LIGA CHAMPIONS: Menanti Sepak Bola ”Rock” di Roma

Striker Liverpool, Mohamed Salah, melepaskan tendangan yang menjadi gol pertama Liverpool ke gawang AS Roma pada laga pertama semifinal Liga Champions di Stadion Anfield, Liverpool, Rabu (25/4/2018) dini hari WIB. Salah mencetak dua gol dan menyumbang dua asis yang mengantar Liverpool menang atas Roma, 5-2. (Sumber: KOMPAS/REUTERS/CARL RECINE).

Oleh: SINDHUNATA

Dalam sepak bola semua bisa terjadi. Tak bisa segalanya dihitung dengan pasti. Pada perempat final Liga Champions, di kandangnya, Liverpool menggilas pemuncak klasemen Liga Inggris, Manchester City, 3-0. Ternyata, pada laga Liga Inggris berikutnya, Liverpool ditahan penghuni dasar klasemen West Bromwich Albion, 2-2.

Hal yang sama terjadi lagi. Pada semifinal Liga Champions di kandangnya, Liverpool menghancurkan AS Roma, 5-2. Namun, di liga, kembali Liverpool ditahan 0-0 oleh Stoke City, penghuni papan bawah yang mungkin akan terdegradasi.

Fakta ini tentu memusingkan Pelatih Liverpool Jürgen Klopp menjelang laga tandang lawan Roma. Apalagi, ia masih menyesali, di Anfield AS Roma sempat mencuri dua gol yang amat berharga. ”Setelah melakukan tekanan demikian berat kepada lawan, wajar jika kami sempat lengah. Namun, dengan memimpin 5-0, seharusnya kami tidak kebobolan dua gol itu,” kata Klopp.

Pemain Liverpool tentu gembira dengan kemenangan fantastis dalam pertandingan di kandang itu. Namun, ketika meninggalkan lapangan, toh tampak terselip juga kekecewaan di wajah mereka. ”Kami menang, 5-2. Tetapi, sulit bagi kami bergembira,” kata kiper Loris Karius.

Menurut Karius, dia dan kawan-kawan seolah sedang boleh mencicipi makanan. Tetapi, ketika dirasakan, makanan itu ternyata tidak terlalu enak. ”Ada baiknya pengalaman ini. Dengan begitu, kita bisa menengok kembali kejadian di perempat final.”

Liverpool memang perlu mengingat, pada perempat final Barcelona menang atas Roma, 4-1, di Camp Nou, tetapi tergusur karena kalah 0-3 di Roma. ”Malam yang luar biasa bagi sejarah kami, kami akan bermain terus seperti ini. Kami belum mencapai semuanya. Masih ada pertandingan di depan kami. Bahkan, jika kami kalah di pertandingan pertama, kami tetap yakin dengan cara kami bermain. Dan, ini terbukti malam ini,” kata Daniele de Rossi setelah hasil fantastis melawan Barcelona itu.

Klopp sadar, ”petaka Barcelona” bisa menimpa Liverpool jika anak-anaknya lengah saat mereka berlaga di Stadion Olimpico Roma. Ia juga menyadari, Pelatih Roma Eusebio di Francesco adalah pelatih yang amat cerdik. Pada saat kritis, Di Francesco bisa mengubah taktik dan mencari solusi bagi kebuntuan. Buktinya, AS Roma bisa membuat dua gol justru saat ketinggalan lima gol di kandang lawan. Dua gol yang membekaskan kepahitan anak-anak Liverpool.

Klopp kiranya juga paham benar, AS Roma adalah bagian dari mentalitas permainan sepak bola Italia, yang dikenal cerdik memanfaatkan kelengahan lawan. Mereka bisa menjamin kolektivitas permainan yang sangat agresif dan keras, dan dalam sekejap merampok kegembiraan bermain lawan. Mereka bisa buas dan tak kenal ampun jika sedang terluka dan menderita. Itu tidak hanya tampak ketika Roma menyingkirkan Barcelona, juga ketika Juventus sempat membuat Real Madrid kedodoran, justru setelah kalah di Turin, 0-3.

Klopp memang harus hati-hati. Tetapi, ia dan anak-anaknya tidaklah gentar datang ke Roma. Klopp bilang, Liverpool bukan Barcelona. Liverpool haus gelar juara karena itu mereka terjauh dari mental kemapanan yang sering sembrono dan lengah. Liverpool harus mencuri poin sepagi mungkin.

Pemain-pemain Liverpool memang yakin, mereka harus menang. Namun, Klopp mengingatkan, jangan sampai satu pemainnya pun berpikir bahwa tak mungkin Roma bisa menang. Untuk itu, mereka harus bisa mengulangi kembali permainan seperti saat mereka melumat AS Roma dengan lima gol tanpa membuka peluang sedikit pun bagi lawan untuk bisa membuat gol.

Liverpool keliru ketika di Anfield sempat membiarkan AS Roma mengembangkan permainan cerdik dan membaca kelemahan lawan. Seharusnya dari awal mereka memainkan bola seperti setelah menit ke-25. Saat itu, seperti ditulis oleh Gazzetta dello Sport, mereka meng-KO Roma, membantainya, dan membuat mereka mengalami penderitaan dan siksaan seakan tanpa akhir.

Waktu itu, Liverpool betul-betul mampu memainkan gaya bola yang disebut Klopp sebagai heavy-metal-football. Seperti rocker yang meraung-raung, mereka melumat lawan. Dengan gaya khas Klopp ini, tidak hanya AS Roma, Manchester City pun pernah digilas dengan tiga gol tanpa balas. Anak-anak Klopp menyerang tanpa takut risiko, membuat lawan kehilangan konsentrasi.

AS Roma kiranya takkan lagi bisa berharap membuat mukjizat jika anak-anak Klopp tanpa lelah bermain seperti itu. Apalagi, jika Mohamed Salah kembali bisa menunjukkan diri sebagai bintang dari sepak bola heavy metal itu. Di Anfield, Salah bermain dengan kecepatan tak terduga seperti setan, menunjukkan diri sebagai raja di daerah berbahaya Roma. Pantas jika The Sun berkomentar, ”Sejak Cleopatra, tak ada lagi yang membuat orang Roma takut dan khawatir seperti Mo Salah”.

Di Anfield, sepak bola musik rock gaya Klopp itu berjalan baik karena dibantu oleh pengeras suara yang luar biasa hebatnya. Pengeras suara itu adalah teriakan dan dukungan fans fanatik Liverpool. Kamis dini hari nanti, kiranya mereka tahu bahwa di Stadion Olimpico ”pengeras suara sepak bola rock” tidak ada atau kurang. Maklum fans Liverpool tentu tidak bisa membanjiri Roma seperti di Anfield.

Di stadionnya sendiri terbukti, Roma sangat kuat, dan bisa membuat apa saja, termasuk mukjizat. Klopp kiranya tidak ingin De Rossi mengatakan sekali lagi, ”Ini malam yang luar biasa”, seperti ketika dia dan kawan-kawan memecundangi Barcelona. (Harian KOMPAS).

SindhunataWartawan, pencinta sepak bola

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*