LIGA INGGRIS – Lawan ”Hantu” Wembley

Ilustrasi (Sumber: Pinterest)

Dari sekian banyak stadion di Inggris, tiada yang lebih ”horor” bagi Manajer Liverpool Juergen Klopp selain Wembley. Namun, kali ini Klopp punya ”jimat” menundukkan ”hantu” lama itu.

London, Baranews.co – Duel Tottenham Hotspur kontra Liverpool di Liga Inggris, Sabtu (15/9/2018) ini, semestinya digelar di White Hart Lane, stadion yang baru saja selesai direnovasi. Namun, karena pertimbangan keamanan, laga itu digelar di Wembley, stadion yang tak pernah ramah bagi Manajer Liverpool Juergen Klopp.

Dalam tiga kunjungan ke stadion markas sementara Spurs itu, Klopp selalu menderita. Tiga kali tim-tim yang diasuhnya kalah di stadion termegah di Inggris itu.

Kenangan paling menyakitkan Klopp terjadi pada Mei 2013. Saat itu timnya, Borussia Dortmund, dikalahkan Bayern Muenchen di final Liga Champions.

Wembley juga mengubur mimpi Klopp meraih trofi pertamanya di Liverpool. Tampil dominan, ”The Reds” saat itu justru dibekap Manchester City lewat adu penalti di final Piala Liga Inggris 2016. Pada Oktober 2017, giliran Spurs meremukkan Klopp dan Liverpool dengan skor 1-4 di Liga Inggris.

Kekalahan telak dari Spurs di Wembley itu membuat Klopp berang dan menjadi titik balik dari The Reds musim lalu. Sejak itu, perbaikan pertahanan menjadi fokus utama Klopp di Liverpool. Kebutuhan itu salah satunya dijawab dengan hadirnya bek Virgil van Dijk, pemain termahal The Reds, Desember 2017.

Pertahanan bakal menjadi elemen kunci bagi Liverpool musim ini, khususnya laga kontra Spurs malam ini. Klopp sadar, serangan mematikan, yang musim lalu sangat terlihat di timnya, menjadi tidak berguna tanpa pertahanan solid yang dimiliki para juara Liga Inggris sebelumnya seperti Chelsea dan Manchester City.

Dalam skema permainan menekan tinggi yang disukai Klopp, pertahanan punya peranan vital. Bertahan adalah bentuk serangan awal Liverpool ala Klopp. Itu diwakili dengan kinerja Van Dijk, bek yang memiliki rata-rata akurasi operan tertinggi di Liga Inggris, yaitu 90 persen.

Atas alasan itulah The Reds kembali berinvestasi besar di lini belakang dengan mendatangkan Alisson Becker, yang sesaat menjadi kiper termahal dunia, musim panas lalu. Perbaikan di lini belakang The Reds disempurnakan dengan evolusi masif Joe Gomez, bek tengah partner Van Dijk yang musim lalu lebih sering bermain sebagai bek sayap kanan.

Transformasi di lini pertahanan itu bakal menjadi jimat Klopp untuk menjinakkan Spurs di kandangnya sendiri. The Reds menjelma menjadi tim dengan pertahanan terbaik di Liga Inggris, terhitung sejak Oktober 2017.

Liverpool hanya kebobolan 23 gol dari total 33 laga sejak kekalahan dari Spurs di musim lalu. Rekor itu lebih baik daripada Manchester City, juara bertahan, yang 26 kali kebobolan di periode serupa. Performa positif The Reds itu berlanjut ke musim baru. Gawang mereka baru sekali kebobolan di empat laga. Liverpool pun bertengger di puncak klasemen sementara Liga Inggris berkat kemenangan beruntun di empat laga musim ini.

”Anda bisa memilih semua dari kami untuk menjadi pemain terbaik bulan ini (Agustus). Mereka tampil luar biasa,” ujar Van Dijk memuji kinerja rekan setimnya, termasuk duo bek sayap muda, Andrew Robertson dan Trent Alexander-Arnold.

Liverpool juga punya keuntungan dengan melemahnya kekuatan Spurs. Tuan rumah tidak diperkuat dua pemain kunci, yaitu gelandang serang Dele Alli dan kiper sekaligus kapten Hugo Lloris. Adapun penyerang sayap, Son Heung-min, diragukan tampil sejak awal karena kelelahan, pasca Asian Games 2018.

Kandidat juara

Laga ini menjadi peluang terbaik Klopp untuk menghapus kenangan buruk di Wembley. Kemenangan tersebut sekaligus akan menjadi pesan, The Reds adalah kandidat serius juara Liga Inggris musim 2018-2019 ini.

Kemenangan atas Spurs, salah satu big six alias langganan enam besar Liga Inggris, akan menambah kepercayaan diri Liverpool dalam mengejar trofi. Musim lalu, kepercayaan diri itu sirna setelah hasil buruk atas tim-tim big six. The Reds kalah dari barisan rivalnya seperti Spurs, City, Chelsea, dan Manchester United.

”Kami telah belajar banyak dari musim lalu (laga kontra Spurs, Oktober 2017). Bagi kami, laga ini merupakan tantangan baru yang berbeda. Kami harus siap meskipun tidak banyak (latihan) bisa digelar (pasca-jeda internasional),” ujar Klopp dalam jumpa pers Jumat.

Sementara itu, Manajer Spurs Mauricio Pochettino tidak terlalu merisaukan absennya Alli dan belum bugarnya Son. Spurs bisa mengandalkan Harry Kane untuk urusan mencetak gol.

Dalam jejak kariernya, September acap kali jadi bulan indah bagi Kane. Ia cenderung lebih banyak mencetak gol di bulan ini ketimbang di bulan Agustus.

”Kami kenal Kane dengan baik,” ujar Pochettino. (AFP/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply