WHO Desak Setiap Orang untuk Prioritaskan Vaksin

Seorang anak lelaki menerima vaksinasi polio, selama kampanye anti polio, di kawasan pemukiman berpenghasilan rendah di Karachi, Pakistan, 9 April 2018 (Sumber: VOA Indonesia/REUTERS/Akhtar Soomro)

Organisasi Kesehatan Pan Amerika bertujuan untuk memberikan vaksinasi kepada 70 juta orang di benua Amerika dan Karibia pekan ini sebagai bagian dari Pekan Imunisasi Dunia PBB.

Dr. Flavia Bustreo bekerja selama bertahun-tahun untuk WHO dan untuk GAVI atau Vaccine Alliance. Ia mengatakan, “Imunisasi dan vaksin adalah piranti kesehatan publik yang paling kuat yang kita miliki.”

Bayangkan, ujarnya, berapa jiwa yang dapat diselamatkan apabila vaksin untuk AIDS tersedia di tahun 1980-an, ketika dokter menemukan virus defisiensi kekebalan tubuh pada manusia yang menyebabkan AIDS.

Antara 24 April dan 30 April, PBB menginginkan semua orang menyadari bahwa vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa setiap tahunnya, dari mereka yang masih sangat muda hingga mereka yang berusia sangat tua. Membahagiakan sekali untuk menyaksikan pemerintah berinvestasi pada berbagai upaya imunisasi, menyampaikan kepada para pendukung program untuk menjadikan vaksin suatu prioritas, dan mendesak orang-orang agar mereka dan anggota keluarganya mendapatkan vaksinasi.

Hanya pada manusia

Menurut WHO hampir 13 juta anak kehilangan nyawanya karena penyakit dalam kurun waktu 35 tahun terakhir – nyawa yang mungkin dapat diselamatkan seandainya anak-anak ini telah mendapatkan vaksinasi.

Campak adalah penyakit yang hanya berjangkit pada manusia, bukan di antara hewan liar. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kebutaan, kehilangan pendengaran, dan disabilitas intelektual, namun demikian banyak orang tua yang berpikir vaksin dapat membahayakan anak-anaknya, meskipun banyak studi yang menunjukkan bila vaksin itu aman.

Orang tua-orang tua lainnya tidak memvaksinasi anak-anaknya karena mereka belum pernah mengalami bagaimana campak dapat membuat anak-anak mereka menderita. Pada tahun 2017, campak membunuh 35 orang, sebagian besar anak-anak di Eropa. Di Italia, ada 3.232 kasus campak dari bulan Januari hingga bulan Juni, sementara di tahun 2016, hanya ada 478 kasus campak pada periode waktu yang sama.

Sementara kematian akibat campak di tingkat global telah mengalami penurunan sebesar 84 persen di seluruh dunia pada tahun-tahun belakangan ini – dari 550.100 kematian di tahun 2000 menjadi 89.780 kematian di tahun 2016 – WHO melaporkan campak masih banyak dijumpai di negara-negara berkembang, khususnya di sebagian Afrika dan Asia.

Kemunculan kembali penyakit campak?

Campak sekarang ini telah berhasil diberantas di benua Amerika, namun dengan jumlah orang tua yang tidak mengimunisasi anak-anaknya, ada keprihatinan yang meningkat bahwa penyakit yang sangat menular ini bisa saja berjangkit kembali.

WHO melaporkan bahwa tingkat imunisasi di Federasi Bosnia dan Herzegovina hanya 40 persen di beberapa daerah dan terus mengalami penurunan, yang meningkatkan risiko munculnya wabah yang lebih besar.

Bustreo mengatakan bila anak-anak tidak divaksinasi, kondisi ini mempengaruhi kesehatan mereka dan kesehatan lainnya.

“Kita perlu memiliki program vaksinasi yang menjangkau sekitar 90 persen populasi agar terjadi apa yang disebut sebagai “efek gerombolan” …. yang artinya kita melindungi anak-anak yang divaksinasi, namun juga, karena adanya pengurangan penularan infeksi, kita juga melindungi anak-anak yang tidak divaksinasi,” ujarnya.

Vaksin juga tersedia untuk banyak penyakit mematikan lainnya. WHO bertujuan untuk memvaksinasi sebanyak 1 milyar orang dari 27 negara Afrika yang berisiko tinggi menjelang tahun 2026 untuk menanggulangi demam kuning – penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang dapat bersifat fatal.

Informasi yang menyesatkan di Brazil

Dalam program VOA yang bertajuk Afrika 54, Dr. Ken Redcross mengatakan kepada para pemirsa, “Penyakit ini bersifat fatal karena dapat menyebabkan kegagalan organ hati. Penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan ginjal. Penyakit ini bahkan dapat menyebabkan apa yang disebut koagulopati, sebuah kata yang panjang yang maksudnya penyakit ini dapat menimbulkan masalah dengan menyebabkan terjadinya penggumpalan darah.”

Di Brazil, berbagai upaya untuk memvaksinasi hingga 24 juta orang untuk melindungi dari penyakit telah mengalami kegagalan karena beberapa orang khawatir akan keamanan vaksin. Para pejabat telah berusaha untuk melawan informasi yang menyesatkan ini. Redcross mengatakan tidak saja vaksin aman, namun juga sangat efektif. “Vaksin memberikan 90 persen imunitas. Dan sejauh menyangkut vaksin ini adalah suatu yang luar biasa,” ujar Redcross.

Pihak berwenang untuk kesehatan masyarakat di Brazil mengumumkan di awal tahun 2017 wabah demam kuning telah berjangkit di beberapa negara bagian timur Brazil, termasuk daerah dimana demam kuning biasanya tidak dianggap sebagai suatu risiko. Sejak akhir tahun 2017, kasus-kasus demam kuning telah berjangkit kembali di beberapa negara bagian, termasuk daerah-daerah yang dekat dengan kota Sao Paulo.

Demam kuning di AS

Pada situs webnya, Departemen Kesehatan Florida mengatakan demam kuning menjadi keprihatinan utama masyarakat di AS dan bertanggung jawab atas munculnya wabah yang meluas di Florida antara tahun 1700-an dan 1800-an.

Nyamuk yang menularkan demam kuning ditemukan di daerah bagian selatan AS. Dengan perjalanan internasional, ada kekhawatiran demam kuning akan kembali menjadi keprihatinan utama masyarakat di AS.

WHO mendesak negara-negara untuk memperkuat program imunisasi rutin. Di antara tujuannya menjelang tahun 2020: untuk menyelesaikan upaya internasional untuk mengakhiri polio, yang saat ini ditemukan hanya di tiga negara, berkat vaksin yang amat efektif. WHO juga ingin mengendalikan lebih banyak penyakit yang dapat dicegah lewat vaksinasi dan mengembangkan vaksin-vaksi baru untuk HIV dan penyakit-penyakit lainnya yang masih menjangkiti dunia modern. [ww]/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply