KECELAKAAN LALU LINTAS – 21 Penumpang Tewas di Jalur Maut Sukabumi

Petugas kesehatan dari Polda Jawa Barat dan RSUD Palabuhanratu mendata dan mengurus jenazah kecelakaan lalu lintas di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). Kecelakaan ini menewaskan 21 orang dari rombongan wisatawan asal Bogor yang hendak mengunjungi obyek wisata arung jeram, sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian. (Sumber: KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA)

Sukabumi, Baranews.co – Jalan Raya Cikidang di Kampung Bantarselang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali memakan korban jiwa, Sabtu (8/9/2018). Sebanyak 21 orang tewas saat bus pariwisata yang mereka tumpangi terperosok ke jurang sedalam sekitar 30 meter.

”Diduga kuat, pengemudi bus nekat melintasi jalan itu meski belum terbiasa melewatinya. Jalan selebar 8 meter itu penuh tikungan tajam dan tanjakan curam yang berbahaya,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko di Bandung, Sabtu kemarin.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 12.00. Saat kejadian, bus naas bernomor polisi B 7025 SGA itu berada dalam iring-iringan bersama empat bus lain. Bus pariwisata milik Jakarta Wisata Transport itu mengangkut sekitar 100 orang dari rombongan perusahaan Catur Putra Jaya, Kabupaten Bogor. Rombongan ini berencana menikmati wisata arung jeram di Cikidang, berjarak sekitar 20 kilometer dari pantai Palabuhanratu atau 100 kilometer dari Kota Bogor.

Akan tetapi, rencana liburan tersebut batal saat bus melintasi tikungan tajam di Kampung Bantarselang, sekitar 1 kilometer dari lokasi tujuan wisata arung jeram. Pengemudi bus maut berpenumpang 37 orang itu gagal mengendalikan laju kendaraannya. Bus pun oleng dan masuk ke jurang.

”Saat kejadian, kondisi jalan aspalnya mulus. Cuaca juga cerah. Kondisi kendaraan akan kami periksa lagi. Sejauh ini, pengemudi diduga tewas. Identitasnya masih perlu kami dalami dan pastikan,” kata Trunoyudo.

Semua korban tewas, ujar Trunoyudo, untuk sementara disemayamkan di ruang pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu untuk pendataan lebih detail. Selain itu, RSUD Palabuhanratu masih merawat 11 orang yang mengalami luka berat. Korban lainnya dirawat di RSUD Mekarwangi Cibadak (3 orang) dan Puskesmas Cikidang (2 orang). Baik korban tewas maupun yang masih dirawat umumnya menderita luka di bagian kepala.

Berbahaya

Hingga Sabtu malam, RSUD Palabuhanratu masih ramai didatangi kerabat korban. Petugas kepolisian dari Polda Jawa Barat mendirikan posko kecelakaan di depan kamar pemulasaraan jenazah.

Gustaman (35), salah seorang peserta wisata, mengatakan, saat kecelakaan terjadi, ia berada di bus kedua. Tak sengaja, ia melihat ke belakang saat bus naas itu terjatuh ke jurang.

”Jatuhnya di tebing tepat di atas lokasi wisata. Kami lihat sendiri bus itu jatuh. Bus yang kami tumpangi langsung berhenti. Secepatnya, kami langsung berlari ke lokasi kejadian. Ada korban selamat, tetapi banyak yang tewas di lokasi,” ujar Gustaman.

Tercatat setidaknya sejak tahun 2015, Jalan Raya Cikidang, jalur alternatif Bogor-Palabuhanratu itu, sangat rawan kecelakaan lalu lintas. Pada Mei 2015, truk yang membawa 59 pelajar terguling. Sebanyak 3 siswa tewas dan 56 orang lainnya luka-luka. Pengemudi truk gagal mengendalikan kendaraannya saat melintasi salah satu tikungan tajam.

Selanjutnya, Oktober 2016, kecelakaan kembali terjadi di dekat titik kejadian Sabtu kemarin. Minibus yang dikendarai warga Jakarta terbalik saat melintasi di jalan menurun curam di jalan itu. Akibatnya, dua penumpang minibus terluka berat.

Pada 2017, kecelakaan kembali terjadi. Seorang pengemudi sepeda motor tewas ditabrak truk dari arah berlawanan. Diduga, korban tidak hafal karakter tikungan tajam di lokasi kejadian. Bahkan, pada Juni 2018, pengemudi sepeda motor besar terluka parah setelah ditabrak mobil dari arah berlawanan selepas melewati tikungan.

Mitigasi

Menanggapi kejadian ini, Bupati Sukabumi Marwan Hamami mengatakan, bahaya di jalur tersebut sudah berkali-kali diingatkan. Terkait bahaya itu, kendaraan berukuran besar selalu dilarang melintas di jalur tersebut.

Akan tetapi, larangan itu kerap dilanggar oleh para pengemudi yang nekat. Selain keterbatasan personel dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi, pengemudi tergoda melintasi daerah rawan dengan alasan menghemat waktu tempuh. Dari Bogor, Jalan Raya Cikidang bisa membuat waktu tempuh 30 menit lebih cepat ketimbang menggunakan jalan utama, menuju Pantai Palabuhanratu.

Marwan berjanji segera mengumpulkan semua operator arung jeram untuk menata mitigasi lalu lintas di sekitar lokasi wisata. Dia akan meminta operator menyediakan mobil khusus dengan pengendara yang sudah berpengalaman untuk menjemput wisatawan di titik aman. Ia berharap kejadian ini tidak membuat calon wisatawan enggan mengunjungi daerah wisata di Kabupaten Sukabumi.

”Nantinya, semua operator harus menyediakan kendaraan laik jalan untuk menjemput wisatawan. Maksimal hanya menampung 10 orang sehingga ukuran kendaraannya tidak terlalu besar. Paling penting dari semuanya, kendaraan penjemput itu dikemudikan sopir yang paham benar karakteristik jalan curam dan penuh tikungan tajam itu,” kata Marwan. (CHE/RTG/SEM)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply