Kesenjangan Teknologi Semakin Menyempit untuk Tim-Tim Piala Dunia

Pemain Eslandia, Gylfi Sigurdsson, kanan mencetak gol pembuka lewat tendangan penalti dalam pertandingan grup D antara Eslandia melawan Kroasia, pada pertandingan Piala Dunia 2018 di Rostov Area di Rostov-on-Don, Rusia, 26 Juni 2018 (Sumber: VOA Indonesia/AP Photo/Vadim Ghirda)

Seiring dengan mengalirnya miliaran bytes data dari lapangan ke peralatan dalam genggaman, kesenjangan teknologi semakin menyempit di antara tim-tim peserta Piala Dunia.

Fokus utama saat ini masih pada perwasitan yang dibantu oleh rekaman video, kemajuan teknis yang tidak terlalu kentara sedang bekerja di Rusia dan wasit-wasit semakin memiliki kendali di bidang ini setidaknya.

Peralatan paling canggih untuk melacak pergerakan pemain dan mengumpulkan data tidak lagi hanya milik negara terkaya. Semua negara finalis Piala Dunia sekarang memiliki akses yang disediakan FIFA kepada deretan sistem untuk menganalisis dan melacak pertandingan secara elektronik.

“Kami sungguh-sungguh memberi perhatian besar kepada semua perangkat ini,” ujar pelatih Polandia, Adam Nawalka. “Statistik memainkan peran penting untuk kami. Kami menganalisis kekuatan dan kelemahan kami.”

Teknologi canggih yang tersedia untuk semua tim setelah badan pembuat aturan dalam sepakbola ini – di hari yang sama di bulan Maret menyetujui sistem perwasitan yang didukung oleh rekaman video – menyetujui penggunaan peralatan genggam elektronik dan komunikasi di bidang teknis untuk keperluan penentuan taktik dan kepelatihan yang sesuai. Peralatan ini memungkinkan terjadinya komunikasi langsung antara para pelatih di bangku pinggir lapangan dan analis di tribun, sebuah perubahan dibandingkan dengan Piala Dunia 2014 yang lalu dimana informasi yang dikumpulkan dari pemain dan sistem pelacakan bola di masa lalu tidak dapat ditransmisikan saat itu juga dari tribun.

“Ini pertama kalinya mereka mampu berkomunikasi dalam pertandingan,” ujar kepala bidang teknologi FIFA, Johannes Holzmueller, kepada The Associated Press. “Kami memberikan statistik dasar dan paling penting kepada tim-tim peserta untuk dianalisis. Di sana mereka memiliki peluang untuk memanfaatkan peluang yang disediakan oleh FIFA atau menggunakan peralatan milik mereka sendiri.”

KPI – atau indikator kinerja utama – yang diteruskan dari kamera pelacak dan satelit memberikan perspektif yang berbeda saat para pelatih membuat keputusan untuk pergantian pemain atau perubahan taktik di saat kesenjangan di lapangan mampu terungkap.

“Semua peralatan ini sangat praktis, mereka memberikan hasil analisis kepada kami, peralatan ini sangat positif,” ujar pelatih Kolombia, Jose Pekerman. “Peralatan ini membuka wawasan kami. Mereka mendukung semua peralatan yang telah kami miliki. Peralatan ini membantu pekerjaan kami sebagai pelatih, dan membantu para pemain juga. Saya rasa kemajuan teknologi adalah hal yang sangat positif.”

Bukan sekedar keberhasilan dalam pertandingan. Kondisi pemain juga dapat lebih terpantau dengan peralatan-peralatan berteknologi tinggi untuk melihat cedera secara langsung untuk dianalisis oleh tenaga medis di Piala Dunia ini. Rekaman insiden sekarang dapat dievaluasi untuk mendukung setiap diagnosis di lapangan, khususnya kasus-kasus gegar otak.

Tenaga medis pendukung “dapat mengkaji dengan sangat jelas, sangat nyata apa yang terjadi di lapangan, apa yang mungkin tidak terlihat oleh dokter-dokter yang duduk di bangku di tepi lapangan,” ujar ketua komite medis FIFA Michel D’Hooghe.

Pekerman bersyukur “bidang sepakbola mengalami kemajuan yang sangat pesat.” Terlalu pesat malah untuk beberapa pelatih yang kurang sepakat dengan bertambahnya peran mesin dibandingkan kekuatan pikiran.

“Sepakbola tengah berevolusi dan semua peralatan ini membantu kami dari sisi taktik dan fisiologis,” ujar pelatih Senegal, Aliou Cisse. “Kami memberi perhatian kepada semua kemajuan ini bersama para staf, namun semua informasi ini tidak mempengaruhi keputusan yang saya ambil.”

Hernan Dario Gomez, pelatih dari tim pendatang baru di Piala Dunia, Panama, telah mengkaji semua data yang disajikan. Namun akhirnya tim ini harus tereliminasi di tahap grup setelah menghadapi lawan-lawan yang lebih unggul.

“Sudah barang tentu ini adalah informasi yang sangat penting, namun tidak lebih penting dari para pemain yang sesungguhnya,” ujar Gomez. “Kami lebih mengutamakan para pemain dan kerjasama tim yang dilakukan.”

Data terkait para pemain yang disediakan oleh FIFA masih bergantung pada kualitas analis yang menafsirkannya.

“Anda dapat memiliki jutaan data, namun bagaimana anda dapat memanfaatkan semua informasi yang ada?” ujar Holzmueller. “Pada akhirnya bahkan apabila anda bukan sebuah negara kaya, dengan seorang analis yang sangat-sangat cerdas kemungkinan anda dapat memiliki keunggulan lebih dibandingkan negara yang memiliki 20 analis apabila mereka tidak benar-benar memahami bagaimana mereka harus menafsirkan data dan apa yang harus mereka perbuat dengan semua informasi yang tersedia.

“Jadi kembali lagi kepada masing-masing tim dan terserah kepada setiap pelatih karena kami sadar untuk beberapa pelatih akan ada yang berkata, ‘Dengar saya memiliki firasat ini … saya tidak membutuhkan informasi ini.’”

Bagi FIFA hal itu tidak masalah. Staf teknis dari badan pengatur sepakbola – sisi yang sering kalah pamor dengan dewan pengarah dengan anggota-anggota yang lebih sering mendapat sorotan – akan terus berinovasi.

Namun kecerdasan buatan belum akan mengambil alih. Paling tidak hingga waktu tertentu.

“Orang mengira sekarang semuanya dikendalikan oleh komputer,” ujar Holzmueller. “Bukan hal itu yang kita inginkan di FIFA.” [ww]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*