GEMPA DONGGALA DAN PALU: Waspadai Tetanus dan Infeksi di Lokasi Gempa

Batang-batang pohon yang terseret air pascagempa di Desa Kaboboma, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Senin (1/10/2018). Batang-batang tersebut terbawa dari tiga desa di atasnya yaitu Desa Sidera, Jonoge, dan Lanaleso. (Sumber: KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Relawan yang hendak terjun ke lokasi gempa perlu melengkapi diri dengan alat pelindung, termasuk sarung tangan,  masker, dan krim oles antinyamuk. Sejumlah penyakit berpotensi muncul.

Jakarta, Baranews.co –  Masyarakat di lokasi gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, diingatkan mewaspadai penyakit tetanus dan infeksi saluran pernapasan akut. Kebersihan lingkungan dan kebersihan tubuh korban perlu dijaga.

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan, korban gempa berpotensi terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan. Luka tersebut jika tidak segera ditangani dengan baik berisiko tetanus. “Kami sudah bekerja sama dengan PT Bio Farma untuk mengirim antitetanus serum ke Palu,” ujar Nila, Senin (1/10/2018) di Jakarta, seusai pelaksanaan Apel Siaga Persiapan Asian Para Games 2018.

Nila mengingatkan, agar luka di tubuh korban gempa dijaga kebersihannya. Luka tersebut sebaiknya terhindar dari debu dan kotoran lain. Terhadap korban gempa yang dirawat di rumah sakit, pihak keluarga diimbau senantiasa memperhatikan kebersihan lukanya.

Selain itu, penyakit yang perlu diwaspadai adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penyakit tersebut kerap diderita pengungsi. “Sama seperti korban gempa di Lombok, ISPA diderita karena tidur di tenda. Para korban kan lelah. Faktor kebersihan lingkungan ikut menentukan kondisinya,” ujar Nila.

SUCIPTO UNTUK KOMPAS

Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, saat mengecek ambulan yang akan digunakan untuk bantuan kesehatan atlet Asian Para Games 2018, Senin (1/10/2018) di Jakarta.

Menurut Menkes, selama selama proses pendirian tempat pengungsian terus dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait, korban gempa diharapkan tetap menjaga kebersihan diri. ISPA berasal dari virus dan bakteri yang masuk melalui hidung atau mulut. “Kami sudah berkoordinasi agar pusat layanan kesehatan ditata kembali supaya penyakit-penyakit itu bisa diantisipasi,” kata Nila.

Relawan

Masyarakat yang ingin berangkat ke Palu dan Donggala sebagai relawan pun diharapkan membawa perlengkapan pribadi yang memadai, termasuk masker, sarung tangan, dan antiseptik. Beberapa hari pasca gempa-tsunami, lazim terjadi penyebaran virus dan bakteri dari jenazah dan bangkai hewan melalui berbagai medium.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes, Bambang Wibowo, mengatakan obat-obatan pribadi harus dibawa oleh relawan. Itu penting agar ketika penyakit pribadi relawan kambuh, bisa langsung ditangani dengan obat yang biasa digunakan.

“Perbekalan sehari-hari untuk tidur seperti tenda dan sleeping bag harap juga dibawa,” ujarnya.

Perbekalan tersebut perlu karena kebutuhan kasur dan tenda untuk korban gempa masih minim. Relawan juga perlu membawa obat krim oles antinyamuk agar tidak tergigit nyamuk yang berpotensi membawa penyakit menular.

Pengungsi ke Makassar

Sementara itu, pengungsi dampak gempa Palu dan Donggala, terus mengalir ke Makassar, Sulawesi Selatan. Langkah antisipasi lonjakan jumlah pengungsi pun disiapkan.

Hingga Senin (1/10/2018) sore, 22 orang korban luka masih dirawat di RSUP DR Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Kasubag Humas dan Pemasaran RS dr Wahidin Sudirohusodo Nur Adzan mengatakan, semua korban dalam kondisi baik. Korban yang menjalani operasi juga telah melewati fase krisis.

“Yang dioperasi ada tiga orang, termasuk seorang ibu yang hamil sembilan bulan,” ujarnya. Pihaknya juga menggelar donor darah. Terkumpul 100 kantong darah dari donor. Darah itu siap ditransfusikan bagi korban yang membutuhkan.

Pihak rumah sakit terus bersiaga 24 jam jika sewaktu-waktu pengungsi bertambah. “Penanganan akan fokus pada kasus darurat dan memastikan korban mendapatkan perawatan sehingga bisa selamat,” ujarnya.

Pada Senin subuh, Sandra (46), korban gempa, meninggal dunia saat dirawat. Ia mengalami cedera kepala. Korban mengalami penurunan kesadaran saat berada di atas pesawat Hercules yang membawanya ke Makassar. Korban gempa dirujuk ke Makassar karena fasilitas seperti listrik dan tenaga medis di Palu terbatas.

“Kami sudah berupaya menyelamatkan korban. Namun, kepalanya mengalami cedera yang berat,” ujar Direktur Pelayanan Medik dan Perawatan RS Wahidin Sudirohusodo Mansyur Amin.

Korban gempa yang tidak terluka mengungsi di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Hingga Senin sore, di tempat itu tertampung 34 orang pengungsi. Jumlah ini meningkat dibandingkan hari Minggu, yakni 7 pengungsi. Menurut Mustari, dari Relawan Indonesia, kemungkinan jumlah pengungsi akan terus bertambah. Polisi dan tentara turut mengawal.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik yang rusak pasca gempa di Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Senin (1/10/2018). Hingga saat ini jaringan listrik masih belum berfungsi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran persnya, mengatakan, sedikitnya 632 orang mengalami luka berat dan dirawat di rumah sakit. Untuk itu, sebanyak 216 personil PLN masih memperbaiki gardu induk dan jaringan listrik agar tindakan medis yang membutuhkan listrik bisa cepat dilakukan.

“Sebanyak 8 genset dari PLN telah diterbangkan dengan pesawat Herkules TNI AU pada Senin pagi untuk disebar di Pokso Palu dan Donggala,” kata Sutopo.

Ia mengatakan, pengadaan BBM dan genset diprioritaskan untuk kebutuhan rumah sakit di Palu dan Donggala. Pasokan BBM dikirim dari Poso, Moutong, Toli-Toli, dan Pare-Pare. Sebanyak 10 mobil tanki BBM dari Pare-Pare telah tiba di Kota Palu Senin pagi. Menurut data yang dihimpun BNPB, di hari yang sama Pertamina menerbangkan 4.000 liter solar ke Palu.

Pemakaman massal

Jenazah korban gempa dan tsunami menumpuk di rumah sakit. Nila mengatakan, ia sudah berkoordinasi dengan Panglima TNI untuk mempersiapkan pemakaman massal. Ia takut jenazah yang ditumpuk di rumah sakit bisa menyebabkan bau dan mencemari korban yang dirawat.

“Panglima mengatakan ada kuburan massal,” katanya.

 

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO

Sutopo Purwo Nugroho

Sementara itu, Sutopo mengatakan pemakaman massal sudah dilakukan mulai Senin siang di TPU Paboya, Palu. Jenazah yang dimakamkan sudah diidentifikasi cepat dengan difoto wajah dan ciri-ciri tubuh korban.

“Sudah disiapkan 1.000 kantong mayat, penggalian sudah dilakukan dan prosesi pemakaman sesuai dengan yang lazim dilakukan,” ujar Sutopo. (SUCIPTO/IKI/JAL)/NASRULLAH NARA/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply