Ikan Sungai Surabaya Tercemar Sampah Plastik

Seorang aktivis Ecoton memungut sampah popok dari pinggir jembatan sungai Surabaya di Karang Pilang. (Smber: VOA/Petrus Riski)

Sejumlah aktivis lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan mahasiswa pecinta lingkungan di Surabaya dan Sidoarjo, menggelar aksi bersih-bersih jembatan sungai Surabaya, di kawasan Karang Pilang, perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, Senin (30/7/2018). Mereka membersihkan pinggir dan pagar jembatan dari tumpukan sampah popok dan plastik, yang sengaja dibuang oleh warga ke sungai.

Aksi bersih sungai Surabaya dan jembatan di kawasan Karang Pilang, Surabaya, dilakukan karena banyaknya sampah popok yang dibuang oleh warga ke sungai. Ecoton bersama mahasiswa pecinta lingkungan ini prihatin dengan rendahnya kesadaran masyarakat yang masih suka membuang sampah, khususnya popok sekali pakai ke sungai. Selain itu, pemerintah daerah dianggap kurang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan masyarakat yang banyak bergantung dari sungai.Peneliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho mengungkapkan, sampah popok yang banyak dibuang ke sungai selain mencemari sungai sebagai salah satu sumber air baku perusahaan daerah air minum (PDAM), juga mencemari ikan. Hasil penelitian dan pembedahan ikan yang dilakukan Ecoton menyebutkan, terdapat serpihan dan serabut plastik dalam lambung ikan yang di antaranya berasal dari sampah popok sekali pakai.

“Dalam pengamatan lambung ikan, di sana kita menemukan banyak sekali plastik yang sudah termakan oleh ikan kita, salah satunya adalah dalam bentuk serabut, dan dalam bentuk serpihan-serpihan kecil, itu yang kita duga sebagai plastik sebenarnya. Dari lima, enam jenis ikan yang kita temukan, ternyata sudah empat yang kita temukan memakan plastik tadi. Bentuknya masih mesoplastic, serpihan yang bisa dilihat tapi dengan alat bantu yang sederhana. Penelitian terhadap microplastic ini akan dilakukan dengan bekerja sama dengan kawan-kawan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga,” kata Andreas.

Tumpukan sampah popok di pinggir jembatan Surabaya, yang dibuang sembarangan oleh warga yang tidak bertanggung jawab. (Foto: VOA/Petrus Riski)
Tumpukan sampah popok di pinggir jembatan Surabaya, yang dibuang sembarangan oleh warga yang tidak bertanggung jawab. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Peneliti Ecoton lainnya, Riska Darmawanti mengatakan, ikan yang tercemar sampah plastik tidak hanya ditemukan di sungai-sungai di Surabaya, tapi juga tapi juga di sungai-sungai di Jombang, Malang, dan Batu. Menurutnya, al ini menunjukkan bahwa sampah popok yang dibuang ke sungai telah mengancam kelestarian ikan endemik sungai-sungai di Jawa Timur.

“Jadi kami itu ambil sampel ikan di Wringinanom, yang notabene adalah hulu sungai Brantas, dan di daerah hilir sekitar daerah Kenjeran. Nah itu menunjukkan bahwa di dalam perut ikan itu sudah ketemu microfiber. Sebenarnya itu adalah serat-serat dari popok yang terlepas ke sungai, kemudian dimakan ikan,” papar Riska.

Ecoton mengatakan, temuan microplastik dalam tubuh ikan endemik sungai Brantas, seperti ikan jendil, nila, rengkik, keting, dan bader, harus menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah yang memiliki kewenangan mengelola sungai. Andreas mengatakan, bahan-bahan plastik yang ada di dalam tubuh ikan itu ternyata mampu mengikat bahan pencemar atau polutan lain yang ada di dalam sungai, sehingga sangat berbahaya bila manusia mengkonsumsi ikan maupun meminum air dari bahan baku air yang tercemar sampah popok.

“Ketika sudah jadi micro, plastik-plastik tadi mengikat bahan-bahan pencemar yang ada di sekitarnya, itu yang sebenarnya lebih berbahaya, yang bisa masuk ke dalam tubuh ikan dan pada akhirnya kita juga akan memakan ikan itu tadi,” tambah Andreas.

Riska menambahkan, dalam mengatasi masalah sampah popok, pertama-tama masyarakat harus disadarkan mengenai bahaya sampah popok dan plastik yang dibuang ke sungai. Masyarakat, menurutnya, perlu diarahkan untuk membuang sampah popok pada tempatnya.

“Sebenarnya yang penting itu adalah bagaimana kemudian mengorganisir masyarakat untuk dia bisa mengelola sampah popoknya. Kami juga bekerja sama dengan dinas-dinas lingkungan hidup, untuk menyediakan drop (droping point) sehingga masyarakat bisa menyerahkan popok di droping point, dan ada transportasi yang mengangkut ke TPA (tempat pembuangan akhir sampah),” tukas Riska. [pr/ab]/Petrus Riski/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*