Lima Warga Filipina Tuntut Terpidana Paedofil Asal Inggris

Selama berada di Filipina, Douglas Slade tinggal di perkampungan miskin. (Sumber: BBC Indonesia/PA/KEPOLISIAN AVON DAN SOMERSET)

Dalam kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya, lima pria Filipina menuntut ganti rugi kepada seorang terpidana paedofil Inggris, Douglas Slade. Dia dituding melakukan eksploitasi ketika mereka masih anak-anak.

Manila, Baranews.co – Empat pemuda dan seorang anak laki-laki mengajukan tuntutan ganti rugi di Pengadilan Tinggi London. Mereka mulai memberikan kesaksian dari Manila melalui sambungan video dalam sidang hari pertama (9/10).

Slade juga ditampilkan di pengadilan melalui saluran video dari Penjara Albany di pulau kecil Isle of Wight, Inggris, tempat ia menjalani hukuman selama 24 tahun dalam kasus kejahatan seksual anak yang ia lakukan di Inggris.

Dalam kesaksian, mereka membeberkan tuduhan perundungan yang dilakukan oleh Douglas Slade antara tahun 1965 hingga 1980 ketika warga negara Inggris itu tinggal di Filipina.

Mereka menuntut Slade atas “luka-luka pribadi akibat dari serangan seksual”. Terduga korban termuda pada saat itu berusia 10 tahun.

Slade menyatakan tuduhan itu “rekayasa belaka”.

Hakim mengatakan Slade “sama sekali tidak menyesali” perbuatannya yang dilakukan selama periode 1965 dan 1980.

Slade tercatat sebagai salah satu pendiri Paedophile Information Exchange, organisasi yang mengkampanyekan agar hubungan seksual antara anak-anak dan orang dewasa dilegalkan pada tahun 1970-an dan 1980-an.

‘Orang-orang menghindari saya’

Kasus ini diyakini sebagai kasus pertama yang melibatkan terduga korban warga negara asing atas kejahatan di luar Inggris yang menempuh jalur hukum terhadap warga negara Inggris di negara ini.

Slade berpindah ke Filipina tahun 1985, membeli rumah di lingkungan permukiman yang miskin. Sejumlah warga mengatakan ia membujuk anak-anak untuk masuk ke rumahnya dan mengeksploitasi mereka secara seksual.

Ia tinggal di Filipina selama 30 tahun. Meskipun pihak berwenang beberapa kali melakukan penyelidikan, ia tidak pernah berhasil diadili di sana.

Salah satu terduga korban mengatakan kepada BBC bahwa ia berkali-kali diserang oleh Slade dan mengatakan: “Banyak orang menghindari saya dan mengira saya membawa penyakit karena apa yang telah saya lakukan. Saya diejek. Saya terlalu malu untuk keluar dari rumah.”

‘Bukan tidak terjangkau’

Ayah dari salah seorang dari mereka yang menuntut Slade menyerukan kepada para terduga korban dan keluarga mereka untuk “memperjuangkan hak-hak mereka”.

Ditambahkannya: “Mereka seharusnya seperti kita, kami tidak dibutakan oleh uang, kami memperjuangkannya karena kami memperjuangkan hak-hak anak-anak kami.”

Douglas Slade PREDA.ORG
Douglas Slade diekstradisi dari Filipina ke Inggris tahun 2015. Ia dinyatakan bersalah tahun 2016.

Alan Collins, pengacara mereka, mengatakan mereka yang bepergian ke luar negeri untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak dan orang-orang muda perlu memahami bahwa “mereka tidak akan lepas dari jangkauan”.

Pastor Shay Cullen, yang turut berperan dalam membantu upaya ekstradisi Slade dari Filipina ke Inggris, menghendaki agar kasus ini menjadi peringatan kepada mereka yang keluar negeri untuk melakukan apa yang diduga telah dilakukan oleh Douglas Slade.

Pastor Cullen, yang menjalankan organisasi bernama Preda untuk membantu anak-anak yang rentan di Filipina itu, mengatakan: “Kami akan mengejar mereka kapan pun mungkin dan kami akan terus memburu dan menangkap mereka di Filipina dan di mana pun mereka berada, kami akan mengejar mereka dengan langkah hukum.

“Ini adalah kejahatan yang keji dan anak-anak terus menderita sepanjang hidup mereka,” ujarnya.

Sidang kasus tuntutan kerugian yang diajukan oleh lima warga negara Filipina di Pengadilan Tinggi London itu diperkirakan akan berlangsung selama tiga hari. (BBC News Indonesia/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*