PIALA DUNIA 2018: Rusia Menjaga Mimpi Besarnya

Kiper Rusia Igor Akinfeev menghadang tendangan penalti penendang kelima Spanyol, Iago Aspas, dengan kaki kirinya. Rusia lolos ke perempat final Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Spanyol lewat adu penalti, 4-3 (1-1), di Stadion Luzhniki, Moskwa, Rusia, Minggu (1/7/2018). (Sumber: KOMPAS/REUTERS/KAI PFAFFENBACH).

Moskow, Baranews.co – Tim elang emas Rusia mengembangkan sayapnya untuk terbang tinggi setelah melibas Spanyol pada laga babak 16 besar dengan skor 4-3 (1-1) melalui adu penalti, Minggu (1/7/2018) di Stadion Luzhniki, Moskwa. Kegigihan dan kepercayaan diri para pemain Rusia membuat permainan tiki-taka dan dominasi penguasaan bola ala Spanyol menjadi tidak berarti.

Laga harus diselesaikan melalui adu penalti setelah skor 1-1 tak berubah hingga perpanjangan waktu 2 x 15 menit. Kiper Rusia Igor Akinfeev menjadi pahlawan dengan menahan dua tendangan penalti Spanyol yang dilepaskan oleh Koke dan Iago Aspas.

Kemenangan Rusia menegaskan permainan efektif menjadi lebih unggul dibandingkan dominasi penguasaan bola pada Piala Dunia 2018 ini. Sebelumnya, Argentina dan Portugal yang mendominasi penguasaan bola sampai lebih dari 58 persen dari waktu permainan justru kalah dari Perancis dan Uruguay yang bermain efektif.

”Mereka (Rusia) menjaga kepercayaan diri mereka di dalam situasi yang luar biasa, di depan suporter mereka,” tulis Alan Shearer, mantan striker Inggris, di BBC.

Spanyol mendominasi penguasaan bola sampai 74 persen, tetapi tidak efektif dalam penyelesaian akhir sehingga hanya mendapat satu gol dari gol bunuh diri Sergey Ignashevich. Sebaliknya, Rusia yang tampil penuh keberanian mencetak gol penyeimbang melalui tendangan penalti Artem Dzyuba.

Bagi Rusia, kemenangan itu membuat mereka mulai dapat bermimpi untuk menyamai prestasi pada zaman Uni Soviet. Pada Piala Dunia Inggris 1966, Uni Soviet mencapai semifinal.

Sejak menjadi Federasi Rusia pada akhir 1991, negeri beruang merah itu baru empat kali lolos ke Piala Dunia dan semuanya tertahan di penyisihan grup. Dengan kemenangan itu, Rusia berhak maju ke babak perempat final.

Pada babak delapan besar, Rusia akan menghadapi pemenang antara Kroasia dan Denmark, Senin dini hari tadi. Bekal kemenangan atas Spanyol memberi kepercayaan diri yang besar bagi Rusia.

Kroasia adalah tim yang memiliki ketajaman pada lini depan. Lini tengah mereka juga sangat kuat dan memiliki pressing yang luar biasa. Rusia harus dapat bertarung di lini tengah untuk menghindari serangan tajam Kroasia.  Sementara Denmark memiliki pertahanan ketat dan serangan cepat yang mirip dengan Rusia. Jika mereka bertemu, ini akan jadi duel panas.

Rusia juga mulai menemukan pola permainan yang cocok bagi mereka, dengan pertahanan yang ketat dan serangan balik yang cepat dari kedua sayap. Keunggulan dari sisi stamina dan kecepatan dapat menjadi modal berharga pada perempat final.

Sebaliknya, bagi Spanyol, kekalahan itu membuat mereka memperpanjang kutukan selalu kalah dari tuan rumah. Kutukan itu dimulai pada Piala Dunia 1934 saat Spanyol kalah pada perempat final dari Italia. Pada Piala Dunia 1950, Spanyol dihentikan Brasil pada fase grup. Pada Piala Dunia 2002, Korea Selatan melibas Spanyol di perempat final melalui adu penalti.

Spanyol memainkan dominasi penguasaan bola untuk mengurung pertahanan Rusia sejak awal laga. Permainan umpan-umpan pendek membuat para pemain Rusia kesulitan mendapatkan bola dan mengembangkan permainan.

Meskipun bermain dominan, penyelesaian akhir Spanyol masih tumpul karena Rusia bertahan dengan ketat. Diego Costa yang menjadi ujung tombak Spanyol sulit mendapat suplai bola.

Gol pertama Spanyol pada menit ke-12 berbau keberuntungan. Bola dari tendangan bebas Marco Asensio mengenai kaki belakang Ignashevich dan memantul ke dalam gawang.

Rusia yang tertinggal satu gol berani menyerang dari kedua sayapnya. Rusia mengandalkan kecepatan dan stamina prima untuk menyerang balik setiap kali berhasil mencuri bola.

Kepanikan saat diserang membuat Isco membuang bola dan berbuah sepak pojok bagi Rusia. Sepak pojok itu menjadi malapetaka bagi Spanyol karena sundulan pemain Rusia mengenai tangan Gerard Pique dan wasit menunjuk titik putih. Artem Dzubya yang menjadi algojo membuat skor menjadi imbang 1-1. Gol itu menjadi gol ketiga bagi Dzubya pada Piala Dunia ini.

Pada babak kedua, masuknya Andres Iniesta dan Iago Aspas tidak membuat Spanyol menjadi lebih tajam. Laga pun dilanjutkan ke adu penalti. Empat eksekutor Rusia Fedor Smolov, Sergei Ignashevich, Aleksandr Golovin, dan Denis Cheryshev mencetak gol dan dua algojo Spanyol Koke dan Aspas gagal mencetak gol. (AP/AFP/REUTERS/ECA)/HERPIN DEWANTO DARI MOSKWA, RUSIA/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply