GERAKAN MASYARAKAT: Teror Telah Lewati Batas Kemanusiaan

Gerakan Warga Lawan Terorisme berpose bersama seusai kegiatan doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban aksi teror sekaligus mengecam tindak kejahatan terorisme yang terjadi dua pekan terakhir. Kegiatan ini digelar di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018) siang. Lebih dari 50 tokoh dan perwakilan komunitas masyarakat bergabung dalam gerakan ini. (Sumber: KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI).

Jakarta, Baranews.co – Lebih dari 50 tokoh dan perwakilan komunitas masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Warga Lawan Terorisme melakukan doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban aksi teror sekaligus mengecam tindak kejahatan terorisme yang terjadi dua pekan terakhir. Kegiatan ini digelar di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018) siang.

Gerakan Warga Lawan Terorisme beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat lintas disiplin dan iman. Mereka yang hadir antara lain Sinta Nuriyah (istri presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid), Saparinah Sadli (pendiri Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan),  Musdah Mulia (Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace), Hendardi (Ketua Setara Institute), Rm Harry Sulistyo (Komisi Sosial Keuskupan Agung Jakarta), Biksu Sulaiman Girivirya, dan sutradara film Nia Dinata.

Lembaga masyarakat yang mendukung gerakan ini antara lain Wahid Foundation, Konferensi Waligereja Indonesia, Maarif Institute, Komnas HAM, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, dan Saya Perempuan Antikorupsi.

Dalam kesempatan itu, Gerakan Warga Lawan Terorisme menyampaikan pernyataan sikapnya terhadap rangkaian aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini.

”Rangkaian aksi kejahatan teror yang terjadi di Rutan Cabang Salemba, Mako Brimob, di Kelapa Dua, Depok, hingga bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, rusunawa Sidoarjo, dan Polrestabes Surabaya telah melampaui batas kemanusiaan,” kata Sinta mengawali penyampaian pernyataan sikap tersebut.

KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Istri presiden (ke-4) RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah (tengah).

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di Indonesia (PGLII) Pdt Freddy Sunyoto melanjutkan, aksi terorisme telah menghancurkan nilai kemanusiaan, menyebarkan rasa ketakutan, dan memecah belah bangsa, serta dalam jangka panjang dapat menghancurkan NKRI.

”Kami percaya persaudaraan anak bangsa akan terus kokoh dalam menghadapi tantangan ini guna mempertahankan Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” ucap Freddy ketika membacakan pernyataan sikap Gerakan Warga Lawan Terorisme.

Dalam pernyataan sikapnya, Gerakan Warga Lawan Terorisme mendukung upaya pemerintah untuk segera menghentikan teror dan menindak tegas para pelaku. Gerakan ini juga mendesak pemerintah untuk mengembalikan rasa aman dan perlindungan terhadap seluruh masyarakat dari aksi terorisme. Pemerintah diminta mengungkap dan memproses hukum jaringan teroris.

Pemerintah dan parlemen pun didesak segera menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Antiterorisme.

Pemerintah juga diminta mencegah kejadian teror ini berulang dalam jangka panjang melalui  paham intoleransi dan radikalisme. Hal ini dapat dicapai melalui pemberantasan paham intoleransi di aparatur negara serta reformasi pendidikan. ”Toleransi adalah anak tangga pertama menuju radikalisme,” kata Hendardi.

Selain itu, gerakan ini juga meminta masyarakat memperkuat bangunan persatuan dan harmoni serta mempererat ikatan antarsuku, agama atau kepercayaan, ras, dan golongan. Masyarakat juga diminta terlibat aktif mengawasi lingkungannya dan bekerja sama dengan aparat untuk melaporkan hal-hal yang mencurigakan. (SATRIO PANGARSO WISANGGENI/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply