Nakhoda KM Sinar Bangun: Kami enggak Diatur Siapa-Siapa di Pelabuhan

Peristiwa kecelakaan yang menimpa kapal motor (KM) Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Senin (18/6), meninggalkan keprihatinan mendalam. Soal keselamatan ternyata belum menjadi budaya di kalangan penanggung jawab pelayaran di daerah.

Nakhoda KM Sinar Bangun SS -- DOK-METRO TV

Baranews.co РPeristiwa kecelakaan yang menimpa kapal motor (KM) Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Senin (18/6), meninggalkan keprihatinan mendalam. Soal keselamatan ternyata belum menjadi budaya di kalangan penanggung jawab pelayaran di daerah.

Dalam tragedi tengelamnya KM Sinar Bangun itu 3 orang tewas, 19 korban selamat, dan lebih dari 100 penumpang belum ditemukan hingga kini. Peristiwa seperti itu bukan kali pertama terjadi di Danau Toba. Sebelumnya, KMP Peldatari I yang membawa 70 penumpang tenggelam pada 1997. Kemudian empat orang dinyatakan hilang akibat tabrakan kapal pariwisata KM Yola dan feri Tao Toba I pada 2013.

Untuk mengetahui kondisi sebelum dan sesudah kapal berbobot 35 gross tonnage (GT)itu hilang diterjang gelombang, kemarin, wartawan Metro TV Yohana Margaretha mewawancarai nakhoda KM Sinar Bangun, SS. Sang nakhoda sudah ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir dan dua staf Dishub Kabupaten Samosir.

Bagaimana kronologi tenggelamnya KM Sinar Bangun?

Sebelum saya cerita kronologi kejadian 18 Juni, izinkan saya mengucapkan belasungkawa sebesar-besarnya kepada keluarga korban. Semua kita tidak menginginkan kejadian ini. Teman saya termasuk (menjadi korban). Saya mohon maaf atas kejadian ini kepada keluarga korban.

Sekitar pukul 16.50 WIB kami berangkat dari Pelabuhan Simanindo, Sumatra Utara. Suasana masih biasa-biasa saja. Ada ombak-ombak kecil. Kalau ombak-ombak seperti itu, kami tidak terlalu perhatikan karena sudah biasa. Kurang lebih sekitar 20 menit perjalanan, tiba-tiba ada angin kencang. Memang ombaknya tidak terlalu tinggi, tetapi angin kencang mendo-rong kapal sehingga saya tidak bisa mengendalikan setir kemudi.

Karena angin mendorong kekuatan kemudi, akhirnya kapal langsung terbalik. Pada saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa kepada penumpang. Pada saat itu saya juga terjun ke air. Itulah kronologi yang tiba-tiba, memang tidak kita harapkan.

Namun, Anda bisa bertahan kemudian selamat?

Saya dapat bertahan saat itu, saya memang bisa berenang sedikit. Nah, di sini, saya berenang nyari pintu celah keluar dari ruang kemudi. Di ruang kemudi pada waktu itu ada penumpang berjumlah kurang lebih tujuh orang. Saat itu semua mengambil jalan masing-masing. Namanya juga kejadian tiba-tiba, kami mengambil jalan keluar masing-masing.

Pada saat itu, saya lihat ada kaca kayak cerah ke depan. Saya memegangnya, rupanya kaca. Akhirnya saya memecahkan kaca itu. Saya keluar dari situ. Sesampainya di atas, saya lihat kapal sudah terbalik dan penumpang sudah banyak di atas kapal.

Karena banyak penumpang di atas kapal, lama-lama kapalnya semakin turun. Istilahnya semakin tenggelamlah. Akhirnya, kami mengambil jurus masing-masing kembali untuk menyelamatkan diri karena memang semua pelampung enggak sempat kami bagi.

Oh, ada pelampung di kapal waktu itu? Berapa banyak?

Ada, Mbak. (Jumlah) kurang lebih 80. Di samping pelampung-pelampung bulat, pelampung rompi ada 80. Saya jadi nakhoda kapal sudah kurang lebih 10 tahun. Saya sudah mempunyai surat keterangan kecakapan (SKK) yang masih berlaku sampai 2019.

Di Pelabuhan Simanindo sebenarnya ada syahbandar enggak sih yang mengatur rute atau izin perjalanan kapal?

Selama ini, kami enggak diatur siapa-siapa dari Pelabuhan Simanindo termasuk syahbandar. Jadi, selama ini kami berlayar tergantung dari nakhoda kapal masing-masing.

Tidak ada harus persetujuan dari siapa pun? Pos persetujuan di sana, dari dishub, ada tidak?

Tidak ada persetujuan siapa-siapa.Pokoknya kami berangkat tergantung kesadaran nakhoda masing-masing karena kami pakai waktu.Ya, kayak gitulah.

Waktu sedang berlayar, Anda memperhatikan cuaca? Karena ada pemberitahuan dari BMKG bahwa cuaca sedang buruk saat itu?

Pada saat itu enggak ada yang memberi tahu kami cuaca buruk. Prinsip kami selama ini cuaca kayak begitu-begitu saja. Makanya, kami berani berlayar. Selama ini, tidak pernah ada BMKG di tempat kami.Selama ini juga tidak ada informasi dari siapa-siapa. Kami tergantung naluri semua.

Sudah berapa lama Anda memiliki kapal KM Sinar Bangun ini? Apakah ini kapal satu-satunya atau ada yang lain?

Sebenarnya ada dua KM Sinar Bangun, tetapi satu milik orangtua. Kapal ini punya kami sendiri. Ini saya beli tahun 2013 dengan harga Rp110 juta. Tetapi saya beli itu enggak langsung jalan. Kalau istilah perkapalan naik dok dulu. Kami ganti semua, kami bongkar pasang semua. Jadi, seperti baru. Makanya di suratnya itu, karena memang sudah diubah semua kapalnya, jadi suratnya baru semua. Karena memang sudah ganti semua. Dulu kapalnya pertama kami beli 15 meter, terus kami rombak semua jadi 18 meter panjangnya.

Spesifikasinya ketika itu saya rasa 15 gross tonnage (GT). Tetapi sesudah kami perbesar, sudah kami renovasi menjadi 35 GT. Waktu itu memang belum ada surat-suratnya karena kami beli langsung diperbaiki lagi.Mesinnya enggak ada kami ganti, tetapi selama kami pakai sudah dua kali bongkar mesin. Sudah renovasi mesin, ganti-ganti spare part.

Persoalannya kemarin kelebihan muatan. Apakah Anda pertama kali menakhodai kapal sepenuh itu atau sudah sering kondisi seperti itu?

Dibilang sering sih enggak sering. Cuma kalau memang bermuatan seperti itu terjadi di hari-hari besar.

Menurut perkiraan kami, mengacu dari sepeda motor, karena memang penumpang dari Simanindo ke Tigaras itu sepeda motor, kami bawa kurang lebih 70 sepeda motor. Jadi, kami mengasumsikan penumpang kurang lebih 150. Itu yang pas kejadian. Tetapi sebelumnya juga kami pernah bawa hampir 200 orang.

Anda tahu tidak, ada aturan terkait dengan batas maksimal penumpang sebuah kapal? Misalnya, kapal Anda itu maksimal 40 orang lo.

Tahu. Penumpang ini kan ingin cepat pulang, ingin apa. Jadi, kami harus mengangkutnya.

Kadang mau juga berpikir seperti itu. Cuma, ya kami enggak tahu datangnya musibah. Ya, namanya juga sudah kebiasaan. Jadi, selama ini memang sudah terbiasa seperti itu. Selama ini tidak pernah pengawasan. Kami ambil alternatif masing-masing.

Tragedi kapal tenggelam kan bukan sekali ini terjadi. Apakah Anda tidak takut?

Takut sih takut, tetapi namanya ini kan pada saat itu lagi musimnya orang berdesak-desakan masuk semua. Jadi, istilahnya melarang pun kami… orang berdesak-desakan ingin cepat pulang.

Selama menjadi nakhoda dan berbisnis kapal, Anda tidak pernah bertemu otoritas seperti dishub untuk mengoordinasikan pengoperasian kapal dengan baik dan benar. Apakah tidak ada sosialisasi?

Sosialisasi pernah juga dilakukan di Tuktuk, tetapi biasanya untuk masalah penyambutan hari-hari besar, termasuk Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Istilahnya tata krama penyambutan tamu.

Ada kabar bahwa sebenarnya ada nakhoda lain selain Anda yang menakhodai KM Sinar Bangun. Benar tidak?

Selama ini yang menakhodai KM Sinar Bangun saya sendiri. Ya. Saya berani ngasih itu sama orang lain karena punya SKK karena pada saat itu kami sama-sama mengurusnya.

Berapa keuntungan yang Anda dapatkan dari setiap pelayaran KM Sinar Bangun?

Keuntungannya enggak tentu. Tergantung jumlah penumpang. Kalau di hari biasa bisa, di hari-hari sepi (biaya) beli bahan bakar saja enggak ketutup. Kadang bisa Rp80 ribu pergi-pulang. Kalau sedang ramai seperti kemarin, bisa satu jutalah.

Soal tiket, apakah di Simanindo ini membeli tiket harus lewat loket atau memang dipungut di atas kapal?

Selama ini kami enggak ada menjual tiket di pelabuhan. Jadi, kami mengutipnya di dalam kapal. Ya, itu dilakukan pada saat kapal sedang jalan. Harga tiket untuk penumpang orang Rp7.000 sedangkan sepeda motor Rp8.000 per unit.

Boleh diceritakan ketika kemarin kapal itu berlayar, seperti apa suasana di dalam? Kami mendengar ada yang mabuk-mabukan, tidak kondusif begitu. Seperti apa yang Anda lihat?

Pas mau berangkat, saya cuma bisa lihat yang lantai 2. Lantai 3 kami tidak bisa lihat. Kami enggak tahu bagaimana di atas, yang tahu cuma lantai 2. Kebetulan di lantai 2 kami pasang musik. Jadi, bagaimana situasi di atas kami kurang tahu.

Ada yang mengatakan pada saat kejadian kemudi patah dan Anda terlihat panik. Benar begitu?

Semua itu kan yang tahu kami semua. Jadi kemudi itu tidak patah. Biasa memang kalau ombak itu enggak pernah langsung kayak ini, langsung tenggelam. Jarang itu. Biasanya kalau kemudi patah, kapal masih sempat oleng kanan oleng kiri, oleng-oleng lah namanya. Tetapi ini memang anginnya kencang yang mendorong kapal itu sehingga enggak bisa terkendalikan. Kemudi enggak bisa dikembalikan, mengikuti arah angin lah kejadiannya.

Dalam aturan juga tidak boleh memasukkan kendaraan. Selama ini apakah sering memasukkan kendaraan dalam jumlah begitu besar. Karena kemarin juga ada tim motor?

Selama ini kami memang memasukkan kereta dalam jumlah besar, tetapi itu karena kan penumpang memang rata-rata membawa sepeda motor. Jadi, kami enggak mungkin bawa orangnya saja.

Sekarang sedang berlangsung proses pencarian dan mayoritas ratusan korban belum ditemukan. Apa yang ada di benak Anda melihat dampak dari keputusan selaku nakhoda tetap menjalankan kapal, padahal itu bisa mengancam dan sekarang terjadi?

Setelah saya tahu kabar begini memang, selama saya berada di sini, kayaknya penyesalan itu terus datang menghantui pemikiran saya. Jadi, orang selalu tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdoalah yang bisa dilakukan. Semoga semua keluarga tabah dan korban bisa ditemukan.

Anda sempat menolong korban lain?

Pada saat kapal terbalik memang ada korban yang pingsan dan memang pada saat itu saya sempat mengangkatnya ke kapal yang terbalik. Itu saya geletakkan di atas kapal. Saya ingat itu laki-laki. Cuma karena keadaan kapal sudah mulai turun, sudah mulai ada tenggelam lama-lama tenggelam, saya enggak memperhatikan apa-apa lagi. Saya berusaha menyelamatkan diri.

Semua selama ini karena tidak ada teguran, tidak ada orang yang mengingatkan?

Ya, sepertinya begitu.

Ada berapa total kapal yang beroperasi di Simanindo?

Jumlah kapal yang beroperasi di Simanindo ada 17. Setiap harinya beroperasi 12 kapal.

Apakah ada pungutan yang Anda serahkan ke pihak-pihak tertentu agar bisa tetap menjalankan operasi kapal ini?

Pungutan enggak ada. Cuma kami ngasih retribusi pelabuhan, uang sandar.

Berapa yang dibayarkan?

Itu kami kasih untuk per bulan, kurang lebih Rp100 ribu. Diserahkan kepada ketua organisasi, terus ketua organisasi berhubungan ke dishub. (mediaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply