GEMPA Dan TSUNAMI PALU – Presiden: Evakuasi Paling Penting

Petugas Basarnas mengevakuasi Fitri Lonikaria (25), warga Lampung yang terjebak di reruntuhan Hotel Roa Roa, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018) malam. Fitri bertahan sejak Jumat sore lalu saat gempa besar mengguncang Palu dan Donggala. Basarnas berhasil mengevakuasi sembilan orang dari reruntuhan hotel ini, dua orang di antaranya selamat. Diperkirakan masih banyak korban yang tertimbun. Petugas kesulitan mengevakuasi korban karena ketiadaan alat berat. (Sumber: KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala menyisakan kerusakan sangat berat pada bangunan dan infrastruktur. Kondisi itu menyebabkan aktivitas di banyak lokasi lumpuh.

Palu, Baranews.co –  Presiden Joko Widodo menegaskan, upaya penanganan kondisi darurat bencana gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, harus dilakukan secepat-cepatnya. Evakuasi para korban menjadi prioritas paling penting saat ini.

”Setelah kita melihat di lapangan secara langsung kondisi riil yang ada, memang semuanya dalam keadaan darurat. Yang pertama yang paling penting tadi saya tekankan kepada semua kementerian, TNI, Polri, juga Gubernur agar penanganan pertama adalah yang berkaitan dengan evakuasi,” kata Presiden di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu, Minggu (30/9/2018).

Berdasarkan pantauan tim Kompas di Palu dan Donggala, Minggu kemarin, dampak gempa dan tsunami yang berpusat di Kabupaten Donggala menyisakan kerusakan sangat berat pada bangunan dan infrastruktur. Kondisi itu menyebabkan aktivitas di banyak lokasi lumpuh.

Dari penyisiran wilayah pesisir barat Sulawesi dari Mamuju, Sulawesi Barat, hingga Palu sepanjang Sabtu-Minggu, dampak gempa itu luas dan masif. Sejumlah kerusakan parah, seperti rumah yang ambruk, terlihat sejak memasuki wilayah Pasangkayu di Mamuju Utara.

Kerusakan rumah warga kian banyak dan meluas saat memasuki wilayah yang berbatasan dengan Donggala, yakni Kecamatan Sarjo dan Bambaira. Saat masuk Donggala, titik longsor yang menutup separuh badan jalan terlihat di Desa Tosale, Kecamatan Banawa Selatan. Ada pula jalan retak panjang akibat guncangan gempa di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah.

Dampak yang sangat memprihatinkan terlihat di daerah Loli, Kecamatan Banawa, Donggala. Permukiman warga di bibir Teluk Palu itu rata dengan tanah serta menyisakan puing dan sampah setelah diterjang tsunami.

Berdasarkan kesaksian beberapa warga, gempa yang terjadi pada Jumat itu memicu tsunami hingga setinggi 6-7 meter.

”Saya melihat sendiri saat tsunami itu menerjang pantai. Tingginya melampaui tinggi tiang listrik,” ujar Agus Nundi (42), warga Loli.

Selain rumah yang hancur total, puluhan mobil ringsek tak berbentuk lagi di pesisir. Pohon-pohon yang tumbang pun berserakan di jalan.

Memasuki Kota Palu, kerusakan terpantau kian parah. Banyak bangunan yang rusak total, di antaranya RS Anutapura, Mal Tatura, Hotel Roa Roa, Hotel De Sha, Kantor TVRI Sulteng, Palu Golden Hotel, dan Anjungan Pantai Talise. Selain itu, hampir semua bangunan di sekitar Pantai Talise rata tersapu tsunami.

Ratusan rumah di kawasan Petobo dan Perumnas Balaroa ambles dan tergulung tanah yang bergerak. Di bangunan-bangunan yang rusak total ini, diduga ratusan warga tertimbun. Hingga Minggu malam, evakuasi masih sulit dilakukan karena keterbatasan alat berat.

Minggu malam, Kota Palu juga masih gelap gulita karena aliran listrik belum pulih. Sejumlah ruas jalan tak dapat dilintasi, baik karena badan jalan yang putus maupun terhalang tiang listrik atau pohon roboh. Antrean panjang warga juga terlihat di SPBU-SPBU di Palu.

Terisolasi di Sigi

Di Kabupaten Sigi, gempa menyebabkan setidaknya tujuh kecamatan terisolasi karena akses jalan tertutup longsor dan reruntuhan bangunan. Banyak korban diduga masih tertimbun.

”Kecamatan yang terisolasi adalah Lindu, Kulawi, Kulawi Selatan, Dolo Barat, Dolo Selatan, Gumbasa, dan Salua. Masih banyak juga rumah ambruk dan korban yang belum dievakuasi. Kami perlu bantuan bahan makanan, tenda, obat-obatan, dan pakaian, serta alat berat,” kata Bupati Sigi Irwan Lapata.

Kepala Dinas Kesehatan Sulteng Reny Lamajido telah mengerahkan 400 tenaga medis untuk menangani korban luka. Selain dari Sulteng, bantuan tenaga medis juga datang dari Makassar dan Tolitoli. Perawatan korban di antaranya dipusatkan di RS Undata, Palu.

”Saat ini kami membutuhkan bantuan stok obat dasar sebanyak-banyaknya karena sampai hari ini (Minggu) masih banyak pasien yang berdatangan ke RS Undata,” ujar Reny.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, pemerintah pusat memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana.

Masalah yang mendesak diselesaikan antara lain pemakaman korban dan evakuasi karena masih banyak korban terjebak di bawah reruntuhan.

Tenda untuk pengungsi dan dapur umum, ujar Wiranto, juga dibutuhkan. Menurut dia, tenda dan dapur umum masih dalam proses pengiriman. ”Masalah yang utama adalah listrik. Dijanjikan pembangkit yang rusak akan diganti. Gardu mobile segera dikirim,” ujarnya.

Presiden menuju Palu menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara dari Solo, Jawa Tengah. Setiba di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Presiden langsung memimpin rapat koordinasi dengan sejumlah menteri dan pejabat tinggi. Mereka di antaranya Wiranto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei, dan Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi.

Seusai rapat, Presiden meninjau sejumlah lokasi bencana, antara lain permukiman warga di Balaroa, Kecamatan Palu Barat, salah satu kawasan yang paling berat terdampak.

Setelah menemui warga dan membagikan bantuan, Jokowi menuju kawasan Pantai Talise yang porak poranda diterjang tsunami.

Presiden juga menemui para korban luka yang dirawat di tenda-tenda darurat di halaman RSUD Undata. Jokowi juga menemui masyarakat yang memadati SPBU untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Jalan Sisingamangaraja dan memberi bantuan bahan pokok kepada pengungsi di pengungsian Taman Vatulemo, Kota Palu.

”Menteri PUPR sudah mengerahkan alat berat dari Mamuju, Gorontalo, dan Poso. Malam ini datang sehingga besok pagi (Senin pagi) mulai evakuasi (di lokasi-lokasi) yang kita perkirakan ada korban yang belum bisa dievakuasi,” katanya sembari menyebutkan dua problem krusial lain, yakni ketersediaan bahan bakar minyak dan aliran listrik.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Minggu, telah memperbaiki tiga pembangkit listrik tenaga diesel di Palu. Pembangkit dengan total kapasitas 3,9 megawatt itu mulai mengalirkan listrik, Minggu malam.

”Perbaikan sejumlah fasilitas PLN yang rusak terus dilakukan. Tambahan alat berat dan mesin genset yang masih dalam perjalanan menuju Palu akan memperkuat pasokan listrik di Palu dan Donggala,” kata Direktur Bisnis Regional Sulawesi PLN Syamsul Huda, Minggu.

Adapun terminal BBM Donggala yang rusak mulai beroperasi, Minggu. Pertamina segera menyalurkan BBM dengan enam mobil tangki, masing-masing berkapasitas 16.000 liter, ke empat SPBU di Palu. (RWN/REN/ENG/WAD/APO/ARN/E21)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply