Penipuan Daring Sasar Mahasiswa China dan Taiwan Di Australia

Penipuan mentargetkan mahasiswa China dan Taiwan di Australia bentuknya bermacam-macam. (Sumber: abc.net.au/Pexels.com)

Para pelaku kejahatan daring kini mentargetkan mahasiswa asal China dan Taiwan yang berada di Australia melalui penipuan penculikan yang rumit.

The World Today oleh: Katherine Gregory

Baranews.co – Kepolisian Federal Australia (AFP) mengatakan skema penipuan ini telah menguras keuangan korban dan keluarga mereka hingga sebesar $ 2 juta atau lebih dari Rp21 miliar.

Komandan David McLean, manajer operasi kejahatan daring, mengatakan penipuan itu dilakukan dalam beberapa bentuk.

“Paling sering kita mendapati penipuan ini berbentuk panggilan yang tidak terduga kepada calon korban di Australia, dari seseorang yang mengaku mewakili petugas dari lembaga berwenang di China dan memberitahukan kepada para korban di sini kalau mereka telah terlibat dalam semacam pelanggaran di China atau di tempat lain, dimana mereka diminta bertanggung jawab , “Kata Komandan McLean.

Para penipu mengancam para mahasiswa itu akan di deportasi dari Australia atau semacam diganjar hukuman pidana.

Para korban kemudian dipaksa untuk memberikan rincian identifikasi mereka atau uang untuk keluar dari masalah yang dikatakan mereka terlibat didalamnya.

Komandan McLean mengatakan ada juga kasus di mana mahasiswa diminta untuk tetap bersembunyi di kamar hotel, memberikan foto-foto kompromi diri mereka sendiri dan memutus semua kontak.

Ini menirukan sebuah penculikan.

“Jadi setelah berhasil menipu korban di Australia yang menyediakan foto-foto, dan uang serta dokumen dan hal-hal lain, mereka kemudian menunjukan informasi itu kembali ke keluarga di China yang tidak mengetahui situasinya di China dan bertindak seolah-olah anak mereka yang berada di luar negeri berada dalam kesulitan,” kata Komandan McLean.

“Jadi, semacam berputar penipuannya … sangat terampil, sangat licik.”

AFP menyadari telah terjadi sekitar 25 kasus penipuan seperti ini, tetapi Komandan McLean mengatakan mungkin ada lebih banyak korban yang belum melaporkan diri.

‘Berpura-pura dari Kedubes China’

Sarah (bukan nama sebenarnya) adalah seorang mahasiswa China berusia 21 tahun yang saat ini sedang menuntut ilmu di Victoria.

Dia mengatakan dia merasa bodoh dan dibohongi setelah dipaksa memberikan informasi pribadinya.

“Jadi, seseorang baru saja menelepon saya dan mereka pura-pura menjadi petugas dari Kedutaan besar China dan mereka mencoba mengatakan saya terlibat dalam sebuah kasus di China,” kata Sarah.

“Aku menaruh kepercayaan pada mereka, dan tiba-tiba itu adalah penipuan. Aku merasa sangat bodoh dan pada saat yang sama itu sangat menakutkan juga.”

Sarah mengatakan dia berbicara dengan empat orang yang berbeda melalui telepon selama sekitar tiga jam, sementara mereka perlahan-lahan mengekstrak informasi pribadinya.

Dia mengatakan mereka sangat meyakinkan.

“Mereka berbicara sangat konvensional dan normal dan mereka memiliki nomor yang sama dengan polisi lokal di China … jadi dengan cara itu saya merasa seperti ‘Oh itu nyata’.”

Tapi Sarah adalah salah satu yang lebih beruntung.

Ibunya diberi tahu oleh otoritas autentifikasi China tentang apa yang sedang terjadi, dan dia menghubungi Sarah sebelum uangnya dikuras.

Penipu tahu nama dan latar belakang mahasiswa

Doktor Lennon Chang, seorang kriminolog dari Universitas Monash, mengatakan bahwa sindikat kriminal dan penculikan ini sudah mapan dan umum di Tiongkok.

Tapi sekarang mereka menargetkan mahasiswa yang rentan karena mereka jauh dari rumah.

“Pelaku pelanggaran atau sindikat kejahatan dari China atau Taiwan … Mereka mungkin telah melakukan penipuan sejak waktu yang sangat lama tetapi hanya berubah dari satu target ke target yang lain,” katanya.

“Alasan mengapa mereka begitu sukses adalah mereka tahu budaya [China] dengan baik dan mereka memiliki nama dan latar belakang mahasiswa.”

Dr. Chang mengatakan akan sulit untuk melacak sindikat ini karena mereka mampu menyesuaikan strategi komunikasi mereka.

“Mereka menemukan panggilan di suatu tempat di negara lain, seperti Australia, Kenya atau Indonesia, dan mereka menelepon dari negara-negara ini untuk menipu orang.

“Jika pihak berwenang ingin menyelidiki kejahatan ini, mereka perlu berkolaborasi dengan pihak ketiga di negara lain dan itu dapat menunda penyelidikan sementara para penjahat telah pergi ke tempat lain.”

AFP gandeng Interpol dan universitas

AFP mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan unit Interpol di China untuk melacak para pelaku penipuan ini.

Dan pihaknya juga bekerja dengan universitas di Australia untuk memperingatkan mahasiswa.

Phil Honeywood, CEO Asosiasi Pendidikan Internasional Australia, mengatakan penting bagi mahasiswa untuk dilindungi.

“Jelas mahasiswa sangat baik di media sosial, mereka berbicara satu sama lain dan kasus penipuan ini telah diidentifikasi oleh mahasiswa China sebagai sesuatu yang harus diperhatikan,” kata Honeywood. ABC News/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*