Moralisasi Suburkan Penyakit Terkait Perilaku

Ilustrasi (Sumber: newsghana.com.gh)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Gadis-gadis belia membagi-bagikan selebaran tentang kanker serviks di kawasan Bundaran HI pada suatu hari di car free day beberapa tahun lalu. “Pak, silakan. Ini penting,” kata salah satu dari mereka sambil menyodrokan leaflet dan menunjuk papan petunjuk berisi informasi tentang kanker serviks.

Yang tidak masuk akal saya adalah disebutkan bahwa salah satu penyebab kanker serviks adalah karena pembalut (perempuan). Penyebab kanker serviks itu ‘kan virus yaitu human pavilloma virus(HPV). Bagaimana bisa virus muncul hanya karena pembalut yang kotor?

Ini salah satu bentuk moralisasi penyakit yang akhirnya berdampak buruk terhadap upaya-upaya penanggulangan karena masyarakat tidak diberikan informasi yang konkret. Virus penyebab kanker serviks al. ditularkan oleh laki-laki melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan luar nikah.

Memang aneh. Pada laki-laki virus kanker serviks tidak berkembangbiak di alat kelamin. Tapi, pada perempuan virus itu justru galak dan menimbulkan kesakitan bahkan sampai menjadi penyebab kematian, seperti yang dialami oleh mendiang Julai Perez (Jupe).

[Baca juga: Kanker Serviks Bukan Hanya Ulah Perempuan Semata]

Ketika seorang istri terdeteksi kanker serviks, maka suami pun membusungkan dada karena merasa tidak bersalah. Soalnya, penyebab kanker serviks itu ‘kan karena malas ganti pembalut. Padahal, dia yang menularkan virus kanker serviks ke istrinya. Tidak harus melalui hubungan seksual di luar nikah karena bisa saja suami tadi mempunyai istri lain.

Pengalaman seorang guru agama di Sumut menunjukkan penularan virus, dalam hal ini HIV, tidak selalu melalui zina seperti yang didengung-dengungkan banyak kalangan dari ‘zaman kuda gigit besi’ (baca: awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia) sampai sekarang. Guru agama itu tertular HIV dari istri kedua.

[Baca juga: Guru Agama Ini Kebingungan Anak Keduanya Lahir dengan AIDS]

Yang paling tidak masuk akal, seperti pernah disebutkan oleh dr Katono Mohamad, mantan Ketua IDI, orang tidak pernah malu mengatakan bahwa dia mengidap hepatitis B. Padahal, “Penularan HIV/AIDS persis sama dengan virus hepatitis B,” kata dr Kartono dalam sebuah kesempatan wawancara di tahun 1990-an.

Celakanya, orang yang mengidap HIV/AIDS dicaci-maki karena dianggap tertular karena berzina, melacur, seks menyimpang, dll. Padahal, penularan HIV/AIDS juga terjadi melalui hubungan seksual dalam ikatan pernikahan yang sah, melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba bersama-sama dengan bergantian, transfusi darah yang tidak diskirining HIV, dan dari ibu-ke-bayi yang dikandungnya, melalui air susi ibu (ASI).

Tapi, karena sejak awal banyak kalangan, bahkan waktu itu menteri kesehatan, selalu mengaitkan penularan HIV/AIDS dengan homoseksual, seks menyimpang, dan pelacuran, maka sampai sekarang pun banyak orang yang merasa tidak berisiko tertular HIV/AIDS karena mereka bukan homoseksual, tidak melakukan seks menyimpang dan tidak pula seks dengan pelacur (baca: pekerja seks komersial/PSK).

Dalam sebuah ‘diskusi’ di Facebook ada seorang cewek sesumbar: “Biar tau aja ya, teman cowok gue gak ada yang gituan.” Yang dimasud cewek ini dengan ‘gituan’ adalah melacur dengan PSK di lokasi pelacuran.

Tapi, ketika ditanya apakah dia bisa jamin bahwa semua teman cowoknya tidak pernah melakukan seks di luar nikah, eh, cewek itu langsung ‘out’ dari perbincangan. Lagi-lagi banyak yang beranggapan bahwa seks suka sama suka dalam di luar ikatan pernikahan bukan seks menyimpang sehingga tidak ada risiko penularan penyakit.

Padahal, bisa saja ada di antara cewek dan cowok tsb. yang seks dengan pasangan yang lain. Itu aritnya terjai perilaku seksual yang berisiko tertular ‘penyakit kelamin’ termasuk HIV/AIDS.

Ada pula pasangan yang belum menikah menyalurkan dorongan seksual melalui seks oral (fellatio yaitu penis masuk ke mulut dan cunnilingus mulut ke vagina). Ini juga perilaku yang tidak aman. Kalau si cowok mengidap ‘penyakit kelamin’, seperti kencing nanah, tentulah ada risiko infeksi di rongga mulut dan tenggorokan si cewek yang mengoral. Begitu juga kalau si cewek mengidap ‘penyakit kelamin’ cowok yang mengoral juga berisiko tertular penyakit karena di permukaan ‘Miss V’ dan cairannya ada penyakit, seperti HIV/AIDS.

Sudah saatnya informasi tentang penyakit, terutama yang terkait dengan perilaku dan moral, disampaikan secara utuh sebagai fakta medis. Kalau dibumbui dengan moral maka yang terjadi adalah fakta medis hilang mitos (anggapan yang salah) yang berkembang. Penyebaran penyakit, khususnya melalui seks, pun merebak. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply