Kuliner dan Hasil Kerajinan Brand Lokal di Rest Area Jalan Tol

Ilustrasi: Rest area km 166 Tol Cipali atau Cikampek-Palimanan (Sumber: warta kota/tribunnews.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Seiring dengan pembangunan jalan tol disediakan pula tempat istirahat, lebih dikenal sebagai rest area, dan SPBU di beberapa tempat di ruas-ruas jalan tol. Ini jadi penting karena jalan tol sudah panjang sehingga memerlukan tempat untuk istirahat.

Di rest area di sepanjang tol umumnya diramaikan dengan minuman dan makanan (kuliner). Mulai dari gorengan sampai sarapan, makan siang atau makan malam. Jenis-jenis minuman dan makanan pun beragam pula. Mulai dari gorengan, warteg, sampai warung nasi Padang. Sedangkan kopi bisanya kopi seduhan yang sudah dikemas (sachet) berbagai merek dengan kandungan bermacam-macam jenis, seperti kopi hitam, kopi susu, dll.

Selain itu ada pula minuman dan makanan dengan merek impor, seperti minuman ringan, kopi, cemilan sampai makanan cepat saji.

Rupanya, Presiden Jokowi terusik juga melihat nama-nama minuman dan makanan dengan brand nama-nama produk impor yang ada di rest area sepanjang jalan tol. Maka, ketika meresmikan ruas tol seksi Kartasura-Sragen, Jawa Tengah (15/7), secara khusus Presiden Jokowi berpesan agar di setiap rest area di jalan tol, minuman dan makanan yang dijual jangan lagi merk asing seperti Mc Donald, Kentucky, Starbuks, dll (setkab.go.id, 15/7-2018).

Presiden Jokowi sendiri mengatakan, “Harus mulai diganti satai, soto, tahu guling, gudeg. Saya sudah perintah ke Menteri BUMN, Menteri PU untuk diubah, kerja sama dengan pimpinan daerah sehingga yang namanya batik dapat dijual di rest area, telur asin dapat dijual di-rest area, makanannya yang tadi. Kalau minuman, jangan Starbucks tapi wedang ronde begitu.” (setkab.go.id, 15/7-2018).

Tentu permintaan Presiden Jokowi ini tidak mudah dilaksanakan pengelola jalan tol. Presiden optimistis bupati dan wali kota di daerah tempat rest area akan melaksanakan harapannya itu. Menurut Presiden, belum perlu dijalankan dengan instruksi tertulis, seperti Inpres.

Namun kalau perintah presiden itu belum dilaksanakan, Jokowi tidak memungkiri akan mengeluarkan Inpres (instruksi presiden). Soalnya, seperti dikemukakan Jokowi, anjuran untuk memberikan tempat kepada minuman dan kuliner lokal semata-mata tidak hanya menyangkut pendapatan warga dan pengusahan UMKM, tapi jauh lebih penting. Seperti dikatakan Presiden Jokowi, “Keberpihakan pada brand-brand lokal.”

Maka, bukan karena tidak suka kepada brand impor tapi lebih kepada usaha memberikan ruang bagi brand lokal. Brand impor mempunyai dana untuk promosi yang ditopang dengan jaringan manajemen dengan skala internasional.

Itu artinya ada ruang yang potensial sebagai tempat promosi dan penjualan bagi produk-produk minuman, makanan, kerajinan dan tekstil lokal di sekitar rest area dengan merek lokal pula. Karena tempat yang terbatas ada baiknya ruang pamer untuk promosi dan penjualan ditangani oleh instansi atau institusi, misalnya, koperasi.

Hasil karya warga baik sebagai keluarga dan UMKM ditangani oleh koperasi sehingga tidak semua warga dan UMKM memajang hasil karya di rest area. Selain karena keterbatasan tempat tentu ada biaya untuk sewa tempat, listrik, air, telepon, kebersihan, dll. Nah, kalau ditangani oleh koperasi tidak setiap warga dan UMKM mengeluarkan biaya sehingga hasil penjualan tidak terpotong banyak untuk berbagai retribusi.

Tentu saja instansi terkait dengan produk minuman, makanan, kerajinan, dll. harus berperan aktif dalam menjaga kualitas agar tidak menimbulkan masalah. Misalnya, minuman dan makanan harus higienis dan tidak memakai bahan pengawet dan pewarna buatan. Cara pengepakan sesuai standar, dll. Begitu juga dengan barang kerajinan tidak memakai bahan atau zat yang berbahaya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah cara penyajian dan pengemasan bagi yang tidak makan di tempat. Mungkin, instansi terkait bisa mengembangkan bahan-bahan alami, seperti daun pisang, daun jati, dll. serta pelepah pinang. Ini sejalan dengan komitmen dunia yang mulai menolak plastik dan styrofoam.

Sebuah langkah kecil, tapi lompatan besar karena memberikan ruang yang potensial bagi merek-merek lokal. Apalagi yang berhenti di rest area adalah pemakai jalan dengan mobil pribadi, sebagian dari mereka berkantung tebal. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*