Bangunan-bangunan lucu: Kembalinya Warisan Budaya era 1950-an Dengan Rumah Jengki

Seorang arsitek dan penulis, Tariq Khalil, menulis buku yang memperlihatkan munculnya ketertarikan atas rancangan aristektur era 1950-an di kalangan kaum muda masa kini.

Baranews.co – Seorang arsitek dan penulis, Tariq Khalil, menulis buku yang memperlihatkan munculnya ketertarikan atas rancangan aristektur era 1950-an di kalangan kaum muda masa kini.

Khalil membahas dan menampilkan berbagai foto rancangan dan bangunan-banguna tersebut dalam bukunya yang diberi judul Retronesia: The Years of Building Dangerously.

Judul buku ini ‘memplesetkan’ judul sebuah novel -yang kemudian difilmkan, The Years of Living Dangerously, karya wartawan Australia, Christpher Koch, tentang peristiwa sekitar 1965. Namun apakah ada kaitan peristiwa 1965 dengan bangunan-bangunan ikonik dan bersejarah itu?

Sejumlah anak-anak muda hipster, dan kaum yang gandrung pada gaya yang nyeleneh, atau yang cenbderung suka pada hal-hal di luar yang di luar aliran utama -di Indonesia dan belahan dunia lainnya- banyak melirik ke gaya tahun 1950-an, yang sering disebut sebagai ‘retro’.

Maka perabotan yang berdiri dengan ujung kaki yang runcing, hotel-hotel butik dengan sudut-sudut yang mencolok, dan stasiun bensin Pertamina dengan atap miring bermunculan kembali memperlihatkan gaya ‘retro’ di kota-kota besar Indonesia.

Para seniman dan perancang pun mulai menoleh pada penampakan-penampakan arsitektur (dan benda-benda) zaman Sukarno.

Bali, retro
Hak atas fotoBUTIK DI BALI
Image captionPerabotan modern dengan rancangan retro di sebuah butik di Bali.

Lufti Hasan, pemilik toko gaya hidup dan perabotan Vintage di Jakarta, melihat dua alasan yang berbeda dalam munculnya aliran retro itu.

“Untuk yang berusia 40 tahun, barang antik -termasuk rumah Jengki- menjadi nostalgia dari masa-masa lalu yang indah. Harap diingat bahwa mereka masih anak-anak, ketika rumah-rumah mereka sedang dalam masa jayanya.”

“Bagi yang lebih muda, ya: hispter, antik itu bagian dari keren. Misalnya saya perlu punya barang antik, seperti pemutar piringan hitam atau nongkrong di cafe antik, agar kawan-kawan mengangap saya keren. Bagi mereka itu adalah tiket untuk menjadi keren.”

Hotel Kosenda Jakarta
Hak atas fotoHOTEL KOSENDA JAKARTA
Image captionLobi Hotel Kosenda di Jakarta yang bergaya retro.

Namun Retro bukan hanya sekadar urusan asyik dipandang mata belaka, kata Amir Sidartha, pengamat seni dan dosen sejarah arsitektur Universitas Pelita Harapan.

“Pada saat ini ada beberapa perkembangan yang mirip. Dan para arsitek masa kini mungkin bisa mendapat inspirasi dari arsitektur jengki, bukan dari gaya atau tampilan visualnya saja, tapi jika menganalisa lebih jauh bagaimana pendekatan jengki berupaya menjawab masalah iklim, lingkungan dan kenyamanan, selain juga ekonomi.”

Rumah Jengki (atau Yankee) kini memang kembali menjadi tren, namun sebenarnya latar belakang dari gaya era1950-an itu masih belum jelas.

Saya berkeliling Indonesia untuk menulis sebuah buku panduan perjalanan alternatif, RETRONESIA, bagi orang-orang yang ingin mengetahui gaya Jengki lebih jauh.koperase sejahtera bersama

Untuk mewujudkannya saya mengikuti berbagai jejak untuk melakukan napak tilas pada peninggalan masa lalu: bagaimana dunia kerja, urusan santai dan leha-leha di masa itu.

Vila-vila di pegunungan, perumahan kaum elite di kota, gereja-gereja dan bangunan-bangunan yang pernah bernilai penting, mengungkapkan wajah Indonesia dan progresifitasnya.

Harta karun bangunan dan benda modernis yang tidak banyak diketahui itu sudah diterbitkan dalam buku RETRONESIA: The Years of Building Dangerously. Dan berikut ini sejumlah kisah yang saya temukan.

Semen, mural, Soviet: Wisma Ahmad Yani

Semen merupakan bahan yang penting untuk membangun Indonesia yang baru. Pabrik semen pertama dibangun tahun 1957 yang mengakhiri monopoli pabrik milik Belanda, Padang Portland Cement Maatschappij. Tahun 1964, tujuh tahun setelah produksi dimulai, Semen Gresik mendirikan Wisma Semen Gresik yang menakjubkan.

Wisma Ahmad YaniHak atas fotoRETRONESIA
Image captionWisma Ahmad Yani, yang sebelumnya bernama Wisma Gresik, selesai dibangun tahun 1964.

Ini adalah gaya campuran tidak biasa yang mengambil gaya Art Deco, mecampur-baurkan beranda dan atap kanopi, panel untuk sinar matahari yang geometris, serta kaca hias Art Nouveau Eropa, maupun atmosfir bebatuan dalam gaya sosialis-realis untuk persatuan dan pembangunan bangsa.

Uni Svoiet
Hak atas fotoRETRONESIA
Image captionRincian dari panel bergaya Uni Soviet yang mencerminkan persatuan hidup dan pembangunan bangsa di Wisma Ahmad Yani.

Interiornya sama mengesankannya. Setelah dua muralnya di Gelora Bung Karno tahun 1962, seniman Sapto Hoedojo -menantu pelukis ternama Affandi- melukis mural dengan gaya dekoratif seni rupa Uni Soviet yang populer di seluruh dunia, di sini memancarkan energi dan kehidupan.

Wisma Ahmad YaniHak atas fotoRETRONESIA
Image captionMural karya Sapto Hoedojo menghias salah satu sisi Wisma Ahmad Yani.

Namaya kemudian berubah, pada tahun 1966 Semen Gresik menjadi Semen Indonesia, produsen semen terbesar di Indonesia. Adapun gedung itu berubah nama menjadi Wisma Ahmad Yani, dan menjadi gedung klasik modern pertama yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Cagar Budaya.

Wisma Ahmad YaniHak atas fotoRETRONESIA
Image captionSisi lain Wisma Ahmad Yani dengan mural karya Sapto Hoedojo.

Gaya gunung berapi – kawasan wisata pegunungan Jawa

Di tengah lereng gunung berapi di Pulau Jawa berjejer vila-vila begitu banyak yang pada masanya menjadi tujuan wisata nomor satu bagi kaum elit, seperti kawasan Puncak (kabupaten Bogor), Lembang, Kaliurang, hingga Batu dan Selekta di Malang.

Adapun kawasan Kopeng di kaki gunung Merbabu dan Kaliurang di gunung Merapi dibangun sebagai tempat wisata mewah para pejabat kolonial Belanda dan keluarganya untuk menikmati hawa sejuk.

vila, kopeng
Hak atas fotoOEI TJONG AN
Image captionInterior vila Kopeng Resort oleh Oei Tjong An, 1955-1958

Sesudah berlalunya perang revolusi kemerdekaan, jam malam sempat diberlalukan di sejumlah kota dan jalanan menjadi daerah kekuasaan para bandit. Namun kawasan wisata pegunungan tidak buat porak poranda atau hancur lebur, justru sebaliknya: dipoles untuk menjadi tempat peristirahatan kaum elite baru Indonesia pada sekitar pertengahan 1950-an.

Di Semarang, misalnya, komunitas pedagang -yang menggantikan kelas atas Belanda dan orang-orang Indo-Eropa, segera mengambil-alih Kopeng. Arsitek lulusan Swiss, Oei Tjong An, memugar seluruh kompleks dengan bungalo-bungalo yang semarak. Di Jawa yang baru ini, muncullah villa-vila peristirahatan gaya Palm Spring di Amerika Serikat, dengan atap model kupu-kupu, tiang yang miring, teralis mewah, dan cerobong asap berbahan batu.

LakesideHak atas fotoRETRONESIA: THE YEARS OF BUILDING DANGEROUSLY
Image captionWisma Lakeside yang disewakan di Sarangan, Jawa Timur, akhris 1950-an.

Dalam suatu generasi, selera pada liburan yang mewah telah menggerakkan spiral kegairahan, sebagaimana elit saat ini suka bermain ski di Korea dan Jepang.

Selama akhir pekan dan hari libur panjang -ketika gunung berapi tetap tenang- masyarakat umum bergerak menuju lereng-lereng atau puncak gunung untuk berkumpul, berpesta, dan melakukan rekreasi mutakhir: bersolek jika ke luar rumah.

Rumah di Tebet yang dulu mustahil

Sekarang ini Stadion Utama Bung Karno, Senayan, sedang sibuk bersiap menghadapi Asian Games ke-18, Agustus mendatang. Dan tantangan besar yang harus dihadapi adalah, tentu saja, bagaimana mengatur lalu lintas.

Berbeda dengan 1962, ketika kompleks itu dibangun untuk Asian Games ke-4: tantangannya adalah merelokasi begitu banyak warga sebelum dimulainya konstruksi. Banyak keluarga digusur dan dengan cepat oleh tentara, dan sebagian dimukimkan kembali di kawasan Tebet, sebuah kawasan pinggiran Jakarta yang baru waktu itu.

Kawasan rawa di pinggiran Jakarta itu awalnya dikenal sebagai ‘tempat jin buang anak,’ dan susah dibayangkan menjadi tempat bermukim seorang diplomat generasi pertama, Haluddin Lubis.

Lahir dari keluarga Batak yang sederhana di Sumatera Utara, Haluddin kecil bermimpi belajar di Universitas Al-Alzhar Kairo.

Tebet, Haludin, LubisHak atas fotoRETRONESIA: THE YEARS OF BUILDING DANGEROUSLY
Image captionRumah keluarga Haludin Lubis di Tebet, Jakarta Selatan, 1965.

Pada 1930-an, Haluddin naik ke kapal yang membawanya sampai ke wilayah India Inggris waktu itu (sekarang menjadi tiga negara: India, Pakistan, Bangladesh), lalu belajar di Sekolah Islam Deobandi yang anti-kolonial – yang sehaluan dengan Al-Alzhar. Di tengah-tengah kekacauan tahun 1947 ia dievakuasi dari Delhi ke Karachi di Pakistan Barat yang baru dibentuk.

Tak dinyana, di sana ia justru meniti karir diplomatik yang panjang dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Untuk mendapatkan penghasilan tambahan di sela-sela dinasnya dengan cara yang jujur, dia berniaga produk-produk luar negeri yang sangat dicari seperti kamera, proyektor dan bahkan alat-alat makan.

Haludin LubisHak atas fotoRETRONESIA
Image captionHaluddin Lubis bersama istrinya di rumahnya di Tebet (kiri) dan kartu keanggotaannya di klub mobil Iran, ahir tahun 1950-an.

Sebagai penggemar mobil, ia membeli Fiat 1100 baru, saat berdinas di Polandia yang lalu dijual kembali di Jakarta. Keuntungan dari berbagai usaha sampingan itu memungkinkan dia untuk membeli sebuah rumah di Tebet yang sudah siap huni pada tahun 1965 dan menyisakan uang yang cukup untuk menghidupi keluarga sampai penempatan dinas berikutnya ke luar negeri.

Tak banyak jejak keluarga-keluarga yang digusur dari Senayan yang msih tampak di Tebet, dan anak-anak Pak Lubis ingin agar rumah mereka tetap menjadi monumen tentang kehidupan ayahanda mereka.

Gaya Veteran Malang

Bisa jadi di Jakarta Ciliwung tak ubahnya sungai yang sudah mati, tetapi di Malang lain lagi: Ciliwung adalah jalan yang penuh rumah-rumah antik yang dibangun setelah kemerdekaan. Untuk kota provinsi yang relatif baru, Malang jauh lebih maju dibanding kota-kota besar di Jawa, dengan banyaknya klub, perhimpunan warga, surat kabar dan fasilitas musik dan pertunjukkan yang semarak. Komunitas Tionghoa Malang, meskipun jumlahnya kecil, memainkan peran besar dalam membentuk budaya keseharian yang baru.

Rumah bergaya Hindia Belanda yang cantik yang dilengkapi dengan sentuhan modern ini dibangun pada tahun 1960 untuk mendiang Pak Soegianto. Keturunan Cina ini adalah seorang veteran perang yang mendapat banyak penghargaan. Ia hijrah tahun 1930-an dari Makassar dengan kapal ke Jawa Timur, mendirikan toko di pantai-pantai Surabaya yang menjanjikan.

Ia mengembangkan lebih jauh bisnisnya ketika pindah ke Malang. Sebagai seorang patriot yang teguh, dia menyisihkan waktu untuk turut merencanakan, mendanai, dan bertempur dalam operasi militer melawan pasukan Jepang dan kemudian Belanda selama tahun 1940-an.

Malan, SoegiantoHak atas fotoRETRONESIA
Image captionRumah milik Soegianto di Malang, 1960-an dengan teras yang dibingkai dengan huruf lamda.

Titik fokus rumahnya adalah teralis atau kisi-kisi gaya maritim yang menyambut dan sekaligus menggugah pengunjung. Bagian ini melambangkan perjalanan tak trlupakan yang dijalani Pak Soegianto di samudera beberapa dekade yang lalu sesudah terwujudnya perdamaian. Pilar yang berbentuk huruf Yunani ƛ (lamda) membingkai kisi-kisi di teras yang dulunya merupakan tempat duduk-duduk menyaksikan hilir mudik orang di jalanan kawasan kelas atas ini.

Istri dan putri Pak Soegianto, yang juga sudah menjadi nenek, tinggal di rumah yang dirawat dengan baik itu. Kecintaan pada ‘gaya masa lalu’ membuat sang puteri tidak melakukan perubahan apa pun pada rumah pusaka keluarga itu, berbeda dengan sebagian besar bangunan retro di Malang yang sudah mengalami berbagai perubahan bentuk.

Rumah CiliwungHak atas fotoRETRONESIA
Image captionRuang tamu di Rumah Ciliwung, yang berada di Malang.

Proyek Terakhir – Bumi Sangkuriang

Sekarang butuh peruangan sendiri menembus kemacetan untuk bisa mencapai Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang di Ciumbuleuit, kawasan perbukitan eksklusif di Bandung Utara. Dulu, saat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, hotel dan restoran ini memainkan peran besar.

SangkuriangHak atas fotoRETRONESIA
Image captionThe Bumi Sangkuriang di Bandung yang dirancang arsitek Belanda, Gmelig Meyling, 1956.

Bandung, dengan berbagai hotel kafe, butik penuh gaya, yang disukai orang-orang Eropa adalah kota yang sedari awal merupakan pilihan utama untuk jadi tuan rumah konferensi legendaris bagi Indonesia itu. Sampai tahun 1940-an, para elit penjajah Belanda dan pengusaha perkebunan Bandung menikmati anggur, perempuan dan musik di Societeit Concordia, sebuah bangunan di jantung kota yang hanya menerima Preangerplanters (pengusaha perkebunan Belanda) dan orang Eropa.

Pada 1954, Soekarno mengambil alih tempat itu -kelak menjadi Gedung Merdeka- dan memerintahkan mereka untuk pindah ke kawasan perbukitan di utara.

Bumi Sangkuriang
Hak atas fotoRETRONESIA
Image captionRancangan meja setengah lingkaran di Bumi Sangkuriang.

Dengan anggapan bahwa mereka akan terus tinggal di sana, klub itu tidak ragu mengeluarkan uang dan menyewa arsitek Belanda terkemuka pada masanya Gmelig Meyling dari NV Ingenieurs Bureau Vrijburg, untuk mendesain sebuah clubhouse yang mencorong di bukit Ciumbuleuit.

Bumi SangkuriangHak atas fotoRETRONESIA
Image captionBar di Bumi Sangkuriang.

Klub ini kemudian menjadi koda bagi dasawarsa kreativitas luar biasa arsitek Gmelig di Indonesia. Arsitektur Bumi Sangkuriang jauh meninggalkan gaya dan ekspresi istana pesta pora bergaya neo-klasik Concordia alias gedung Merdeka yang ditinggalkan para pegiat klub itu.

Selesai dibangun pada awal 1957, gedung ini adalah proyek terakhir sang arsitek dan menjadi mukadimah dari pengusiran massal dan nasionalisasi semua aset Belanda. Klub yang sekarang menjadi Bumi Sangkuriang itu menjadi hotel dan restoran yang terbuka untuk siapa pun -asal membayar. (bbc.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply