Sanggam Hutapea: Keberadaan Nasib Danau Toba Pernah Terlupakan Selama 70 Tahun

Ketika baru-baru ini terjadi musibah di Danau Toba, saya memilih diam dan tidak berkomentar apalagi menyalahkan pihak tertentu. Beberapa rekan media meminta berbicara, dan saya tolak walau sesungguh tidak begitu nyaman menolak mereka. Mengapa? Karena saya sadar bahwa resiko kecelakaan seperti itu sangat mungkin terjadi Kawasan Danau Toba (KDT).

Ir. Sanggam Hutapea, MM (ist)

Baranews.co – Ketika baru-baru ini terjadi musibah di Danau Toba, saya memilih diam dan tidak berkomentar apalagi menyalahkan pihak tertentu. Beberapa rekan media meminta berbicara, dan saya tolak walau sesungguh tidak begitu nyaman menolak mereka. Mengapa? Karena saya sadar bahwa resiko kecelakaan seperti itu sangat mungkin terjadi Kawasan Danau Toba (KDT).

Hal ini dikatakan Ir Sanggam Hutapea MM, Tokoh Masyarakat Sumatera Utara, ketika berbincang-bincang dengan dalihannatolunews.com, Jumat 22 Juni 2018 siang, di Jakarta. “Terakhir ini kunjungan publik ke KDT memang meningkat secara signifikan, apalagi pada musim liburan. Kita mulai terbiasa menyaksikan antrian kendaraan memanjang dan mengular di Ajibata untuk menyeberang ke Samosir,” katanya.

Disampaikannya, keadaan seperti itu terkadang harus menunggu hingga 3-4 jam untuk dapat diseberangkan. Begitu juga penumpang kapal motor, mereka harus meninggalkan kendaraannya di Ajibata atau di hotel sekitar daerah Parapat untuk menyeberang mengunjungi destinasi wisata di Pulau Samosir, lalu sore hari kembali lagi ke Parapat.

Menurut Pemerhati dan Pengusaha Pariwisata ini, peningkatan kunjungan wisatawan ke KDT tentu sangat berdampak positif bagi pertumbuhan industri pariwisata di KDT. Namun harus juga digaris bawahi bahwa pada saat yang sama tidak tertutup kemungkinan akan muncul ekses negatif.

Dia membayangkan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun di hampir seluruh tempat penyeberangan di KDT. Dimana praktek-praktek operasional kapal bermotor masih dilakukan secara tradisional yang nota bene kurang memperhatikan aspek keselamatan.

“Anehnya dan sangat memprihatinkan. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan ke KDT, bukan berarti praktek operasional seperti itu otomatis berubah. Maka musibah seperti tenggelamnya kapal di perairan Danau Toba sangat mungkin terjadi,” katanya dengan nada prihatin.

Ir Sanggam Hutapea MM yang banyak diminta masyarakat untuk maju menjadi Caleg dari Dapil Sumut 2 pada Pemilu Legislatif 2019 mendatang ini mengatakan, sesungguhnya KDT baru saja akan berbenah setelah puluhan tahun terlupakan. Siapa yang melupakan? Hampir seluruh stakeholdermelupakannya terutama dari pihak pemerintah.

Dengan nada sedih dia mengungkapkan bahwa kalau menoleh sejarah perjalanan negara RI dan mengamati KDT secara seksama, sesungguhnya seluruh rezim pemerintahan sebelum yang sekarang, tidak pernah memberikan perhatian serius ke KDT.

“Mari kita coba cari jejak-jejak program pembangunan di KDT. Dari seluruh rezim pemerintahan, sebelum pemerintahan Presiden Jokowi, pasti tidak akan ada ditemukan pembangunan di KDT yang signifikan,” tandas Penasihat Majalah DALIHAN NA TOLU ini.
“Jika pun pada zamannya (di bawah tahun 1998) industri pariwisata di KDT relatif masih bertumbuh, itu bukan karena upaya pemerintah tetapi lebih merupakan upaya kalangan bisnis pariwisata dan masyarakat setempat,” sambungnya.

Ir Sanggam Hutapea MM yang dalam tiga tahun terakhir ini setidaknya empat kali dalam setahun mengelilingi Eropa Barat, Eropa Timur bahkan ke Cina ini membandingkan KDT dengan kawasan wisata lain di Indonesia, yang didukung pemerintah dengan infrastruktur. Bahkan di daerah lain, hingga di atas laut dibangun jalan tol untuk mendukung pengembangan pariwisata di kawasan tersebut.

“Bukan hanya dari segi dukungan infrastruktur, bahkan aktivitas promosi KDT juga terlupakan. Padahal destinasi wisata lain dipromosikan secara teratur, bahkan dengan cara membuat berbagai event internasional,” pungkasnya. (dalihannatolunews.com/hp) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*