Ma’ruf Amin Siap Kerahkan Potensi NU

Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin (kedua dari kanan) hadir dalam Silaturahim Nahdlatul Ulama Sedunia di Mekkah, Arab Saudi, Sabtu (18/8/2018). (Sumber: KOMPAS/NASRULLAH NARA)

Mekkah, Baranews.co –  Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma’ruf Amin yang kini menjadi calon wakil Presiden untuk capres Joko Widodo menegaskan akan mengerahkan segala potensi NU untuk mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam Pemilihan Presiden 2019.

“Kita akan kerahkan segala sumber daya yang ada untuk mendukung kader NU ditawari untuk beperan dalam tugas kenegaran, termasuk dalam pengentasan kemiskinan,” kata Ma’ruf dalam Silaturahim NU Sedunia di Hotel Al-Wehdah, Jarwal, Mekkah, Arab Saudi, Sabtu (18/8).

Pertemuan tersebut digelar di sela penantian masa wukuf atau puncak haji. Pertemuan dihadiri Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel.

Hadir pula sejumlah tokoh NU, seperti Katib Aam PBNU KH Yahya Staquf, Habib Zein bin Smith (dari Jakarta), Ustadz Yusuf Mansur (Jakarta), Habib Ahmad Alkaf (Surabaya), KH Ali Masyhuri (Sidoarjo), KH Kafabihi Mahrus (Lirboyo, Kediri),  Chozin Chumaidi (Lebanon), Husnan Fanani (Azerbeijan), dan Helmi Fauzi (Mesir). Hadir juga Wakil Gubernur Jawa Timur (terpilih) Emil Dardak dan sejumlah tokoh lainnya.

Silaturahim diawali pembacaan tahlil yang dipimpin KH Kafabihi Mahrus. Acara diakhiri dengan Madrasah Kader NU (MKNU) yang diikuti sejumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Timur Tengah. Salah satu mata acara dipandu Ketua Majelis Ulama Indonesia (bidang komunikasi-informasi) KH Masduki Baidlowi.

Membantu negara

Tanggung jawab keumatan kita adalah menjaga dari paham akidah yang sesat dan menyimpang.

Ma’ruf mengingatkan, sejak awal didirikan, NU sudah berkomitmen untuk terlibat membantu negara.  “Jika kader-kader terbaiknya diminta oleh negara, ya kita relakan,” katanya.

Dia mengingatkan, NU memiliki tanggung jawab keumatan dan tanggung jawab bangsa dan negara. “Tanggung jawab keumatan kita adalah menjaga dari paham akidah yang sesat dan menyimpang,” kata Kiai Ma’ruf.

Di samping itu ia juga mengingatkan tugas meningkatkan kualitas umat baik dari segi ekonomi maupun pendidikan.

“Kalau dulu KH Hasyim Asy’arie berjuang melawan penjajah dengan resolusi jihadnya, sekarang tanggung jawab kita menjaga negara dari pemikiran yang berusaha mengganti ideologi, inilah tanggung jawab bangsa dan negara,” tegas Ma’ruf.

Politik praktis

Pernyataan Ma’ruf ditanggapi Rais Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) NU Tiongkok KH Imron Rosyadi Hamid yang juga menjadi peserta silaturahim. Imron menegaskan, NU secara organisasi tidak boleh terlibat politik praktis. AD-ART NU menyebutkan bahwa NU bukan lembaga politik. ’’Jangan jadikan NU sebagai mesin elektoral,’’ katanya.

Namun, dia juga yakin bahwa nahdliyin kini sudah dewasa, tidak mungkin diarahkan untuk mendukung pasangan capres-capares tertentu. ’’Faktanya, kader-kader NU ada di semua partai,’’ kata Imron.

Tiga tantangan

Adapun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya mengemukakan tiga tantangan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia masa kini. Pertama, meningkatkan wawasan atau pengetahuan. Kedua, kekuatan politik yang menyokong paham baru dan berusaha mengganti ideologi bangsa. Ketiga, tantangan internal untuk menyebarkan paham kedamaian dengan cara santun.

MEDIA CENTER HAJI 2018

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin (kiri) didampingi Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri acara Silaturahim NU Sedunia di Mekkah, Arab Saudi, Sabtu (18/8/2018).

Kehadiran NU dan ormas lainnya yang moderat di Bumi Pertiwi adalah untuk menjaga dan merawat paham keagamaan.

Menag mengatakan, jika kurang atau salah wawasan, orang bisa melakukan tindakan ekstrim atau radikal. “Sementara tantangan politik, kita dapat merasakan adanya kekuatan politik di belakang paham baru yang ingin mengganti ideologi bangsa dan negara,” tandas Menag. Sedang tantangan internal, menurut Menag, nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin harus disebarkan dengan sikap rendah hati.

“Kehadiran NU dan ormas lainnya yang moderat di Bumi Pertiwi adalah untuk menjaga dan merawat paham keagamaan,” papar Menag.  Jabarannya, adalah menjaga dan merawat eksistensi keindonesiaan, yang dikenal sangat agamis.(NAR)/NASRULLAH NARA/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply