PSIKOLOGI: Rumitnya Kehidupan Keluarga

Ilustrasi (Sumber: KOMPAS)
SAWITRI SUPARDI SADARJOEN (Sumber: KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RON)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Mungkin Anda sekarang berada dalam kondisi emosi depresi. Apabila ditetapkan dalam rentang skala 1-10 tentang kesehatan keluarga, yakni keluarga di mana Anda dibesarkan, mungkin Anda hanya berada di rentang skala angka 2 atau 3.

Ada kemungkinan saat berada dalam keluarga batih, kita hanya memiliki sedikit peluang untuk mengekspresikan perasaan kita yang sebenarnya. Untuk mengatasi efek kondisi masa lalu tersebut, kita seyogianya membangkitkan diri kita sendiri dengan semangat menggebu, dengan tetap mempertahankan pemikiran tentang keluarga lain yang menurut pendapat Anda berada dalam rentang peringkat 9 atau 10. Keluarga lain itu berada dalam kondisi lebih baik daripada apa yang kita rasakan dalam keluarga kita.

Lebih lanjut, saya cenderung menyetujui pendapat seorang pakar perkawinan bernama Mary Carr yang mendefinisikan bahwa keluarga disfungsional adalah keluarga dengan anggota keluarga lebih dari satu orang. ”Perbedaan kondisi keluarga tersebut hanyalah masalah lebih atau kurang, walaupun penilaian lebih atau kurang dapat dimaknai sebagai perbedaan yang lebih besar atau perbedaan yang sangat kurang.”

Pada dasarnya saya sendiri lebih menyarankan untuk tidak terlalu terpaku pada rentang skala tersebut di atas karena memanfaatkan rentang skala tersebut tidak membuat kita bisa memberikan penilaian yang terkait dengan pengalaman kita. Mengapa? Karena kehidupan keluarga itu sangat rumit dan complicated, tidak bisa menggunakan angka untuk menghitung dan menganalisisnya. Keluarga bersifat sangat kontekstual serta penuh dengan paradoks dan kontradiksi.

Contoh konkret, ayah saya adalah seorang yang sangat tertutup secara emosional, namun menjadi orang yang seolah memiliki rasa humor mengagumkan secara total. Beliau menunjukkan sikap yang jauh dari sikap penolakan yang sering dia tunjukkan dalam keseharian. Pada suatu saat, ia bersikap sebagai seorang yang mampu mengelola dirinya sedemikian rupa. Ia mampu menunjukkan kontribusinya dalam keluarga besar sebagai orang yang santai dan sama sekali tidak menunjukkan emosi negatif yang biasanya mewarnai iklim relasi dalam keluarga batih kami.

Adik saya, Ani, berkata pada suatu kesempatan, ”Kami banyak mengalami memori-memori yang membahagiakan. Waktu yang paling nyaman adalah saat kami duduk mengelilingi meja makan. Setelah selesai acara makan malam, kami masing-masing menceritakan pengalaman sehingga sering kami bisa tertawa bersama sampai bisa mengeluarkan air mata.”

Makan malam menjadi momen sukses bagi keempat anggota keluarga yang membuat keterdiaman histeris secara total menurun drastis. Percakapan berjalan lancar, secara bebas, di sekeliling meja makan. Tanpa disadari, cara berkomunikasi yang terjalin sama sekali tidak pernah mengungkap keberadaan rasa tidak nyaman seluruh anggota keluarga tentang masalah kesehatan ibu yang ternyata didiagnosis kanker rahim atau penyakit tekanan darah tinggi yang diderita ayah kami.

Adik saya ketika itu adalah seorang calon dokter. Ia banyak menceritakan pengalaman praktikum anatomi-fisiologi untuk membedah seekor kodok. Pada dasarnya ia sangat jijik dengan kegiatan praktikum tersebut. Namun, cara ia bercerita dan bahasa tubuhnya saat mengutarakan rasa jijik terhadap kodok itu membuat seluruh anggota keluarga terbahak-bahak. Ternyata, ketika cerita yang sama saya sampaikan di rumah teman yang mengundang saya makan, yang terjadi bukanlah suasana riang. Malahan semua anggota keluarga teman tersebut tiba-tiba terdiam karena menganggap bahwa cerita saya tidak berkenan bagi mereka. Pengalaman tersebut membuat saya tidak pernah lagi diundang makan oleh mereka.

Dari pengalaman tersebut, saya menyimak bahwa setiap keluarga memiliki kekuatan dan kepekaan masing-masing yang sifatnya personal. Demikian pula dengan setiap bentuk keluarga, misalnya keluarga dengan orangtua tunggal dan keluarga dengan ayah-ibu tiri. Ternyata keluarga dengan jenis anggota keluarga tertentu memiliki kontribusi nyata yang bisa menjadikan iklim keluarga jauh lebih kompleks.

Warisan keluarga bagaimanakah yang diturunkan kepada Anda?

Keluarga dari latar belakang budaya dan etnik yang berbeda cenderung memiliki perbedaan kata-kata yang bersifat tabu. Kita semua memiliki tata krama yang diturunkan kepada banyak generasi tentang apa yang dinilai baik dan apa yang dinilai buruk untuk disampaikan atau dikeluhkan secara terbuka. Begitu pula dengan upaya mencari pertolongan, protes keras secara emosional, menempatkan diri di titik pusat perhatian, dan mengambil peran sebagai orang pertama. Perbedaan-perbedaan itu membuat kitalah yang harus memberi maaf kepada orang-orang yang berbuat salah kepada kita.

Kondisi tersebut menjadi sangat penting untuk memahami dan mempertimbangkan bagaimana warisan budaya membentuk suara kita untuk menerima atau diterima tanpa pretensi. Juga, apakah hal yang kita utarakan tersebut baik atau buruk.

Mari kita coba mempertimbangkan contoh berikut ini. Banyak latar belakang etnik yang membuat anggota keluarga kurang nyaman untuk menceritakan keberhasilan kariernya pada lingkungan keluarga, terutama apabila dia seorang perempuan. Ia mungkin menyelimuti keberhasilannya dalam meraih karier dengan mengatakan, ”Sebenarnya saya lebih suka tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga untuk kedua anak saya daripada memikirkan karier, dan sebagainya, dan sebagainya….”

Bisa saja ungkapan yang bernada merendah tersebut merupakan reaksi defensif dari sikap keluarga yang menunjukkan sikap kurang setuju dengan perolehan karier puncak dalam latar kerja formal bagi perempuan tersebut. Namun, di sisi lain, bisa saja ungkapan tersebut juga mengandung unsur merendahkan diri yang mengandung makna arogansi terselubung.

Dari contoh di atas tampak bahwa keberhasilan dalam karier tidak selalu tepat apabila kita suarakan di antara anggota keluarga, bahkan anggota keluarga batih sekalipun.

Untuk mengomunikasikan pencapaian karier dengan suara tegas dan merdeka seperti di atas, bisa jadi diperlukan kerja keras untuk mengubah cara berkomunikasi dalam konteks keluarga batih. Hasil proses belajar itu luar biasa maknanya dan bisa membawa perubahan bagi iklim keluarga selanjutnya.

Pada dasarnya kita memang tidak dapat memilih pada keluarga jenis apa kita dilahirkan. Namun, sebagai orang dewasa, kita memiliki peluang untuk bicara dengan cara lebih bebas dan terbuka, sesuai dengan kehendak kita. Mengamati dan mencoba memanfaatkan posisi sebagai orang dewasa dalam percakapan keluarga memang merupakan jalan yang dapat dilakukan untuk menuju perubahan iklim relasi keluarga.

Dengan kata lain, sebagai orang dewasa, kita dapat memberikan respons dengan cara baru terhadap tokoh ibu atau kakak perempuan, untuk kemudian akan memberikan efek perubahan relasi dengan anggota keluarga lain.

Sangat penting untuk mengingat bahwa self kita akan secara berlanjut mencari penemuan-penemuan baru melalui interaksi dalam keluarga. Ini karena setiap interelasi adalah suatu laboratorium di mana kita mendapat kesempatan untuk menyuarakan keinginan dan pendapat dengan cara baru dan mengamati hasil eksperimen kita dalam laboratorium tersebut.

Ketahuilah bahwa beberapa dari kita butuh mempraktikkan kekuatan dan beberapa di antara kita butuh menyuarakan kelemahan dan kepekaan. Di mana pun kita bisa memulainya. Bravo. (Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply