel Baswedan. Apa sebenarnya kesulitan polisi untuk mengungkap kasus ini?

Coba ditanyakan ke Kepala Kepolisian Negara RI, saya sudah perintahkanntuk menyelesaikan kasusnya. Dan kalau saya tanya apakah kasus tersebut masih bisa diselesaikan, dijawab masih. Ya, sudah diselesaikan. Masa sedikit-sedikit saya ambil alih kasusnya. ‘Kan ada institusi yang bertanggung jawab di situ.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO

Novel Basweda

Salah satu yang juga masih menjadi wabah terbesar adalah narkotika yang sudah menyentuh remaja dan semua profesi. Adakah langkah khusus yang diambil bapak untuk meminimalisasi dan memutus rantai narkotika di Indonesia?

Kita ini, kalau kita lihat polisi sudah sangat tegas sekali (terhadap jaringan narkoba), melawan sedikit langsung ditembak. Jaringan-jaringan internasional juga, kalau melawan langsung ditembak. Kerja sama dengan negara-negara lain dalam melawan narkoba juga sudah kita tanda tangani. Tetapi, sekali lagi, negara kita ini adalah negara kepulauan, masuk tidak lewat udara, tidak lewat laut, juga tidak lewat darat, tetapi bisa lewat manapun karena ribuan pintu kita. Itulah kesulitan terbesar kita tapi kita harus optimis tersebut harus bisa diselesaikan. Asal masyarakat juga ikut mengawasi dan memberi informasinya. Sekarang ini, narkoba jadi persoalan semua negara, termasuk negara-negara tetangga kita.

Kalau terorisme, yang terjadi apa akarnya?

Semua negara juga terjadi aksi tersebut. Karena memang, pertama, penyelesaian Palestina belum rampung. Kedua, penyelesaian Suriah juga belum selesai-selesai. Ketiga, yang berkaitan dengan moderasi kita. Bagaimana membangun sebuah moderasi yang baik, toleransi antaragama, membangun kerukunan antaragama, membangun persaudaran antaragama. Saya kira, proses-proses perdamaian dan terorisme akan memakan waktu yang lama. Tapi dari sisi penindakan, aparat kita sekarang ini sangat tegas. Dengan UU Antiterorisme yang baru, aparat memiliki keleluasan untuk bisa melakukan pencegahan. Pencegahan, munculnya aksi terorisme menurut saya, jauh lebih penting dengan berbagai upaya.

Sejauh mana konsolidasi politik yang dilakukan Presiden selama empat tahun terakhir ini?

Kalau melihat proses-proses politik, baik di DPR, maupun partai politik, saya kira empat tahun ini terkonsolidasikan dan dapat dikatakan tak pernah ada masalah. Kemudian, konsolidasi antara partai-partai pendukung juga tidak pernah ada masalah, juga dengan partai lainnya. Asal komunikasi dengan partai-partai juga baik sehingga ada masalah.

Tentang hoaks yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap Presiden. Misalnya, Bapak selalu dikaitkan dengan isu PKI. Bagaimana tanggapannya?

(Isu) Itu sudah ada sejak 2014. Dimulai dari (tabloid) Obor Rakyat. Kemudian diperkuat lagi oleh (situs) Saracen. Tapi, sering saya sampaikan di pesantren dan saat bertemu masyarakat. PKI itu dibubarkan 1965-1966. Saya lahir 1961. Artinya, umur saya baru empat tahun. Masa menuding Presiden Jokowi itu PKI, masak ada aktivis PKI balita (di bawah lima tahun). Banyak yang baru sadar, lalu isu ganti ke orang tua dan juga ke kakek-nenek saya. Ya, dicek saja. Sekarang ‘kan jaman keterbukaan. Misalnya, (dicek) di lingkungan kampung saya di Solo, atau di masjid dekat rumah saya, dekat (rumah) orangtua saya, atau dekat (rumah) kakek-nenek saya. Di tanyakan di situ saja. Apalagi di Solo, banyak organisasi (masyarakat), semuanya ada. Dicek saja. Tapi, perlu saya sampaikan, saya Muslim. Bapak-ibu saya, muslim. Keluarga besar saya, Muslim. Kakek-nenek saya, muslim semuanya. Tetapi, saya dibilang juga anti Islam.

Isu itu dihembuskan untuk kepentingan politik jelang Pemilu Presiden 2019?

Itulah politik yang tidak beretika. Tata krama politik kita sekarang ini memang rusak oleh fitnah, oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab, sehingga yang muncul hal-hal seperti itu. Menyerang dengan cara-cara hoaks, fitnah, menghujat. Saya kira etika dan tata krama kita, bukan seperti itu.

Pak Presiden ‘kan punya otoritas. Tidak punya keinginan mengambil langka hukum terhadap mereka yang menyebarkan hoaks dan fitnah seperti itu?

Nanti kalau saya kejar, bisa sampai ratusan ribu orang yang akan kena (masalah).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Kaos sebagai sarana kampanye antihoaks atau berita bohong dikenakan jajaran pejabat Polda Metro Jaya saat mendeklarasikan gerakan antihoaks di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/3/2018). Deklarasi ini sebagai upaya dan komitmen kepolisian agar masyarakat terbebas dari berita bohong yang dinilai bisa memecah persatuan bangsa.

Lalu akan dilawan dengan apa?

Hukum yang harus berjalan. Hukum yang harus ditegakkan. Tapi kalau saya sedikit-sedikit lapor, ratusan ribu orang bias bermasalah.

Bagaimana dengan isu antek aseng, atau antek asing?

Itu juga sangat lucu sekali. Antek aseng yang seperti apa? Sekarang kita coba lihat. Blok Mahakam yang dulunya 100 persen dikelola Perancis dan Jepang, sekarang saya serahkan 100 persen ke Pertamina. Juga blok yang dimiliki Chevron. Terakhir Freeport. Dulu waktu head of agreement, orang rame. Apa yang baru? Ini, ‘kan memang baru awal. Prosesnya begitu. Sekarang sudah tanda tangan sales and purchase agreement. Artinya, sudah selesai, tinggal proses pembayaran. Sudah rampung. Masak antek asing seperti itu.

Apakah isu ini juga sebuah konstruksi untuk kepentingan politik?

Untuk kepentingan politik tapi dengan cara-caranya yang tidak beradab, dan tidak beretika. Cara-cara sesaat yang tidak mendidik masyarakat, yang tidak mendewasakan masyarakat. Harusnya elit-elit politik harus bisa mengedukasi masyarakat dengan sebuah etika politik beradab. Memberikan contoh-contoh yang baik sehingga masyarakat semakin dewasa dan matang dalam berpolitik.

Dan, Bapak Presiden tidak mengambil langkah apapun terhadap itu?

Sekali lagi, kalau langkah-langkah hukum saya lakukan, akan ratusan ribu orang yang terkena masalah hukum.

Bapak sering berkomunikasi dengan millenial dengan cara nge-vlog. Sebetulnya apa maksudnya?

Cara berkomunikasi bisa macam-macam. Bisa ketemu rakyat di pasar, di jalan, dan di mal. Dan, kalau dengan anak-anak muda, kita mesti ngertilah apa yang mereka lakukan, apa yang mereka senangi. Misalnya, naik motor bersama dengan anak-anak muda. Kemudian bikin vlog. Saya kira cara komunikasi itu yang paling efektif sekarang. Kalau kita masih pakai cara-cara jadul, nggak ada yang nyambung dengan mereka. Saya kira kita harus ngerti e-sport, kita harus bisa main Mobile Legends. Kalau nggak, kita tidak bisa sambung dengan mereka.

Berarti harus multilevel komunikasi dengan millenal dan rakyat biasa?

Komunikasi bisa dengan yang di desa tapi juga dengan yang di kota. Bisa komunikasi dengan yang tua tetapi juga dengan yang muda.

Pertanyaan terakhir, bagaimana dengan olah raga tinju yang Bapak ikuti. Bagaimana ceritanya?

Kalau tinju kita ingin cari keringat saja. Saya tanya ke pelatih, olah raga apa sih yang paling cepat mengeluarkan keringat. Jawabannya tinju. Ya, sudah saya latihan tinju. Bukan untuk menjadi petinju. (Sekadar) Ingin agar sehat dan keluar keringat yang banyak. Karena sebelumnya ‘kan saya banyak di sepeda dan jogging, memang keringatnya tidak terlalu banyak. (Ikut) Memanah (Keringat)-nya juga sedang. Memang setiap olah raga memiliki manfaat yang berbeda-beda. (NTA/LAS/INA/HAR/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply