KEBEBASAN BERKEYAKINAN – Kehidupan Ganda Kaum Ateis di Indonesia

Papan iklan Atheisme di sebuah bus di London, Inggris (Sumber: dw.com)

Menjalani kehidupan ganda dengan berpura-pura sebagai muslim seringkali menjadi satu-satunya pilihan buat kaum ateis di Indonesia. Tanpanya mereka terancam menjadi korban presekusi atau mendarat di bui.

Baranews.co – Sebagai mahasiswi, Luna Atmowijoyo beribadah lima kali sehari, menolak berjabat tangan dengan pria yang bukan muhrim dan merasa “lebih fundamentalis” ketimbang kedua orangtuanya yang juga muslim. Namun, satu dekade berselang, dia menanggalkan keislamannya dan hidup bersembunyi sebagai seorang ateis lantaran mengkhawatirkan penjara atau persekusi oleh kelompok garis keras.

Menjalani kehidupan ganda dengan berpura-pura sebagai muslim seringkali menjadi satu-satunya pilihan buat kaum ateis di Indonesia. Luna yang hidup bersama kedua orangtuanya misalnya masih mengenakan jilbab agar tidak memicu amarah sang ayah yang tidak mengetahui perubahan pada sang anak.

Padahal perjalanan Luna menuju ateisme diawali dengan hal-hal banal, seperti larangan berteman dengan non-muslim. “Banyak hal sederhana yang mulai mengganggu saya,” kata perempuan berusia 30 tahun tersebut. “Saya misalnya tidak boleh mengucapkan selamat Natal atau selamat hari raya Waisak.”

Perlakuan buruk mayoritas muslim terhadap kaum LGBT juga menjadi masalah lain yang dihadapi Luna. Ketika perempuan yang pernah menjadi anggota sebuah partai Islam itu berusaha mendamaikan tafsir al-Quran dengan sains, dia mendapati diri meyakini sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa Tuhan tidak ada.

Kritik agama adalah hal tabu di Indonesia dan tidak jarang berujung pada hukuman penjara. Belum lama ini seorang mahasiswa didakwa lantaran membandingkan Allah dan dewa-dewi Yunani di akun Facebook-nya. Ia juga mengatakan al-Quran tidak lebih nyata ketimbang buku novel. Kini sang mahasiswa terancam dibui selama lima tahun.

Namun begitu pemerintah menegaskan ateisme tidak ilegal sepanjang tidak dikemukakan di hadapan publik. “Jika yang bersangkutan menyebarluaskan faham tersebut, maka itu baru problematis,” kata Abdurrahman Mas’ud, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Konservatisme agama yang kian mengakar setelah dua dekade kejatuhan Soeharto kerap menempatkan kaum minoritas sebagai bulan-bulanan politik. Seorang penganut Ateisme yang diwawancara AFP khawatir jika politisi populis mengalihkan perhatian khalayak kepada mereka. “Hal paling parah yang bisa terjadi di Indonesia adalah kami bisa dibunuh,” kata seorang desainer grafis berusia 35 tahun yang dibesarkan dalam lingkungan Katholik. “Saya mengkhawatirkan keselamatan saya.”

Terutama mereka yang sebelumnya menganut agama Islam terpaksa menjalani kehidupan ganda untuk menghindari masalah. “Selama mereka diam tidak akan ada banyak risiko,” kata Timo Duile, Pakar Indonesia di Universitas Bonn yang mempelajari fenomena Ateisme di Indonesia. “Itu adalah alasan kenapa kebanyakan ateis selalu memilih tidak disebutkan namanya.” [rzn/hp (afp)/dw.com/swh].

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*