WIMBLEDON – Akankah Keajaiban Federer Berlanjut?

Roger Federer mencium trofi juara Wimbledon setelah mengalahkan Marin Cilic (Kroasia) pada final di All England Club, London, Inggris, 16 Juli 2017. Ini adalah gelar kedelapan petenis Swiss tersebut di Wimbledon. (Sumber: KOMPAS/AP PHOTO/ALASTAIR GRANT).

Roger Federer kembali diunggulkan meraih gelar di Wimbledon tahun ini. Dia dinilai tahu apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan prestasinya pada usia yang tidak lagi muda.

”Wow,” kata Martina Navratilova, sembilan kali juara tunggal putri Wimbledon. ”Luar biasa, menakjubkan, tak masuk akal”.

Navratilova menyampaikan kekagumannya tentang kemungkinan Roger Federer meraih trofi juara Wimbledon sebanyak yang dia punya. Meski masih menjadi petenis dengan gelar tunggal terbanyak di Wimbledon, pada akhir 1970-an hingga 1990, Navratilova memberi pujian khusus bagi Federer.

Jika Federer juara pada turnamen yang berlangsung 2-15 Juli ini, ini akan menjadi gelar kesembilannya di lapangan rumput All England Club pada usia sebelum berusia 37 tahun pada 8 Agustus.

Usia Federer lebih tua daripada Navratilova yang berusia 33 tahun saat meraih gelar kesembilan Wimbledon. Itu adalah gelar grand slam terakhirnya pada nomor tunggal. Berpasangan dengan Bob Bryan, Navratilova menjuarai ganda campuran Amerika Serikat Terbuka pada usia 50 tahun, sebelum pensiun sebagai petenis.

”Ajaib, Federer masih bisa melakukannya pada usia 36 tahun. Jika dia juara sembilan kali, saya angkat topi untuknya karena dia bisa melakukannya pada usia seperti ini. Menjuarai Wimbledon sangat sulit. Juara pada usia seperti Federer sangat tak masuk akal,” tutur Navratilova dalam laman resmi Wimbledon.

Petenis yang bermain di arena profesional pada 1975-2006 itu pernah merasakan kesulitan bertanding setelah memasuki usia 30-an. ”Semuanya menjadi serba lambat bagi saya, termasuk dalam proses pemulihan. Butuh perjuangan lebih keras untuk menang,” katanya.

Dalam analisisnya, Navratilova mengatakan, Federer bisa melalui rintangan itu karena dia sangat paham apa yang harus dilakukan dalam masa persiapan. ”Dia melakukannya seperti ‘bentuk seni’. Persiapan bukan sekedar latihan fisik. Federer tahu berapa banyak harus mengulang gerakan dalam latihan, kapan harus melakukannya, termasuk kapan dan apa yang harus dimakan,” lanjutnya.

Pelatih fisik Federer, Pierre Paganini, pernah mengatakan, petenis Swiss itu selalu berusaha memahami setiap program latihan yang diberikan. ”Dia selalu bertanya apa gunanya, hingga saat ini,” kata Paganini pada The New York Times, akhir 2017.

AP PHOTO/ALASTAIR GRANT,

Wasit turnamen Alan Mills memberi selamat pada Roger Federer (kanan), yang menagis haru setelah mengalahkan petenis Australia Mark Philippoussis di final Wimbledon, 6 Juli 2003. Sejak saat itu, Federer yang masih berusia 21 tahun, mengawali dominasinya di sektor tunggal putra, termasuk dengan merebut delapan gelar juara Wimbledon dan total 20 juara grand slam.

Salah satu yang dilakukan Federer untuk menyesuaikan diri dengan usia adalah dengan melewatkan semua pertandingan lapangan tanah liat, yang sangat menguras fisik, pada 2017 dan 2018. Pada musim lalu, taktik ini membuatnya segar saat kembali ke lapangan rumput, hingga dia menjuarai Wimbledon tanpa kehilangan satu set pun.

Musim ini, dia tetap menjadi favorit juara, meski beberapa petenis bisa menyulitkannya di lapangan rumput yang berkarakter cepat. Marin Cilic (finalis Wimbledon 2017), Novak Djokovic (juara Wimbledon 2011, 2014, 2015), dan Nick Kyrgios adalah petenis-petenis yang bisa menghambat perjalanan Federer.

Rival utamanya, Rafael Nadal, tak masuk hitungan meski dia pernah juara pada 2008 dan 2010. Sejak 2012, jagoan lapangan tanah liat ini tak pernah bisa melewati babak keempat Wimbledon.

 

Obsesi

Selain kemampuan teknis, yang membuat permainannya selalu indah seperti sebuah pertunjukan seni, Pat Cash menilai, Federer memiliki motivasi yang belum bisa disamai petenis lain. Mantan petenis nomor satu dunia asal Australia ini bahkan menyebut motivasi besar Federer dan Nadal seperti obsesi.

”Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa melakukannya. Saya tak tahu apa yang mendorong mereka menjadi seperti saat ini. Menurut saya, itu adalah bentuk obsesi,” kata Cash, juara Wimbledon 1987, dalam CNN.

”Novak bersikap normal. Dia pernah mengatakan kehilangan motivasi. Petenis pada era saya juga pernah kehilangan motivasi karena perjalanan untuk menjalani tur tak senyaman saat ini. Yang ‘tidak normal’ adalah Federer dan Nadal. Mereka tetap punya motivasi dan standar yang tinggi. Saya tak sepenuhnya paham dengan motivasi mereka, mungkin ingin selalu tampil lebih baik dan menambah gelar juara. Mereka adalah petenis fenomenal,” ujar Cash. (YULIA SAPTHIANI/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*