GEMPA-TSUNAMI SULTENG: Mendesak, Pemetaan Jalur Sesar sebagai Langkah Mitigasi

Ratusan rumah di Petobo, Palu Selatan, terendam lumpur akibat fenomena likuifaksi (Sumber: VOA/Yoanes).

Jakarta, Baranews.co – Hingga Senin (1/10/2018) pukul 14.00 WIB, atau tiga  hari setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 di Donggala dan Palu,  tercatat sudah 290 gempa susulan. Rentetan gempa bumi dengan magnitudo besar bisa menyebabkan likuifaksi (tanah bergerak). Oleh karena itu, ke depan perlu pemetaan jalur Sesar Palu-Koro, sebagai langkah awal mitigasi gempa. Tidak cukup   di Sulawesi Tengah, namun juga pemetaan di  seluruh jalur sesar di Indonesia.

Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Iman Fatchurochman mengatakan, berdasarkan pemantauan  pada Senin, terjadi enam  gempa susulan.

Menurut Iman, rentetan gempa bumi memunculkan fenomena likuifaksi. Fenomena ini membuat tanah bergerak yang mengakibatkan bangunan dan pohon ikut terseret. Likuifaksi sudah terjadi di beberapa daerah seperti di Kelurahan Petobo; Kota Palu; Jalan Dewi Sartika, Palu Selatan; dan  Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Sigi.

Sesuai  laporan dari BNPB, akibat likuifaksi itu,  kota Palu tertimbun lumpur hitam setinggi lima meter. Di  Patobo, Biromaru, Jono Oge dan Sidera banyak korban terendam lumpur sedalam tiga meter.

Fenomena likuifaksi  di Perumnas Balaroa berjarak kurang lebih 2,6 km dari jalur Sesar Palu-Koro dan mengakibatkan lebih kurang 1.747 unit rumah rusak. Sedangkan di Perumnas Petobo, jarak dari jalur Sesar Palu-Koro berkisar 1 km, dan mengakibatkan sekitar 744 unit rumah rusak.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo PuRwo Nugroho, belum mengetahui secara pasti korban akibat  likuifaksi. Fenomena ini  sering terjadi pada tanah berpasir yang jenuh dan longgar, atau berkepadataan rendah. Pasir cenderung memampat saat mendapat beban gempa yang tiba-tiba, lalu melonggar atau melebar setelah gempa, seolah-olah mengisap bangunan di atasnya. (Kompas, 1/10/2018).

Iman menuturkan, likuifaksi terjadi karena kekuatan tanah berkurang akibat gempa. Jika guncangan terjadi berkali-kali,  tanah kehilangan daya ikat. “Rentetan gempa di Sulawesi tengah membuat tanah menjadi lemah, sifat tanah yang padat menjadi cair sehingga tanah tidak kuat menahan bangunan,” katanya. (Aguido Adri)/ADI PRINANTYO/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*