LIGA NASIONAL EROPA: Tim ”Oranye” Sambut Fajar Baru

Skuad tim nasional Belanda, seperti Georginio Wijnaldum, Ryan Babel, Arnaut Groeneveld, dan Quincy Promes, meninggalkan lapangan di Amsterdam Arena sambil membalas tepuk tangan penonton setelah skuad ”Oranye” mengalahkan Jerman, 3-0, pada laga Grup 1 Liga Nasional Eropa A, Minggu (14/10/2018) dini hari WIB. (Sumber: Kompas/REUTERS/PIROSCHKA)

Timnas sepak bola Belanda memiliki masa depan cerah setelah menggilas Jerman, 3-0, pada pertandingan Liga Nasional Eropa. Sebaliknya, kekalahan bersejarah itu menjadi tekanan ekstra bagi Pelatih Jerman Joachim Loew.

Amsterdam, Baranews.co – Setelah menanti sekian lama, tim nasional sepak bola Belanda akhirnya menyambut era renaisans bersama Pelatih Ronald Koeman.

Optimisme itu muncul setelah pasukan muda ”Oranye” menggunduli Jerman, 3-0, pada laga Grup 1 Liga Nasional Eropa A, Minggu (14/10/2018) dini hari WIB.

Laga di Arena Johan Cruijff, Amsterdam, itu semestinya menjadi hari yang spesial bagi Pelatih Jerman Joachim Loew. Hari itu, Loew resmi menjadi Pelatih Jerman terlama, yaitu total 168 laga sejak 2006.

Namun, pengalaman dan durasi melatih yang panjang tidak lantas menjadikan Loew istimewa di laga itu. Nama besar serta kemapanan Jerman dihancurkan militansi dan kecepatan serangan anak-anak muda Belanda.

Jerman boleh saja mendominasi jalannya laga dan lebih sering menguasai bola, yaitu hingga 60 persen. Namun, dari segi efektivitas serangan, Oranye jauh lebih unggul. Belanda menghabisi Jerman dengan gaya mematikan, persis seperti empat tahun silam pada Piala Dunia Brasil 2014.

Seperti halnya ketika melumat Spanyol, 5-1, di Brasil, permainan Oranye di Arena Johan Cruijff bertumpu pada kesabaran bertahan dan kecepatan transisi dari bertahan ke menyerang. Memphis Depay, penyerang yang kini seolah terlahir kembali, ibarat reinkarnasi Arjen Robben.

Kecepatannya dalam serangan balik menjadi momok bagi bek-bek ”Der Panzer”, terbukti oleh golnya pada menit ke-86.

Adapun Giorginio Wijnaldum, gelandang yang bersinar bersama Liverpool, mengingatkan publik Belanda akan Wesley Sneijder pada masa mudanya.

Wijnaldum merangsek dari tengah dan mengecoh dua bek Jerman dengan lari dribel sebelum mencetak gol pada menit terakhir laga tersebut.

Kemenangan telak itu menjadi modal kepercayaan diri Belanda, tim yang sempat terseok-seok dan kehilangan jati dirinya dalam empat tahun terakhir setelah ditinggal pelatih Louis van Gaal. Untuk kali pertama dalam 16 tahun, mereka bisa membekap Jerman. Istimewanya, skor 3-0 itu juga menjadi kemenangan terbesar Oranye atas Jerman sepanjang sejarah.

”Kami bisa bangga dengan diri sendiri karena telah menunjukkan mampu menampilkan sepak bola bagus. Dari sini saya dapat melihat masa depan yang cerah untuk sepak bola Belanda.

Semua orang, baik itu pemain, staf, maupun seluruh warga Belanda sangat membutuhkan ini,” ungkap Koeman seusai laga itu.

Mantan pelatih klub Everton itu meyakini, skuad Belanda saat ini—yang usia pemainnya rata- rata 25,6 tahun—bakal membuahkan prestasi dalam empat hingga lima tahun ke depan. ”Anda akan melihat tim yang semakin lebih baik,” ujarnya.

Ditempa ”periode gelap” empat tahun terakhir, Oranye kini mulai terlihat solid sejak dari lini belakang. Garis pertahanan mereka yang terbaik dan termahal sejagat saat ini berkat kian matangnya bek-bek muda, seperti Virgil van Dijk, Matthijs de Ligt, Nathan Ake, dan Stefan de Vrij.

Membangun tim dari lini belakang ini persis yang dilakukan Van Gaal pada Piala Dunia 2014. Menariknya, filosofi permainan di tim Oranye itu ia kembangkan karena terinspirasi taktik Koeman saat melatih Feyenoord.

Sebelum tampil di Brasil, Van Gaal sempat dikritik, antara lain oleh Cruijff, karena pola permainan timnya dianggap berlawanan dengan ciri khas Belanda, yaitu total football. Namun, Van Gaal maju tak gentar.

Ia berdalih, pola vertikal yang mengandalkan serangan balik cepat itu pas dengan sumber daya pemain Oranye saat itu yang tidak memiliki gelandang kreatif nan flamboyan, seperti Cruijff, Ruud Gullit, atau Frank Rijkaard, yang dapat lama menahan bola di tengah.

Setelah Van Gaal mundur demi melatih Manchester United, Oranye seperti tersesat. Penerusnya, Guus Hiddink dan Danny Blind, membuang sistem warisan Van Gaal dan ingin menghidupkan lagi total football atau setidaknya gaya penguasaan bola.

Namun, ambisi besar itu justru menjadi bumerang. Belanda seperti zombie yang tidak punya roh bermain khas, dan efeknya gagal tampil di Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

Setelah empat tahun tersesat, Belanda kini kembali ke pelukan Koeman, murid Cruijff yang belajar banyak ilmu sepak bola di Eropa. Hasilnya, dari tujuh laga kandang, mereka menang enam kali, termasuk atas Jerman.

Mereka kini di peringkat kedua Grup 1 Liga Nasional Eropa A. Mereka hanya terpaut satu poin dari pemuncak grup sekaligus juara dunia, Perancis.

Mayat hidup

Jika Belanda kini menatap era cerah baru bersama Koeman, kubu Jerman dinilai harus segera berpisah dengan pelatihnya, Loew. Desakan itu kian menguat setelah kekalahan telak dari Belanda.

Der Panzer saat ini menjadi juru kunci di Grup 1 dan hanya bisa tiga kali menang dari total sepuluh laga tahun ini.

Deutsche Welle (DW), media ternama di Jerman, menganggap Loew ibarat sosok mayat hidup. ”Perjalanan menuju ke Paris (kontra Perancis, 17/10) akan terasa ibarat menghadapi pemakamannya sendiri. Para pemain telah menua dan tak ada gairah, tetapi tetap dipaksakan tampil oleh Loew,” tulis DW. (AFP/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply