SEPAKBOLA – MOHAMED SALAH: Tarian Sang Raja Hadirkan Bahagia

Sumber: independent.co.uk
Sumber: KOMPAS

Januari 2015, pemuda dari Desa Nagrig di Delta Sungai Nil itu meninggalkan London, Inggris, menuju Firenze, Italia. Dia melihat secercah cahaya di Fiorentina, sebagai pemain pinjaman dari Chelsea, yang hanya memberinya enam laga Liga Inggris sejak Januari 2014. Penyerang sayap berambut keriting itu memilih nomor 74 di ”La Viola” sebagai penghormatan bagi korban jiwa dalam kerusuhan suporter di Stadion Port Said, Mesir, pada 2012.

Kerusuhan saat laga antara Al-Masry and Al-Ahly itu berujung penghentian kompetisi kasta tertinggi Mesir. Namun, itu justru menjadi awal petualangan Mohamed Salah menjelajah Eropa. Saat liga dihentikan, tim nasional Mesir U-23 yang disiapkan tampil di Olimpiade London 2012 membutuhkan lebih banyak uji coba, salah satunya melawan klub Belgia, FC Basel. Salah tampil di babak kedua dan menceploskan dua gol dalam kemenangan 4-3.

Salah berada dalam radar Basel dan diberi kesempatan magang. Dia akhirnya menandatangani kontrak empat tahun sebelum membawa Mesir ke babak delapan besar Olimpiade 2012 dengan mencetak gol ke gawang Brasil, Selandia Baru, dan Belarus. Dari Basel dia menuju London, bergabung dengan Chelsea, tempat dia menjalani masa sulit. Salah kemudian dipinjamkan ke Fiorentina dan berlabuh di AS Roma.

Dari Roma, Salah bersinar terang di Liverpool. Dia menceploskan 43 gol dalam 50 laga di semua kompetisi pada musim pertamanya bersama ”The Reds”. Dia juga mengantar Liverpool ke final Liga Champions pertama sejak Keajaiban Istanbul 2005. Dia pun dijuluki ”Raja Mesir” di Merseyside.

Salah mengantar Mesir ke putaran final Piala Dunia 2018 melalui tendangan penalti yang menjadi penentu kemenangan 2-1 atas Kongo. Piala Dunia pertama Mesir sejak Italia 1990 itu mengukuhkan Salah sebagai ikon baru negaranya.

Liukan Salah saat menggocek bola memberikan kebahagiaan dan menghadirkan senyum di wajah rakyat Mesir yang sering mengalami masa sulit sejak gelombang Arab Spring. Sejak 2011, inflasi mendongkrak harga barang-barang kebutuhan pokok di Mesir. Di tengah tekanan ekonomi itu aksi Salah di lapangan hijau menjadi oase bagi sebagian besar rakyat Mesir.

”Selama revolusi kami tak peduli pada sepak bola. Tetapi, sekarang kami mulai menonton lagi. Sepak bola mengalihkan perhatian kami,” ujar William Fawzy, warga Kairo, kepada The Independent. (AGUNG SETYAHADI)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply