KAPAL TENGGELAM Di DANAU TOBA: Usaha dan Doa Mencari Korban

Keluarga korban melakukan doa dan tabur bunga di dermaga Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (25/6/2018). (Sumber: KOMPAS/PRIYOMBODO).

Kehilangan korban tenggelamnya KM Sinar Bangun tak hanya dirasakan keluarga. Warga sekitar Danau Toba pun bahu-membahu secara sukarela membantu tim SAR gabungan mencari para korban.

Udara dingin belum beranjak dari Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, saat tim SAR gabungan melakukan apel operasi pencarian Kapal Motor Sinar Bangun, Senin (25/6/2018) pukul 07.00. Anggota tim lalu bergegas naik ke perahu karet, ada pula yang berjalan kaki menelusuri tepi danau, mengerahkan alat pendeteksi benda bawah air, dan melakukan penyelaman.

Salah satu tim penting dalam pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun adalah tim penyelam dari Batalyon Intai Amfibi dan Pasukan Khusus Badan SAR Nasional. Sejak kapal tenggelam, mereka menyelam dan melakukan pencarian hingga kedalaman 50 meter.

Instruktur Selam Batalyon Intai Amfibi 2/Marinir Pembantu Letnan Dua Boflen Sirait mengatakan, dirinya selalu mengingatkan anggotanya bahwa tugas yang mereka lakukan adalah untuk kemanusiaan.

Boflen menambahkan, setelah mendapat kabar bahwa KM Sinar Bangun tenggelam, Senin (18/6), mereka langsung melakukan persiapan untuk ke Tigaras. Tim dengan 13 penyelam tiba di Tigaras, Rabu, dan langsung melakukan penyelaman. Hingga Senin (25/6) malam, 164 orang masih hilang. Sebanyak 21 orang ditemukan selamat dan 3 orang tewas.

Menurut Boflen, menyelam di perairan Danau Toba berbeda dengan menyelam di laut. Suhu di bawah permukaan air danau sekitar 10 derajat celsius. Tekanan air juga kuat sekali. Jarak pandang hanya 1-2 meter.

Mereka menyelam mulai pukul 07.00 hingga 17.00. Dalam sehari mereka menyisir perairan hingga radius 500 meter. Penyelaman dilakukan di sekitar area yang diduga menjadi lokasi tenggelamnya kapal hingga beberapa kilometer ke arah timur laut atau arah arus air.

”Kami menyelam bukan untuk mencari bangkai kapal, melainkan untuk menemukan jenazah yang kemungkinan tersangkut di ganggang atau tanaman bawah air lain,” ujar Boflen yang ikut menemukan pesawat AirAsia yang jatuh di Laut Jawa dekat Selat Karimata, akhir tahun 2014.

Pencarian juga dilakukan menggunakan alat pendeteksi bawah air, yakni remotely operated vehicles yang dapat beroperasi hingga kedalaman 200 meter, multibeam side scan sonar (600 meter), dan multibeam echosounder (2.000 meter).

Doa untuk pencarian

Pencarian korban KM Sinar Bangun disertai lantunan doa dari warga. Ada yang melakukan ibadah, menyalakan lilin, serta melakukan ritual kearifan lokal.

Senin sore, sejumlah keluarga korban dan pendeta dari Gereja Kristen Protestan Simalungun beribadah di tengah gerimis di Pelabuhan Tigaras.

Keluarga korban bernyanyi dan berdoa dengan haru sampai meneteskan air mata. ”Tuhan pemilik kehidupan, tunjukkanlah keluarga kami baik hidup maupun meninggal,” kata Pendeta Jhon Ricky Purba.

Ritual kearifan lokal juga dilakukan warga. Senin dini hari, aroma jeruk purut dan kemenyan menyeruak di Pelabuhan Tigaras. Di tepi dermaga, ada dua meja berisi persembahan berupa ayam, ikan, dan pisang. Ada pula beras dalam wadah pandan. Di atas pandan ada daun sirih dan bunga pinang.

Para keluarga korban menari tortor di tepi dermaga diiringi musik tradisional gondang batak. Persembahan lalu dibawa dengan kapal ke sekitar lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun.

”Ampuni kami yang sudah tidak menghormatimu lagi, Danau Toba. Kami membuat danaumu kotor, kami berkata kotor, dan berlaku tidak baik di atas danaumu,” kata Boru Siringo (50), pemimpin ritual.

Ritual serupa, permohonan kepada leluhur serta Tuhan, dilakukan keluarga marga Malau dengan mendatangi Pulau Malau, sekitar 1 kilometer dari Pelabuhan Simanindo. Mereka membawa daun sirih, beras, dan telur ayam dengan kapal. Di salah satu titik di pulau itu mereka melafalkan doa-doa.

Dari pulau, mereka menuju perairan Danau Toba untuk melarung sirih, beras, dan telur di tengah danau. ”Semua korban adalah keluarga. Mudah-mudahan jasad korban bisa ditemukan dan keluarga korban diberi ketenangan,” kata Krimson Malau (58), perwakilan keluarga.

Solidaritas sesama

Tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, menyisakan duka bagi warga Samosir. Warga tak membiarkan keluarga korban menanggung beban sendiri. Mereka sukarela membantu mencari bangkai kapal.

KM Evidena terparkir menyempil di Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, Senin. Ukurannya yang 14 GT lebih kecil dibandingkan dengan kapal-kapal kayu yang berjajar di sampingnya. Apalagi jika dibandingkan dengan kapal motor penyeberangan (KMP) Sumut I dan II yang berbadan besi.

Namun, nyali KM Evidena tak kalah besar. Sama seperti nyali orang-orang di dalamnya. Mereka adalah warga Desa Tuktuk Siandong yang berjarak 20 kilometer dari pelabuhan. Mereka datang secara sukarela untuk membantu pencarian KM Sinar Bangun.

Bersama tujuh kapal kayu dari Simanindo, KMP Sumut I dan II, serta sejumlah kapal karet dan kapal cepat, KM Evidena melaju ke titik pencarian pukul 10.30. Setiba di lokasi, jangkar yang diikat tali dengan panjang 600 meter pun diturunkan.

Robert Siallagan (42), satu dari sejumlah orang di kapal itu, menahan tali nilon putih, bagian ujung tali yang diikat di kapal. Saat ada aba-aba dari rekannya untuk mengikat tali, dengan sigap dia mengikatkan tali pada kayu di bawah dek agar ikatan makin kuat.

Kapal kembali melaju pelan dengan harapan jangkar bisa menyangkut di bangkai KM Sinar Bangun. Namun, hingga pukul 14.00, tak ada tanda-tanda jangkar menyangkut. Pencarian hari itu dihentikan karena angin berembus kian kencang dan turun hujan.

Robert yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengatakan, hatinya terketuk untuk menyumbangkan tenaga di kapal lantaran prihatin dengan insiden KM Sinar Bangun. ”Memang mereka (korban) bukan keluarga sendiri, tetapi kita semua sedih. Kami berharap segera ditemukan,” katanya.

Sejak Selasa (19/6), Robert dan 10 orang sedesanya naik sepeda motor setiap hari dari Tuktuk Siandong ke Pelabuhan Simanindo demi menjadi relawan pencarian. Mereka enggan menjadi penonton dalam musibah seperti itu. Atas dasar kemanusiaan, mereka membantu mencari.

Hal serupa dilakukan tujuh kapal dari Simanindo. Setiap hari, pagi hingga sore, kapal-kapal kayu mengangkut para relawan dan sama sekali tak dibayar. Kebutuhan solar sekitar 15 liter seharga Rp 150.000 per hari ditanggung pemilik kapal. Sementara itu, konsumsi relawan ditanggung Pemerintah Kabupaten Samosir.

Awak KM Romauli, Marco Nainggolan (30), mengungkapkan, hal tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. ”Apalagi, dari keluarga Nainggolan, ada 20 orang yang belum ditemukan. Kami ingin ikut mencari. Selama masa pencarian belum usai, kami akan terus bergerak,” ujar Marco.

Candra Sialoho (30), relawan di KM Pandan Mulana, mengatakan, peralatan yang mereka gunakan terbatas, yakni hanya jangkar dan tali. Namun, dia meyakini, dengan ketekunan dan kesabaran, usaha mencari KM Sinar Bangun serta korban akan menghasilkan titik terang.

”Kami sedih melihat keluarga korban, terutama yang terus menunggu di Tigaras. Bagi saya, semua adalah keluarga, tidak memandang identitas apa pun. Kami akan bantu sebisa mungkin,” katanya. (NIKSON SINAGA/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA/ ADITYA PUTRA PERDANA/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*