Ikut Pelatihan Google News Initiative, Wartawan Surabaya Siap Tangkal Berita Hoaks

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan Google News Initiative menggelar pelatihan untuk wartawan di Surabaya, pada Sabtu-Minggu, 28-29 April 2018 tentang bagaimana menangkal berita hoaks dan menggunakan media online secara sehat. Pelatihan ini diharapkan bisa membekali wartawan agar menjadi agen perlawanan terhadap penyebaran berita atau informasi hoaks.

Sejumlah wartawan mencoba alat Google untuk mendeteksi beredarnya berita foto atau video hoaks. (Foto: VOA / Peter Riski).

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan Google News Initiative menggelar pelatihan untuk wartawan di Surabaya, pada Sabtu-Minggu, 28-29 April 2018 tentang bagaimana menangkal berita hoaks dan menggunakan media online secara sehat. Pelatihan ini diharapkan bisa membekali wartawan agar menjadi agen perlawanan terhadap penyebaran berita atau informasi hoaks.

Materi mengenai bagaimana mengetahui informasi hoaks atau berita bohong menjadi materi utama yang diberikan kepada puluhan wartawan di Surabaya dan beberapa kota lain di Jawa Timur, pada pelatihan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Google News Initiative.

Fasilitator pelatihan, Ika Ningtyas, mengungkapkan pemeriksaan data dan informasi yang diperoleh wartawan menggunakan perangkat yang disediakan Google, merupakan bagian dari tugas jurnalis untuk memverifikasi data sebagai upaya menghindari penyebarluasan hoaks dalam masyarakat. Selain itu, jurnalis juga harus dapat mengamankan informasi yang diperolehnya, agar tidak menjadi alat yang justru membahayakan keselamatan jurnalis.

“Tugas jurnalis inilah yang harus lakukan verifikasi terhadap informasi tersebut agar tidak menjadi bagian untuk turut menyebarkan berita hoaks. Bagaimana kita membekali jurnalis agar memiliki atau mengetahui tentang keamanan di dunia digital, karena kita tahu jurnalis itu kan profesi yang beresiko,” kata Ika Ningtyas.

“Bagaimana agar aktivitas mereka dalam menjalankan (fungsi) jurnalistiknya itu bisa terhindar dari hal-hal misalnya, ancaman-ancaman baik itu dari pihak luar yang tidak menginginkan jurnalis ini mengeluarkan informasi tersebut, atau pun ancaman-ancaman lain yang itu bisa membahayakan diri dan keluarganya,” tambahnya.

Wartawan asal kota Malang, Eko Widianto, mengatakan pelatihan ini menambah pengetahuan wartawan yang harus selalu memastikan berita produksinya adalah benar sesuai fakta. Data, informasi, maupun gambar yang diperoleh, dapat diperiksa melalui perangkat yang disediakan Google sebelum disebarluaskan ke masyarakat.

“Kita melacak, terjadi disinformasi atau mungkin miss-informasi. Terus kemudian kita bisa melacak juga gambar, foto, apakah sesuai dengan teks yang sudah ada. Intinya pelatihan ini bisa juga kita mencari informasi apakah ini hoaks atau tidak, jadi berita bohong atau tidak kita bisa melacak disini. Jadi ini bagian untuk melawan hoaks yang beredar di media massa maupun juga ada di media sosial,” jelas Eko Widianto.

Selain untuk mencegah maraknya peredaran hoaks dalam karya jurnalistik, Eko Widianto mengingatkan kembali agar berita yang diproduksi wartawan atau lembaga pers taat pada asas verifikasi, bukan sekedar berita yang mengejar jumlah pengunjung maupun faktor kecepatan semata.

“Ini bagian dari memverifikasi dan kroscek informasi yang kita peroleh, misalnya kita mendapatkan informasi dari siaran pers maupun dari informasi yang beredar di linimasa, kita bisa mencocokkan apakah datanya valid atau tidak, termasuk sumber-sumber data utama,” lanjutnya.

Dewan Pers dan Polri telah berhasil mendeteksi dan membuktinya penyebaran ribuan media abal-abal yang kerap menyebarkan berita bohong yang meresahkan masyarakat. Pembekalan melalui pelatihan dan pemahaman kepada wartawan mengenai berita hoaks, menurut Ika sangat penting dilakukan, agar tidak terlibat memproduksi dan menyebarluaskan berita hoaks yang dapat berdampak buruk di masyarakat.

“Justru media, baik itu mainstream atau media yang non-mainstream ya, tapi dia yang dianggap kredibel, justru menjadi pelaku yang menyebarkan hoaks, itu karena salah satu indikasi bahwa jurnalisme kita sedang lemah, lemah tidak melakukan verifikasi di lapangan terhadap informasi. Mereka langsung menyebar, memproduksi berita itu, padahal itu sumbernya hoaks,” jelas Ika Ningtyas.

“Nah, di sinilah tanggung jawab media untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang dia terima kemudian menyebarluaskan lagi kepada masyarakat, agar masyarakat tahu bahwa informasi yang sedang menjadi viral di situ adalah hoaks,” imbuhnya.

(voaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply