Bawaslu NTT Rekomendasikan Pemilihan Ulang di 27 TPS

Calon wakil gubernur NTT nomor urut 2, Emi Nomleni yang berpasangan calon calon gubernur NTT Marianus Sae, yang sedang dalam tahanan KPK karena menjadi tersangka korupsi, sedang melakukan pencoblosan di TPS 02 kelurahan Oetete Kecamatan Oebobo Kota Kupang, 27 Juni. Emi Nomleni berada pada urutan ke-2 dukungan suara masyarakat, sesuai hasil quick count lembaga survei. (Sumber: KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA).

Kupang, Baranews.co – Badan Pengawas Pemilu Provinsi Nusa Tenggara Timur merekomendasikan kepada KPUD NTT untuk menyelenggarakan pemilihan ulang di 27 tempat pemungutan suara. Ke-27 TPS itu tersebar di tujuh kabupaten dari total 22 kabupaten/kota, yang mengikuti pemilu. Telah terjadi sejumlah pelanggaran pencoblosan di 27 TPS itu.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nusa Tenggara Timur (NTT) Jemris Fointuna di Kupang, Sabtu (30/6) mengatakan, jumlah 27 TPS tersebut sudah direkomendasikan Bawaslu kepada KPUD NTT untuk menyelenggarakan pemilihan ulang.

“Terjadi sejumlah pelanggaran. Itu sengaja dilakukan petugas KPPS, saksi, dan pengawas saat pencoblosan dan perhitungan surat suara berlangsung. Tindakan ini untuk menguntungkan salah satu pasangan calon gubernur –wakil gubernur, atau bupati-wakil bupati,” kata Fointuna.

Dugaan pelanggaran-pelanggaran tersebut antara lain, ada saksi atau petugas KPPS yang mencoblos seluruh surat suara di TPS, warga dari kabupaten lain melakukan pemungutan suara di kabupaten yang berbeda terutama, di wilayah perbatasan. Selain itu, diduga ada warga yang sama melakukan pencoblosan di beberapa TPS di desa itu, surat suara sisa dicoblos KPPS dan saksi. Jenis pelanggaran lainnya adalah perhitungan surat suara tidak dilakukan TPS bersangkutan, tetapi dilakukan di kediaman kepala desa.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Agus Ndun (52) petugas KPPS sedang memperlihatkan surat suara yang telah coblos pemilih kepada saksi dan masyarakat yang hadir, di TPS 02 Kelurahan Oetete Kota Kupang. Di TPS, tempat Emi Nomleni mencoblos, pasangan calon gubernur nomor urut 2, Marianus Sae-Emi Nomleni mendapat dukungan terbanyak dengan 187 suara, menyusul pasangan nomor 4, Viktor Laiskodat-Yosef Nae Soi sebanyak 133 suara, nomor urut satu, Esthon Foenay-Chris Rotok 38 suara, dan nomor urut tiga, Beny K Harman-Benny Litelnoni sebanyak lima suara.

Semua pelanggaran ini sesuai laporan masyarakat, saksi, anggota KPPS, dan tim sukses dari pasangan calon tertentu, ditindaklanjuti dengan hasil investigasi Panwaslu di  TPS bersangkutan. Hasil investigasi ini diteruskan ke Bawaslu, yang kemudian merekomendasikan pemilihan ulang di TPS-TPS itu.

Meski saat ini sudah berlangsung pleno rekapitulasi hasil pemungutan suara di tingkat kecamatan, tetapi pencoblosan ulang tetap dilaksanakan. Pencoblosan ulang ini akan dikawal ketat aparat keamanan dan komisioner KPUD setempat.

Pemilihan ulang dilakukan di Kabupaten Sumba Barat Daya, tersebar di dua TPS, Kabupaten Alor sebanyak tiga TPS, Kabupaten Kupang lima TPS, Belu satu TPS, Timor Tengah Selatan 12 TPS, Malaka satu TPS, dan Kabupaten Rote Ndao sebanyak tiga TPS sehingga total mencapai 27 TPS. KPUD setempat segera menyelanggarakan pemilihan ulang dalam pekan ini.

Agus Nggada Bulu (45) warga Desa Redang Bolo Kecamatan Wewewa Bara Kabupaten Sumba Barat Daya, yang menyerahkan mandat kepada saksi untuk melakukan pencoblosan mengatakan, tidak ada yang salah dalam proses itu. Jumlah 568 calon pemilih di TPS 02 Desa Redang Bolo sepakat menyerahkan seluruh surat suara dicoblos saksi secara aklamasi. Semua calon pemilih sepakat memilih salah satu pasangan calon bupati.

“Silakan menunjukkan di mana kesalahan itu. Tidak ada unsur paksaan, tekanan, intimidasi, atau kejadian chaos yang menyebabkan pemungutan suara harus diulang. Kami calon pemilih menyerahkan mandat itu kepada saksi dengan sadar dan bertanggungjawab. Karena itu, jika dilakukan pencoblosan ulang maka Pilkada di seluruh Sumba Barat Daya dilakukan pencoblosan ulang, tidak hanya di TPS 02,”kata Nggada Bulu.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Emi Nomleni calon wakil gubernur NTT yang berpasangan dengan Marianus Sae , mendaftar di TPS 02 Kelurahan Oetete Kota Kupang untuk mencoblos setelah memperlihatkan surat udangan dari KPPS.

Juru Bicara KPUD NTT Yosafat Koli mengatakan, warga boleh memberikan pendapat. Tetapi pihak penyelenggara pemilu tetap berpedoman pada Undang Undang Pemilu yang ada. Pemilihan itu harus melibatkan masyarakat langsung, tidak diwakili siapa saja. Orang cacat pun  hanya bisa dituntun, tidak bisa diwakili memilih di dalam di TPS.

Hasil penyelidikan Panwaslu menyebutkan, pencoblosan ole KPPS, saksi atau warga di beberapa TPS, hanya untuk menguntungkan pasangan calon gubernur, dan pasangan calon bupati tertentu. Pemilihan ulang harus dilukan di 27 TPS itu, dikawali aparat keamanan, selain petugas KPPS, tim pemantau, dan saksi. (KORNELIS KEWA AMA/Kompas).

Be the first to comment

Leave a Reply