PSIKOLOGI – Bila Emosi Bicara Lebih Keras daripada Kata-kata

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
SAWITRI SUPARDI SADARJOEN (Sumer: Kompas)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Ungkapan judul di atas tidak berarti bahwa saya melarang Anda memanfaatkan kekuatan emosi saat berbicara dengan keluarga. Barangkali Anda berpendapat bahwa melakukan hal tersebut pada keluarga memang sering lebih menghasilkan sesuatu yang kita inginkan dan harapkan. Kurang tepat bila kita berpendapat bahwa segala sesuatu akan kita peroleh dengan hanya bicara tertata dan tenang, atau bahkan kita akan dapat mencapai apa yang kita harapkan dengan cara mengungkap ”pesan aku” yang tenang dan tertata.

Sebenarnya saya sudah mengenal El (35) cukup lama. Saya tahu betul El seorang yang sangat tertata dalam berbahasa dan lembut serta selalu mengakhiri pembicaraannya dengan senyum manis tersungging di mulutnya. El juga seorang konselor dalam bidang narkotika.

Ia punya seorang adik perempuan, sebut saja Em berusia 24 tahun. El bercerita bahwa ia sangat jenuh dengan perilaku adik perempuannya tersebut, yang sering pulang larut malam dan terkadang dalam keadaan mabuk, untuk kemudian keesokan harinya baru bangun tidur antara pukul 11.00 sampai 13.00. Em sering sekali melewatkan waktu sarapan pagi. Begitu bangun Em langsung makan siang, mandi, dan pergi lagi, entah ke mana. Em bekerja paruh waktu di sebuah restoran.

El bercerita pada saya, cara dia menegur adiknya seperti berikut: ”El, aku tak tahu apa sebenarnya masalahmu, tetapi sejujurnya aku takut kehilangan kamu, kalau kamu menjalani cara hidup seperti itu, pasti badanmu semakin lama semakin tidak sehat.”

”Aku ingin kamu tahu bahwa menggunakan alkohol begitu banyak pasti membuatmu setiap kali menjadi tambah tidak sehat. Aku tahu, aku juga tidak mampu berbuat apa pun untuk mengatasi permasalahanmu. Namun, aku juga ingin sekali lagi memberitahumu betapa takutnya aku kehilangan dirimu. Aku merasa sedih sekali saat berpikir seandainya kamu meninggalkan keluarga ini, yang disebabkan oleh ketergantunganmu pada alkohol.”

Ternyata saat EL menyampaikan pesan seperti itu kepada adiknya, pada dasarnya EL tetap berperan sebagai seorang konselor/terapis sehingga Em merasa seolah dihadapkan pada orang lain saat mendengar kalimat tersebut dari mulut seorang terapis yang notabene adalah kakaknya sendiri.

Pada suatu malam El kehilangan kesabaran dan mulai meneriaki adiknya: ”Apa yang salah pada dirimu? Kenapa kau melalui hidupmu dengan cara seperti ini. Bagaimana mungkin kau perlakukan dirimu seperti ini. Aku sudah tidak mampu untuk bersabar lagi.”

”Aku merasa seperti menjadi gila!” Kemudian El melihat adiknya menutupi diri dengan guling dan bantal, membalikkan badannya, memandangi kakaknya serta tak berapa lama Em pergi meninggalkan kakaknya di kamar sendiri. El merasa sudah membuat adiknya kewalahan, tetapi ternyata pada saat itu tanpa terduga terjadi titik temu perubahan pada relasi kedua bersaudara tersebut.

Ternyata selama ini adiknya benar-benar memendam kemarahan yang disebabkan oleh gaya relasi dengan kakaknya yang bagaikan relasi terapis dan klien, diwarnai oleh arogansi peran terapi kakaknya melalui relasi satu arah (relasi konselor-klien dengan bahasa yang terlampau formal dan tertata dengan baik).

Berbagai macam suara

Kita memiliki berbagai suara yang berbeda yang dapat kita gunakan dalam berbagai jenis iklim relasi yang kita ciptakan. Tantangan utama yang kita hadapi adalah seyogianya kita mengetahui keseluruhan rentang suara yang kita miliki. Dengan demikian, kita tidak terpaku pada satu gaya dan jenis suara tertentu yang membuat justru kita terjebak, atau cenderung membiasakan diri dengan gaya bicara yang sebetulnya tidak membuat terlayani kebutuhan hakiki kita, bila kita bicara dengan gaya dan cara tertentu.

Sebenarnya kita bicara dengan cara berbeda pada orang yang berbeda dan orang yang sama di situasi sosial yang berbeda. Kita tidak melakukan hal tersebut karena kita diombang-ambingkan perasaan sesaat. Setiap orang yang berbeda terstimulasi oleh bagian diri kita yang berbeda pula. Ketahuilah bahwa setiap orang yang berbeda memiliki reseptor yang berbeda pula untuk apa yang dapat didengar atau yang dapat diberi respons.

Beberapa interelasi dapat menoleransi berbagai rangkaian ekspresi yang relatif lebih luas daripada orang lain, apakah yang diekspresikan itu suatu kegilaan, keputusan-keputusan penting dalam kondisi formal tertentu, rasa kekaguman, atau bahkan rasa marah yang tidak terkendali. Kita semua membutuhkan koneksi dengan orang yang membuat diri kita lebih leluasa suaranya daripada orang yang sempit rentang suaranya.

Relasi dalam keluarga cenderung intensif. Bisa saja terkesan kalem, tenang, yang biasanya berupa gaya relasi yang dikelola oleh keberadaan jarak di antara anggota keluarga. Ketahuilah bahwa semakin tinggi tingkat intensitas dalam keluarga, semakin produktif hasil pembicaraannya. Biasanya intensitas membuat iklim relasi menjadi semakin merendah, tetapi cukup berisi, mempertanyakan sesuatu, pertama-tama mendengar, kemudian dengan tenang membicarakan perbedaan pendapat yang terjadi antaranggota keluarga. Dengan cara seperti itu, kita mengundang anggota keluarga lain sehingga mereka merasa dipertimbangkan keberadaannya serta mampu melepas
diri dari gaya bicara yang bersifat defensif

Karena itu, dalam kondisi tertentu, keinginan kita untuk memperlihatkan emosi dan kepekaan perasaan adalah suatu pesan terpenting sekaligus pesan sangat kuat dalam menyampaikan kasih kita pada anggota keluarga.

Demikian pula halnya dengan El yang diceritakan di atas. Ada saatnya kita menempatkan anggota keluarga di ”kursi panas” yang justru akan lebih bermakna daripada kita tempatkan dia di tempat tertentu yang membuat gaya bicara kita halus penuh cinta. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*