Cegah Radikalisme, Petinggi Kampus Diminta Aktif Awasi Mahasiswa

Untuk mencegah terus berkembangnya gejala radikalisme di beragam kampus, mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, menyerukan agar pimpinan perguruan tinggi aktif mengawasi kegiatan mahasiswa di kampusnya.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra (kiri) berbicara dalam acara seminar tentang radikalisme di kampus PTN dan dampaknya bagi masa depan di Jakarta, Selasa (7/10). (Foto: VOA/Fathiyah)

Baranews.co – Masyarakat dikejutkan oleh penangkapan tiga alumnus Universitas Riau awal bulan lalu, yang diduga terlibat dalam kegiatan terorisme. Ketiganya diduga merencanakan sekaligus mempersiapkan rencana serangan teror di bekas kampus mereka. Peristiwa ini menguatkan kecemasan banyak kalangan bahwa paham radikal sudah menyusup ke berbagai perguruan tinggi.

Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra dalam sebuah diskusi di Jakarta hari Selasa (10/7) mengakui gejala radikalisme sudah merebak di beragam kampus, termasuk di tujuh universitas negeri paling top di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga. Ditambahkannya, paham radikal juga sudah menyebar di kampus-kampus Islam negeri.

Menurut Azyumardi, ada beberapa alasan kenapa gejala radikalisme bisa berkembang di perguruan tinggi. Pertama, banyak pihak meyakini kampus harus memiliki kebebasan dan bersifat otonom. Pimpinan kampus ujarnya biasanya tidak terlalu peduli dengan perkembangan kemahasiswaan.

“Selama mahasiswa nggak ribut, nggak mendemo rektorat, ya sudah aman. Rektorat biasanya juga tidak peduli terhadap penggunaan fasilitas kampus oleh kelompok-kelompok mahasiswa. Karena itulah, fasilitas-fasilitas kampus itu digunakan sebagai tempat pelatihan dan dikuasai oleh kelompok mahasiswa kanan, yaitu Lembaga Dakwah Kampus,” ungkapnya.

Untuk itu, Azyumardi menyerukan agar pimpinan perguruan tinggi aktif mengawasi kegiatan mahasiswa di kampusnya.

Lebih jauh Azyumardi menjelaskan bahwa Islam di Indonesia merupakan agama yang fleksibel dan akrab dengan budaya; dan oleh karena itu ekspresi budaya dalam Islam di Indonesia merupakan yang paling kaya di seluruh dunia. Kehadiran Hizbut Tahrir pada tahun 1970an masih belum menimbulkan dampak berarti karena organisasi itu belum muncul ke permukaan secara terang-terangan. Hizbut Tahrir dan kelompok-kelompok radikal baru unjuk gigi setelah tumbangnya Orde Baru dan muncul fragmentasi politik.

Azyumardi menggarisbawahi adanya kekuatan-kekuatan politik yang merestui dan bahkan memelihara kelompok-kelompok garis keras untuk kepentingan politik dan pemilihan umum.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakan semua pihak perlu memahami perbedaan antara radikalisme yang disertai aksi kekerasan ala Jamaah Ansarud Daulah (JAD) yang pro-ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), dan gerakan yang non-kekerasan seperti Hizbut Tahrir. Pemahaman ini penting untuk melawan radikalisme di kampus.

Menurut Sidney, radikalisasi gaya ISIS atau radikalisasi ala Hizbut Tahrir sudah muncul jauh sebelum anak-anak masuk ke perguruan tinggi.

“Karena sekarang ini hampir semua kelompok ekstrem atau radikal, termasuk gerakan salafi, sudah menarget SMA, kadang-kadang SMP. Jadi waktu masuk ke universitas, sudah terkontaminasi oleh ajaran-ajaran itu,” ujarnya.

Sidney menjabarkan sebuah penelitian pada tahun 2011 yang menunjukkan bahwa guru agama di sekolah-sekolah negeri telah menjadi semacam alat radikalisasi di SMP dan SMA. Menteri Agama ketika itu pun sudah mengakui sulitnya mengawasi semua guru agama yang ditempatkan di sekolah-sekolah negeri.

Sidney menekankan ada kegiatan-kegiatan di dalam dan di luar kampus, dan sejumlah lembaga terkait universitas yang tidak bisa dikendalikan pimpinan kampus. Contohnya upacara pembaiatan kepada pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada Juli 2014.

Oleh karena itu peneliti terorisme dan radikalisme itu menyarankan petinggi universitas menentukan siapa yang mesti menjadi imam di masjid kampus dan kelompok-kelompok pengajian mana yang diizinkan menggunakan masjid kampus.

Lebih jauh Sidney mengakui adanya sel-sel kekerasan di beragam perguruan tinggi di Indonesia meskipun sebagian besar pengajian atau kegiatan kelompok ekstrem pro-ISIS diselenggarakan di luar kampus. Ia tidak heran jika akan lebih banyak serangan teror tahun-tahun mendatang dibanding 2-3 tahun belakang ini.

Lalu mengapa banyak mahasiswa tertarik pada gagasan ISIS, terutama soal pembentukan khilafah?

Menurut Sidney, sebagian besar mahasiswa percaya bahwa perang akhir zaman akan terjadi di Syam – atau Suriah – dan dipimpin oleh ISIS sampai turunnya Imam Mahdi. Lainnya meyakini khilafah adalah negara Islam yang murni dan mereka ingin membesarkan sekaligus mendidik anak-anak mereka di dalam negara Islam seperti itu. Karena itulah, tambah Sidney, ada banyak jihadi ISIS pergi ke Suriah mengajak keluarga mereka.

Sekarang ini, kata Sidney, Jamaah Ansarud Daulah (JAD) merupakan organisasi pendukung ISIS terbesar di Indonesia. Meskipun tidak terstruktur, JAD beraliansi dengan sel-sel teror yang bergerak secara otonom. Terlebih pasca ditangkapnya pemimpin JAD awal 2017 lalu.

Sidney mengingatkan tewasnya dua pentolan ISIS asal Indonesia di Suriah – Bahrumsyah dan Bahrun Naim, dan eksekusi pemimpin ideologis JAD Aman Abdurrahman, tidak berarti kelompok-kelompok pro-ISIS tidak berfungsi lagi. Ini dikarenakan proses regenerasi berlangsung terus menerus; dan ironisnya, proses ini terutama berlangsung di dalam penjara. (voaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*