KELANJUTUSIAAN: Dukungan Sosial Bagi Lansia Berubah

Memuliakan Ibu – Para lansia dari Bina Keluarga lanjut usia (BKL Lansia) Ngudi Waras, Sukoharjo, Jawa Tengah, mendapat perlakuan istimewa dari anak dan saudaranya, Senin (21/12/2015). Mereka di rias dengan alunan gamelan sebagai salah satu bentuk sederhana untuk memuliakan ibu oleh para anaknya dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. (Sumber: Kompas/Wawan H Prabowo).

Jakarta, Baranews.co – Seiring melonjaknya jumlah warga lanjut usia atau lansia, potensi dukungan sosial bagi mereka ikut berubah. Saat ini, 40 persen lansia hidup tanpa pasangan dan 1 dari 10 lansia tinggal sendirian. Melemahnya dukungan itu membuat lansia kian  rentan serta meningkatkan risiko dan keparahan penyakit yang berujung kematian.

Dukungan sosial itu penting karena fungsi tubuh lansia umumnya menurun. Tak hanya mudah sakit, mereka juga lebih berpeluang mengalami perubahan mental. Pada saat bersamaan, mobilitas penduduk yang makin tinggi membuat anak makin cepat meninggalkan orangtuanya.

Selain kesenjangan geografis, lansia yang tinggal dengan anak juga menghadapi banyak masalah. Lansia akan merasa terpinggirkan oleh nilai-nilai baru dianut generasi yang lebih muda. Beda pandangan soal selera musik, cara berpakaian, atau relasi laki-laki dan perempuan, bisa jadi sumber stres bagi lansia.

“Pemerintah perlu segera mengantisipasi situasi itu dengan kebijakan  tepat, tidak bisa hanya responsif,” kata peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan dan dosen Departemen Geografi dan Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sukamdi,  Jumat (1/6/2018).

Sebagian anak mengompensasi jarak terpisah itu dengan mengupah orang lain untuk menjaga orangtua mereka. Namun, tidak semua anak punya kondisi keungan yang memadai hingga akhirnya banyak lansia terlantar, sendiri dan miskin.

Kini, Indonesia punya hampir 25 juta lansia atau 9,3 persen penduduk. Jumlah lansia itu  lebih besar dari jumlah anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang mencapai hampir 24 juta.

Pada 2020, struktur penduduk Indonesia  menua karena ada 10 persen lansia. Tahun 2035, setelah bonus demografi, Indonesia punya 48 juta lansia atau 16 persen penduduk. Jumlah ini setara dengan dua kali jumlah balita saat itu.

“Jumlah lansia akan terus bertambah, sementara jumlah balita akan stagnan,” kata Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Sudibyo Alimoeso.

Dukungan sosial  lansia bisa berasal dari pasangan atau keluarga. Nyatanya, 4 dari 10 lansia hidup tanpa pasangan. Lansia perempuan yang hidup tanpa pasangan tiga kali lebih besar dari lansia laki-laki karena perempuan punya usia harapan hidup lebih panjang dan cenderung tidak menikah lagi.

Sementara, banyak lansia dan calon lansia masih bercita-cita hidup bersama anak cucu mereka di hari tua. Saat ini, 60 persen lansia memang tinggal bersama keluarga besar, namun pelan tapi pasti, sistem keluarga besar itu akan kian tergerus.

Sistem kekerabatan

Meski akan terus turun dan sulit, namun Sudibyo yang juga menjadi Direktur Pusat Kajian Keluarga dan Kelanjutusiaan Universitas Respati Indonesia (Urindo) mengatakan sistem kekerabatan dalam keluarga agar tetap mau merawat lansia harus dipertahankan. “Negara-negara maju pun berusaha mempertahankan kultur itu,” katanya.

Tantangan mengurus lansia itu kian sulit seiring kendurnya perhatian warga pada lansia. Di pedesaan, kesadaran  memperhatikan lansia sekitar masih ada. Namun di perkotaan, situasinya lebih sulit. Padahal,  separuh penduduk ada di kota dan pada 2035, dua per tiga penduduk Indonesia ada di kota.

Lemahnya dukungan  itu sudah terjadi saat ini. Sejumlah kasus lansia hilang, terlantar, atau meninggal tanpa diketahui waktunya hanyalah sebagian kecil kasus yang tunjukkan rentannya lansia.

“Karena itu, lansia perlu disiapkan sejak dini, sejak dalam kandungan agar mampu jadi lansia yang sehat, mandiri, dan produktif,” tambah Sudibyo. Lansia yang tangguh itu  membuat mereka tidak menjadi beban bagi keluarga atau masyarakat.

Karena itu, lansia perlu disiapkan sejak dini, sejak dalam kandungan agar mampu jadi lansia yang sehat, mandiri, dan produktif.

Selain menyiapkan lansia, pemerintah, khususnya pemerintah daerah, perlu menyiapkan infrastruktur ramah lansia. Terlebih, jumlah lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Utara sudah lebih dari 10 persen.

Seorang warga senior (paling kanan) menemani murid Taman Kanak-Kanak Vindängen, Espoo, Finlandia menanam bunga di halaman sekolah mereka, Kamis (27/4/2017). Interaksi antara warga senior dengan anak-anak sekolah itu membuat warga lanjut usia tetap aktif, merasa senang dan berguna, serta tidak merasa sendirian. (Kompas/M Zaid Wahyudi)

Pusat kegiatan lansia

Sejumlah negara maju, seperti Finlandia, menyikapi besarnya jumlah lansia  dengan membangun pusat-pusat kegiatan  lansia. Di tempat itu, lansia akan berkumpul pada hari-hari tertentu untuk berolahraga, membuat kriya atau sekedar berkumpul, bercakap-cakap dan makan bersama rekan sebaya.

Di Indonesia, lanjut Sukamdi, model itu bisa diterapkan disesuaikan dengan  budaya tiap daerah. Lansia Indonesia umumnya punya kesadaran tinggi untuk mendekatkan diri pada  agama. Kondisi itu bisa dioptimalkan dengan membentuk pesantren lansia yang diintegrasikan dengan pesantren umum sehingga transfer nilai antargenerasi bisa dilakukan.

Lansia tetap tinggal di rumah masing-masing, namun pada hari-hari tertentu berkegiatan di pesantren lansia. Pertemuan dengan rekan sebaya itu akan menghindarkan lansia dari stres dan kesendirian yang memperburuk kondisi kesehatannya.

“Meski demikian, model pengembangan lansia yang tinggal di rumah sendiri dan aktif berkegiatan di luar itu akan sulit berjalan jika tidak didukung sarana transportasi, jalan, trotoar atau toilet umum yang ramah lansia,” katanya. (M ZAID WAHYUDI/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply