Terobosan Teknologi untuk Sistem Peringatan Dini Terjadinya Serangan Jantung

ARSIP – Foto yang diambil tanggal 9 Januari 2013 menampilkan seorang teknisi CT Scan yang sedang mempersiapkan penanganan seorang pasien di Pusat IGD Silver Cross di Homer Glenn, Illinois (Sumber: VOA Indonesia/AP Photo/M. Spencer Green, Arsip)

Baranews.co – Sebuah metode baru mampu menganilisis citra yang dihasilkan alat CT scans untuk para pasien yang berisiko terkena serangan jantung jauh sebelum serangan jantung terjadi, ujar para peneliti.

Teknologi tersebut dirancang oleh tim di Universitas Oxford dan institusi-institusi di Jerman dan Amerika Serikat, dengan menggunakan algoritma untuk mengkaji tumpukan lemak yang mengelilingi arteri koroner yang ditampilkan oleh Computed Tomography (CT) pada scan jantung.

Lemak tersebut berubah saat arteri mengalami peradangan, dan dipercaya oleh para peneliti sebagai peringatan awal sistem akan adanya 30 persen peluang terjadinya serangan jantung.

Kebanyakan serangan jantung disebabkan oleh endapan plak lemak di dalam arteri yang menganggu jalannya aliran darah.

Saat ini, CT scan memberi tahu dokter saat arteri mengalami penyempitan akibat endapan lemak.

Dengan teknologi yang baru, dimana para peneliti berharap mendapatkan persetujuan dari regulator baik di benua Amerika maupun Eropa, dokter dapat memberi tahu arteri mana yang berisiko mengalami penyempitan.

“(Kami) dapat mengatakan.. arteri anda mengalami peradangan penyempitan akan terjadi dalam jangka 5 tahun ke depan. Jadi mungkin anda dapat melakukan tindakan pencegahan terjadinya timbunan plak,” kata Antoniades.

Serangan jantung dan stroke adalah dua penyakit terbesar penyebab kematian.

“Walaupun kami tidak dapat memperkirakan jumlah serangan jantung yang dapat kami cegah, setidaknya potensi kemampuan identifikasi berkisar antara 20 atau 30 persen pasien sebelum mereka mengidap penyakit tersebut,” kata Antoniades.

Perusahaan independen yang dibentuk Universitas Oxford saat ini sedang merancang untuk menganalisa hasil CT scan dari berbagai belahan dunia dalam 24 jam.

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada akhir Agustus pada jurnal kedokteran, The Lancet. [vp/ww]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply