Takut Tertular HIV/AIDS karena Isap Payudara PSK

Ilustrasi (Sumber: momjunction.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Tanya Jawab AIDS No1./Juli 2018

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS.

Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: “AIDS Watch Indonesia” (http://www.aidsindonesia.com) dan kompasiana.com/infokespro. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap,melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Jika hanya menghisap /menjilat payudara pekerja seks komersial (PSK): (1) Apakah saya beresiko terkena HIV/AIDS? Soalnya, saya sangat ketakutan karena saya merasa seperti ada gejala AIDS, al. nyeri di pangkal paha dan ketiak, radang tenggorokan. Kemarin sempat nyeri di seluruh badan dari atas hingga bawah, dan berat badan saya turun sekitar 5 kg. (2) Apakah saya beresiko? (3) Apakah ini gejala tertuar HIV/AIDS?

Via SMS (18/2-2918)

Jawab: Salah satu cairan yang jadi tempat HIV adalah air susu ibu (ASI). Nah, kalau PSK itu mengidap HIV/AIDS, maka di ASI-nya ada virus (HIV) yang cukup untuk ditularkan. Ketika Saudara menghisap atau menjilat payudara PSK ada kemungkinan ASI tertelan tanpa disadari.

Semula Badan Kesehatan Sedunia (WHO) menganjurkan agar perempuan pengidap HIV/AIDS tidak menyusui anaknya dengan ASI. Tapi, belakangan WHO memberikan rekomendasi seorang ibu pengidap HIV/AIDS boleh menyusui anaknya dengan ASI jika ibu itu rutin meminum obat antiretroviral (ARV). Seperti diketahui obat ARV menghambat laju replikasi HIV di dalam darah sehingga HIV seakan ‘pingsan’ dan tidak terdeteksi melalui tes HIV. Itu artinya HIV tidak bisa ditularkan melalui ASI ibu yang meminum obat ARV sesuai dosis yang diberikan dokter.

(1) dan (2). Karena di ASI ada HIV maka ketika ASI tertelan ada risiko tertular HIV. Tidak ada rujukan probabilitas (kemungkinan) tertular HIV melalui ASI.

(3). Tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS. Tapi, jika seseorang melakukan perilaku berisko yaitu kegiatan yang bisa jadi pintu masuk penularan HIV, maka untuk memastikan apakan gejala-gejala itu terkait dengan infeksi HIV hanya bisa diketahui melalui tes HIV sesuai dengan standar prosedur operasi yang baku.

Untuk menghilangkan kekhawatiran Saudara, silakan ikuti konseling di Klinik VCT di Puskesmas atau rumah sakit di daerah Saudara. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply