TERORISME – Polisi Malaysia Temukan Bahan-bahan soal NIIS di Ponsel WNI yang Ditangkap

Aparat kepolisian Malaysia mengantre untuk melaksanakan pemungutan suara pendahuluan dalam pemilu Malaysia, 5 Mei 2018, di Kantor Polis Diraja Malaysia, Kuala Lumpur. Kepolisian Malaysia, Kamis (19/7/2018), mengumumkan telah menangkap tujuh orang, termasuk tiga warga negara Indonesia, yang diduga terlibat jaringan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). (Sumber: KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA).

Kuala Lumpur, Baranews.co – Polis Diraja Malaysia kembali menangkap warga Indonesia yang diduga terlibat terorisme. Kali ini, tiga warga Indonesia dan empat warga Malaysia ditangkap secara terpisah karena diduga terlibat jaringan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.

Kepala Polis Diraja Malaysia Inspektur Jenderal Fuzi Haru, dalam pernyataan tertulis pada Kamis (19/7/2018), menyebutkan, dua WNI ditangkap karena hendak bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Mereka sudah menyatakan kesetiaan kepada NIIS dan akan bergabung dengan kelompok ekstrem itu.

Mereka juga terbukti mengikuti pelatihan perang di sejumlah tempat di Indonesia. Polisi juga menemukan bahan-bahan materi terkait NIIS dalam ponsel salah satu WNI itu.

Sementara satu WNI lagi ditangkap karena pernah menyatakan kesetiaan kepada NIIS. Pria itu juga mempunyai hubungan dengan kelompok Jamaah Ansarul Daulah yang terlibat insiden di Markas Komando Brimob, Depok, pada Mei 2018.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Anggota Brimob berjaga-jaga di tempat kerusuhan di Rumah Tahanan Cabang Salemba, Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018). Dalam kerusuhan itu, lima polisi dan satu tahanan terorisme meninggal.

Adapun satu di antara empat warga Malaysia yang ditangkap diketahui mengancam raja dan sejumlah pejabat Pemerintah Malaysia. Pekerja pabrik itu menilai, Raja Malaysia dan para pejabat bukanlah pemimpin yang islami. Sebab, ia menilai, Malaysia tidak menerapkan syariat Islam. Pria itu juga diketahui ingin meledakkan bom di sejumlah negara.

Bukan kali ini saja WNI ditangkap di Malaysia karena terlibat terorisme. Pada Maret 2018, pengadilan Malaysia menghukum Faisal dan Ali Misron masing-masing 12 tahun penjara. Mereka akan bergabung dengan sayap NIIS di Filipina.

Sebelumnya, pengadilan Malaysia memvonis WNI bernama Rino Kiswara dengan penjara total 19 tahun. Ia dinyatakan terbukti menyimpan materi kampanye NIIS, mempromosikan NIIS, dan menyatakan kesetiaan kepada NIIS.

Selain mereka, Malaysia juga sudah menangkap banyak WNI yang diduga terlibat terorisme. Dalam hukum Malaysia, menyimpan materi terkait kelompok teroris sekalipun sudah digolongkan terlibat terorisme. Apalagi, jika sampai terindikasi akan bergabung dengan kelompok teroris atau mengirimkan uang kepada orang yang terlibat terorisme.

Sementara itu, dari Jerman dilaporkan, seorang pria asal Suriah ditangkap karena terlibat NIIS. Pria yang disebut bernama Esmail AA (22) itu juga dinyatakan mempromosikan NIIS melalui media sosial. (AP/REUTERS)/KRIS RAZIANTO MADA/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply