AS akan Bangun Pangkalan Militer Permanen di Polandia

Presiden Donald Trump mengatakan Amerika sedang mempertimbangkan akan membangun pangkalan militer permanen di Polandia. Ini dikatakannya dalam wawancara pers bersama dengan Presiden Polandia Andrzej Duda, di Gedung Putih.

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama dengan Presiden Polandia Andrzej Duda, di Gedung Putih, Selasa (18/9).

Baranews.co – Presiden Donald Trump mengatakan Amerika sedang mempertimbangkan akan membangun pangkalan militer permanen di Polandia. Ini dikatakannya dalam wawancara pers bersama dengan Presiden Polandia Andrzej Duda, di Gedung Putih.

Pemimpin Polandia itu mengatakan negaranya tidak hanya akan membantu pembiayaan pangkalan militer itu, tapi juga akan memberinya nama “Fort Trump”.

Dalam pertemuan di Gedung Putih hari Selasa (18/9), Presiden Trump dan Presiden Duda sepakat akan meningkatkan kerjasama militer dan pertahanan antara kedua negara. Kata Presiden Trump:

“Kami berterima kasih atas pimpinan Polandia dalam hal anggaran belanja pertahanan dan pembagian beban dalam NATO. Saya memuji Polandia karena telah memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam pengeluaran bagi pertahanan. Saya juga gembira bahwa Polandia berencana menambah pengeluaran bagi pertahanan itu lebih dari dua persen diatas batas minimum.”

Presiden Duda ketika berbicara dalam wawancara pers itu minta Presiden Trump untuk menempatkan lebih banyak tentara Amerika di Polandia, dan mendesaknya untuk membangun pangkalan militer permanen untuk mencegah apa yang disebutnya sebagai ancaman ekspansionis Rusia.

Duda bahkan berjanji akan menyumbang lebih dari dua milyar dollar untuk membangun dan melengkapi pangkalan itu.

“Saya tersenyum ketika berbicara dengan Presiden Trump, dan saya katakan, akan sangat senang membangun pangkalan-pangkalan militer Amerika yang permanen di Polandia, yang akan kami beri nama Fort Trump. Saya sangat yakin ini akan terlaksana.”

Bulan Maret lalu, Polandia menandatangani kontrak pembelian senjata terbesar, bernilai 4,75 milyar dolar AS untuk membangun sistem pertahanan misil Patriot buatan Amerika guna memperkuat pasukannya dalam menghadapi Rusia.

Minggu lalu, Rusia mengadakan latihan militernya yang terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin, dengan mengundang Cina untuk ikut pertama kalinya. Latihan militer gabungan itu diadakan ketika Amerika dan China sedang terlibat perang dagang yang disebabkan oleh pengenaan tarif impor. (voaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*