TENIS – Jepang Berterima Kasih Pada Osaka

Petenis Jepang Naomi Osaka mencium trofi grand slam Amerika Serikat Terbuka, Minggu (9/9/2018) dinihari WIB. Osaka mengalahkan peraih 23 grand slam Serena Williams, 6-2, 6-4, pada final tunggal putri di Flushing Meadows, New York, AS. (Sumber: KOMPAS/AFP/TIMOTHY A CLARY)

New York, Baranews.co – Publik Jepang berterima kasih pada Naomi Osaka. Di tengah penderitaan warga Jepang yang terkena bencana alam, pekan lalu, petenis putri berusia 20 tahun itu memberi kebanggaan dengan menjuarai Amerika Serikat Terbuka. Dia menjadi petenis Jepang pertama yang menjuarai turnamen grand slam pada nomor tunggal.

Meski suasana penyerahan penghargaan rusak oleh ejekan penonton yang melampiaskan kekesalan pada wasit, hingga membuat Osaka menangis, petenis yang awal pekan ini menempati peringkat ketujuh dunia tersebut telah mewujudkan mimpinya. Dalam final yang digelar di Flushing Meadows, New York, Sabtu (8/9/2018) sore waktu setempat atau Minggu dinihari waktu Indonesia, Osaka mengalahkan idolanya sejak kecil, Serena Williams, 6-2, 6-4.

USA TODAY SPORTS/DANIELLE PARHIZKARAN

Petenis Amerika Serikat Serena Williams menunjuk wasit Carlos Ramos saat menyampaikan protes pada final tunggal putri grand slam Amerika Serikat Terbuka melawan Naomi Osaka di Flushing Meadows, New York, AS, Minggu (9/9/2018) dinihari WIB. Osaka menang atas Williams 6-2, 6-4.

“Selamat atas kemenanganmu di AS Terbuka. Petenis Jepang pertama yang menjuarai grand slam. Terima kasih sudah memberi energi dan inspirasi pada seluruh warga Jepang,” kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Abe mengucapkan selamat melalui Twitter dalam perjalanan menuju Hokkaido, tempat yang dilanda gempa bermagnitudo 6,7 pada Kamis lalu. Sedikitnya 21 orang tewas dan ratusan orang luka karena kejadian itu. Dua hari sebelumnya, bagian barat dan tengah Jepang dilanda Topan Jebi yang membuat sejuta warga di daerah tersebut mengungsi.

Di antara warga yang berada di Hokkaido, tinggallah kakek Osaka, Tetsuo Osaka (73). Bersama istrinya, dia menonton sang cucu melalui siaran langsung di TV. Begitu Osaka menang, mereka pun menangis.

“Saya memeluk istri saya, kami sangat bahagia, kami menangis. Saya harap dia selalu sehat dan tetap bermain bagus. Saya juga berharap dia bisa menang di Tokyo (Olimpiade 2020),” kata Tetsuo saat diwawancara reporter stasiun TV NHK.

Pemberitaan tentang bencana di Jepang yang disiarkan NHK pada Minggu pagi pun dihentikan sejenak untuk kabar gembira dari New York. “Osaka menjuarai tunggal putri AS Terbuka, menjadi petenis pertama Jepang yang menjuarai grand slam,” dalam pengumuman yang disampaikan NHK.

Surat kabar Sports Nippon menjadikan Osaka sebagai berita utama. Asahi Simbun, melalui Twitter, mengumumkan terbit dengan tambahan halaman tentang Osaka.

“Kegigihan dan kesabaran Osaka telah membesarkan hati warga Jepang yang terkena bencana topan dan gempa,” kata mantan petenis Tsuyoshi Fukui.

Kei Nishikori, petenis putra Jepang yang menjadi insipirasi Osaka, mengunggah video saat Osaka mengangkat trofi juara dalam akun Twitter-nya dengan tagar bangga dan bendera Jepang.

“Osaka bermain sangat bagus. Dia sangat tenang sepanjang pertandingan. Saya terkesan dengan mental bertandingnya. Semua penonton di stadion memberi dukungan untuk Serena, tetapi Osaka tetap berkonsentrasi pada permainannya dan menang,” tutur Mitsuko Sakai, petenis amatir berusia 63 tahun yang bangun pukul 05.00 di Tokyo untuk menonton final tunggal putri.

Final tunggal putri AS Terbuka kali ini tak termasuk final ideal. Osaka, yang untuk pertama kalinya tampil dalam final grand slam, tak hanya menanggung beban harus berhadapan dengan sang idola peraih 23 gelar grand slam. Osaka juga menghadapi tekanan penonton yang hampir semuanya membela Serena. Momen penyerahan penghargaan yang seharusnya menjadi panggung bagi Osaka justru membuatnya menangis sedih.

Sekitar 23.000 penonton yang memenuhi Stadion Arthur Ashe berteriak mencemooh ketika pembawa acara Tom Rinaldi mengumumkan akan dimulainya acara pemberian penghargaan. Teriakan itu menjadi lanjutan kekecewaan penonton pada wasit Carlos Ramos ketika Serena mendapat hukuman karena tiga pelanggaran pada set kedua.

Serena dinilai melakukan pelanggaran karena mendapat arahan dari pelatihnya, Patrick Mouratoglou, mematahkan raket, dan mengucapkan kata-kata kasar pada wasit. Ketiga pelanggaran itu membuatnya terkena penalti poin dan gim. Wasit memberi satu poin pada Osaka karena Serena mematahkan raket setelah kehilangan servis pada gim kelima.

Pelampiasan emosi dengan mengucapkan kata-kata kasar pada wasit, salah satunya ketika dia berkata bahwa Ramos adalah “pencuri”, membuatnya terkena penalti berikutnya, yaitu satu gim untuk Osaka. Penonton pun mencemooh wasit, termasuk panitia turnamen saat acara penyerahan penghargaan.

Osaka meneteskan air mata pada momen yang canggung itu sebelum Serena menghibur dengan merangkul bahunya. Osaka bahkan meminta maaf pada penonton atas kemenangannya. “Saya tahu semua memberi dukungan pada Serena dan saya meminta maaf harus berakhir seperti ini,” kata Osaka dengan terbata. Senyum sangat jarang terlihat pada wajahnya dalam momen yang seharusnya membahagiakannya itu.

Namun, kalimat itu dan pernyataan-pernyataan dalam konferensi pers memperlihatkan ketulusan Osaka yang dikenal pemalu. Beberapa kali dia mengucapkan terima kasih pada Serena karena memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya sejak kecil, yaitu melawan Serena Williams dalam final grand slam.

Kecintaan Osaka pada Serena sering diwujudkan melalui gambar mantan petenis nomor satu dunia itu saat Osaka bersekolah di kelas tiga SD. Saat diminta menyampaikan pesan pada Serena setelah memenangi semifinal, Osaka mengatakan, “I love you”.

Dua kewarganegaraan

Osaka lahir di kota Osaka, Jepang, 16 Oktober 1997, memiliki ibu, Tamaki Osaka, berwarganegara Jepang dan ayah Leonard Francois (Haiti). Mereka menetap di New York, lalu Florida, saat Osaka berusia tiga tahun. Naomi dan kakaknya, Mari, yang juga seorang petenis, memakai nama belakang ibunya untuk alasan kepraktisan jika tinggal di Jepang meski mereka memiliki kewarganegaraaan ganda (Amerika dan Jepang).

Saat memasuki dunia profesional sebagai petenis, ayahnya mendaftarkan  Osaka pada Asosiasi Tenis Jepang hingga dia tampil mewakili Jepang. Osaka, yang mengerti namun tak bisa berbahasa Jepang, bangga atas budaya yang diwarisinya.

GETTY IMAGES/AFP/SARAH STIER

Petenis Jepang Naomi Osaka tersenyum saat konferensi pers setelah menjuarai grand slam Amerika Serikat Terbuka di New York, AS, Minggu (9/9/2018). Osaka menang atas Serena Williams 6-2, 6-4 di final tunggal putri, dan menjadi petenis Jepang pertama yang menjuarai grand slam.

Osaka pun menjadi salah satu satu atlet berdarah campuran yang sukses di Jepang, selain sprinter Asuka Cambridge (Jepang dan Jamaika) dan atlet bisbol, Yu Darvish (Jepang dan Iran). Meski Jepang telah menjadi negara yang terbuka terhadap berbagai etnis, masih ada prasangka buruk pada “haafu”, sebutan untuk orang setengah Jepang. Mereka biasanya dirundung karena terlihat berbeda secara fisik atau memiliki perbedaan nama.

“Jepang sudah semakin terbuka pada orang berbeda budaya. Jika ada atlet berasal dari dua budaya dan mewakili Jepang, publik akan mendukung mereka,” kata Hirotaka Matsuoka, professor dalam bidang pemasaran olahraga dari Universitas Waseda di Tokyo.

Dalam arena grand slam, Osaka menjalani debut pada Australia Terbuka 2016. Tampil sejak babak kualifikasi, dia dihentikan Victoria Azarenka pada babak ketiga.

Pada musim ini, prestasinya semakin menjanjikan. Dia mencapai babak keempat Australia Terbuka lalu menjuarai WTA Premier Indian Wells, Maret. Dalam perjalanan menuju gelar juara turnamen WTA berlevel tertinggi itu, Osaka mengalahkan Maria Sharapova, Karolina Pliskova, dan petenis nomor satu dunia, Simona Halep.

Itu dicapai setelah Osaka dilatih Sascha Bajin sejak Desember 2017. Bajin, yang pernah menjadi rekan latihan Serena selama delapan tahun, juga pernah bekerja sama dengan Azarenka, Sloane Stephens, dan Caroline Wozniacki.

Bajin mengatakan, perubahan besar yang dilihatnya pada Osaka adalah mental bertanding. Saat ini dia bisa berpikir positif, menggantikan karakter yang selalu keras mengkritik diri sendiri.

“Dia sudah bisa menghilangkan emosi negatif. Dalam latihan, alih-alih mengatakan, ini tidak akan berhasil, saya harus mengatakan cara ini akan berhasil. Dia akan memenangkan pertandingan dengan cara ini,” tutur Bajin dalam laman resmi WTA.

Dengan sikapnya yang makin dewasa, Osaka akhirnya bisa mengatasi saat-saat sulit dalam final pertamanya di arena grand slam. “Sikap tulusnya saat wawancara memperlihatkan bahwa dia adalah orang Jepang. Dimana pun dia lahir dan dibesarkan, apapun warna kulit dan bahasanya, dia telah membuat Jepang bangga,” kata seorang penggemarnya dalam Twitter. (AFP/AP)/YULIA SAPTHIANI/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*