PEMERKOSAAN – Orang Tua Korban Pemerkosaan di Bogor Minta Polisi Tangkap Pelaku

Kondisi ruang tahanan di Kepolisian Sektor Citeureup pada Selasa (10/7/2018) siang. Beberapa pelaku pemerkosaan hingga akhirnya korban meninggal telah diserahkan ke Polres Bogor. Pihak kepolisian belum bisa memberi keterangan jumlah pelaku dengan alasan masih dalam masa penyidikan. (Sumber: SUCIPTO UNTUK KOMPAS).

Bogor, Baranews.co – Orang tua korban pemerkosaan di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor berharap pelaku segera tertangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku. Korban pemerkosaan, FN, meninggal dunia seminggu setelah diperkosa. Ia diduga menderita depresi berat.

“Anak saya, meninggal Selasa minggu lalu di pangkuan saya sekitar pukul 04.30. Hari itu juga saya bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Bogor untuk di autopsi,” kata ECP (36), orang tua korban pada Selasa (10/7/2018).

Orang tua korban mendapat informasi dari teman dekat korban bahwa sebelum meninggal, FN pernah bercerita kepada kawannya, bahwa ia diperkosa oleh sekitar delapan orang.

Mengetahui hal tersebut, orang tua FN langsung melaporkannya ke Kepolisian Sektor Citeureup karena diduga tempat kejadian ada di wilayah itu. Sampai saat ini, pihaknya belum mendapat laporan perkembangan dari penyidik.

“Saya berharap pelaku segera tertangkap. Kami sudah menunggu terlalu lama. Kami juga tidak menerima laporan perkembangan proses penyidikan. Saya mau tahu penyebab anak saya meninggal,” kata ECP.

Ia mengatakan, pihak keluarga berharap kasus semacam ini harus diusut tuntas dan tidak ditunda-tunda.

“Saya ingin kejadian ini terjadi lagi di kemudian hari dan tidak dialami lagi oleh anak lainnya,” kata ECP.

Depresi berat

ECP mengatakan, putrinya mulai terlihat aneh pada Senin (2/7/2018) siang. Saat itu, tatapan mata FN kosong. Ia terbaring seharian di tempat tidur.

Hari itu, FN tidak berbicara sama sekali. Ketika diajak bicara, ia hanya membolak-balik badan ke kanan dan ke kiri. “Ketika disuapi makanan dan minuman, dia keluarkan lagi. Dia juga tidak mau bicara,” kata ECP.

Hal tersebut membuat keluarga khawatir. Akhirnya, pihak keluarga berniat membawanya ke klinik terdekat. Namun, ketika diangkat dari kasur, tubuh FN lemas tidak bertenaga. Ia terjatuh kembali ke kasur. Hal tersebut terjadi beberapa kali.

SUCIPTO UNTUK KOMPAS

Kasus pemerkosaan yang mengakibatkan korban FN depresi berat dan akhirnya meninggal sedang ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Bogor, Selasa (10/7/2018).

Dari sana, pihak keluarga mengetahui bahwa darah keluar dari kemaluan FN. Pihak keluarga curiga bahwa itu bukan darah haid karena masa haid korban sudah lewat.

“Setelah diperiksa di klinik, katanya anak saya depresi berat dan butuh pendampingan khusus,” kata ECP.

Setelah itu, pihak keluarga membawanya kembali ke rumah. Mereka berniat membawa ke RS keesokan harinya.

Di rumah, FN masih bungkam, tidak mau bicara dan tidak mau makan. Ia hanya mengeluarkan suara ketika punggungnya dikerik oleh ayahnya. Saat itu, FN merintih pelan. Hanya itu suara yang keluar dari mulut FN.

Dilecehkan
ECP kemudian menghubungi adik iparnya. Ia meminta adik iparnya untuk mengabarkan keadaan tersebut kepada kawan terdekat FN. Adik ipar ECP kemudian mendapatkan cerita tak terduga dari kawan terdekat FN.

Kawan terdekatnya itu mengatakan, FN pernah bercerita bahwa ia dilecehkan oleh sekitar 8 orang pada Selasa (26/6/2018). Adik ipar ECP kemudian menyampaikan hal itu kepada orang tuanya.

Mendengar hal itu, orang tua ECP berniat memvisum putrinya pada keesokan harinya. Namun, niat itu tidak terwujud karena FN mengembuskan nafas terakhir sekitar pukul 04.30 pada Selasa (3/7/2018).

Pihak keluarga baru bisa membawa FN ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk divisum sekitar pukul 09.00 pada hari itu, ketika FN sudah tak bernyawa.

Ibu korban, AS (38) memperkirakan putrinya dilecehkan antara siang hari dan sore hari. Ketika AS pulang kerja sekitar pukul 19.00, putrinya sudah ada di rumah bersama dua adiknya.

Saat itu, dia belum melihat ada gejala aneh dari putrinya itu. AS tidak bercerita banyak terkait kronologi kematian putrinya. Saat bercerita, matanya berkaca-kaca.

SUCIPTO UNTUK KOMPAS

Suasana jalan raya di Kecamatan Gunung Putri pada Selasa (10/7/2018) malam.

Ketika dimintai konfirmasi, Kapolsek Citeureup, Darwan mengatakan, pelaku yang berhasil ditangkap oleh Polsek Citeurep sudah dikirim ke Polres Bogor pada hari itu. Ia enggan memberikan keterangan lebih lanjut karena kasus sudah diserahkan ke Polres Bogor.

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Bogor, Irine, ketika dihubungi Kompas, mengatakan bahwa beberapa pelaku sudah dikirim ke Polres Bogor. Namun, ia juga enggan memberi keterangan lebih lanjut dengan alasan kasus masih didalami.

Lokasi kejadian pemerkosaan diperkirakan di sebuah rumah kosong di Kampung Bojong Engsel RT 02/RW05, Kelurahan Tarikolot, Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ini melengkapi informasi resmi dari Polsek Citereup sebelumnya. Kemarin, tempat kejadian sudah disterilkan oleh pihak Polres Citereup dan dipasangi garis polisi.

Kompas berusaha menelusuri tempat tersebut. Kasus ini sudah menyebar cukup luas. Meskipun masih samar, warga sekitar tempat kejadian mengetahui dari mulut ke mulut.

Ketua RT 02/RW 01 Kampung Tonggoh, Kelurahan Gunungsari, Citereup, Kab. Bogor, Boman (52), menceritakan, ia mendapat kabar itu pertama kali dari grup WhatsApp perangkat kelurahan Gunungsari.

“Ada kasus begitu. Dikasih tahu di grup WA Kelurahan hari Minggu kemarin (8/7/2018). Kita biasa kalau di kelurahan kalau ada rapat yang penting begitu, dikasih tahu lebih dulu lewat grup, baru undangannya belakangan,” katanya.

Namun, ia tidak tahu secara jelas tindak lanjut masalah itu.  Kampung Tonggoh, kata Boman, bersebelahan dengan Kampung Bojong Engsel. Ia mengatakan, Kampung Bojong Engsel dan Kampung Gunungsari dilintasi saluran conveyer milik PT Indocement yang mengalirkan bahan baku pasir. (E22/E20/E09)/Haraian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*