Data BPS dan Istana Jawab Tudingan Prabowo soal Kemiskinan Naik 50% Persen

Ilustrasi (Sumber: detiknews/ Pradita Utama(

Jakarta, Baranews.co – Lagi, angka kemiskinan disebut dalam pidato petinggi partai. Setelah sebelumnya angka kemiskinan disebut masih mencapai 100 juta orang oleh Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, kali ini angka kemiskinan disebut naik 50% oleh Ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut naiknya angka kemiskinan karena kondisi negara yang kurang baik. Mulai dari nilai rupiah yang terus memburuk hingga harga yang terus melonjak.

“Mata uang kita tambah, tambah rusak, tambah lemah. Apa yang terjadi adalah dalam 5 tahun terakhir kita tambah miskin, kurang-lebih 50% tambah miskin,” tuding Prabowo di Menara Peninsula, Jakarta Barat (27/7/2018).

Beberapa pekan lalu Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data angka kemiskinan yang terus turun sejak periode 2002 lalu. Angka ini diklaim sebagai angka kemiskinan terendah sepanjang sejarah.

Pernyataan Prabowo disebut oleh pihak Istana tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Berikut selengkapnya (29/7/2018) (zlf/zlf)/Sylke Febrina Laucereno – detikFinance/bh

1, Data BPS

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2012 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat 28,59 juta. Dengan komposisi orang miskin di kota sebanyak 10,33 juta dan orang miskin di pedesaan 18,09 juta.

Kemudian memasuki September 2013 jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 28,55 juta menurun dibandingkan periode September 2012. Untuk jumlah orang miskin di perkotaan tercatat 10,63 juta. Lalu jumlah orang miskin di pedesaan sebesar 17,92 juta.

Selanjutnya periode September 2014 jumlah orang miskin di Indonesia mengalami penurunan jadi 27,73 juta. Lalu jumlah orang miskin di perkotaan 10,36 juta dan orang miskin di pedesaan 17,37 juta.

Jumlah orang miskin pada September 2015 tercatat 28,51 juta lebih tinggi dibandingkan periode 2014. Kemudian untuk jumlah orang miskin di perkotaan tercatat 10,62 juta dan orang miskin di pedesaan 17,89 juta.

Memasuki September 2017 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat mengalami penurunan yakni menjadi 26,58 juta dengan komposisi orang miskin di perkotaan 10,27 juta dan orang miskin di pedesaan 16,31 juta.

Periode Maret 2018 jumlah orang miskin di Indonesia tercatat 25,95 juta. Jumlah ini menurun 633 ribu orang dari posisi September 2017 yang sebanyak 26,58 juta.

BPS menyebutkan, jumlah orang miskin di Indonesia sudah berada di posisi single digit. Karena turun 0,30% dibanding September. Pada Maret 2018 posisi persentase kemiskinan tercatat 9,82% lebih rendah dibanding sebelumnya 10,12%. (zlf/zlf)

2. Orang Miskin Desa Vs Kota

Pada periode Maret 2012 jumlah penduduk miskin di perkotaan tercatat sebanyak 10,65 juta orang dengan persentase 8,78%, sedangkan untuk penduduk miskin di pedesaan tercatat 18,49 juta dengan persentase 15,12%.

Kemudian periode Maret 2013 jumlah orang miskin di perkotaan tercatat 10,33 juta menurun dibandingkan periode Maret 2012, persentasenya 8,39%. Lalu untuk penduduk miskin di wilayah pedesaan tercatat 17,74 juta orang dengan persentase 14,32%.

Memasuki Maret 2014 jumlah penduduk miskin di perkotaan tercatat naik yakni menjadi 10,51 juta dengan persentase 8,39%. Untuk penduduk miskin di pedesaan 17,77 juta dengan persentase 14,17%.

Lalu pada Maret 2015 penduduk miskin di perkotaan tercatat 10,65 juta tercatat mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Persentase penduduk miskin di perkotaan tercatat 8,29%. Kemudian untuk penduduk miskin di pedesaan 17,94 juta dengan persentase 14,21%.

Selanjutnya pada Maret 2016 jumlah penduduk miskin perkotaan tercatat 10,34 juta orang dengan persentase 7,79%. Kemudian untuk penduduk miskin di pedesaan sebesar 17,28 juta orang dengan persentase 14,11%.

Pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin di perkotaan tercatat 10,67 juta dengan persentase 7,72%. Sementara itu untuk penduduk miskin di pedesaan tercatat 17,10 juta dengan persentase 13,93%.

Dari data juga disebutkan jumlah orang miskin di daerah perkotaan tercatat 10,14 juta turun 128,2 ribu orang dibandingkan periode September 2017 sebesar 10,27 juta. Sementara itu di daerah perdesaan turun sebanyak 505 ribu orang (dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018).

Sedangkan dari segi persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat 7,02% lebih rendah dibanding periode September 2017 sebesar 7,26%. Sementara itu, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2017 sebesar 13,47%, turun menjadi 13,20% pada Maret 2018. (zlf/zlf)

3. Istana Respons Pernyataan Prabowo

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan, bahwa kasus tersebut terjadi sebelum 2015.

“Pernyataan beliau (Prabowo) itu benar kalau mengacu kepada situasi sebelum 2015,” kata Erani saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Sabtu (28/7/2018).

Erani menjelaskan, jika mengacu angka kemiskinan sejak 2014 sampai sekarang justru pemerintah memperbaiki satu per satu masalah yang disampaikan oleh Prabowo Subianto.

Dia menyebut, pada awal-awal 2015 pemerintahan kabinet kerja diwarisi oleh angka kemiskinan sebesar 11,2% atau setara 28,15 juta penduduk. Sekarang, penduduk miskin hanya 9,82% atau sekitar 25,95 juta orang.

“Jadi hanya dalam tiga tahun bisa dikurangi jumlah penduduk miskin 2,2 juta orang,” ujar Erani.

Selain itu, Erani juga menjelaskan konsentrasi pemerintah pada kekayaan. Pada Maret 2013 40% kelompok masyarakat paling miskin hanya memperoleh porsi 16,87% dari total pengeluaran belanja nasional, sedangkan 20% golongan paling atas menikmati 48,50% dari total pengeluaran.

Pada Maret 2018, situasi tersebut menjadi lebih baik, di mana 40% kelompok masyarakat bawah pengeluarannya menjadi 17,29% dan 20% golongan paling atas porsi pengeluarannya turun menjadi 46,09%.

“Itu sebabnya rasio gini terus dan sekarang menjadi 0,38 dibandingkan pada 2013 yang mencapai 0,41. Intinya, sekarang pemerataan jadi jauh lebih bagus,” tutup dia. (zlf/zlf)

Be the first to comment

Leave a Reply