Jerit Pilu Berujung Maut Korban-korban Bom dan Senjata Kimia

Korban bom napalm di Vietnam (1972) (Sumber: Doobybrain.com)

Oleh: Syaiful W HARAHAP

Ketika pihak-pihak yang bertikai di Suriah melancarkan serangan dengan senjata kimia kita akan teringat kepada seorang gadis cilik desa di Trang Bang, Vietnam, 8 Juni 1972, yang berlari dengan kondisi telanjang sambil menangis sambil berteriak: “Nong qua! Nong qua! … panas, panas!”

Itu terjadi di Vietnam ketika negara itu terlibat perang dengan Amerika Serikat (AS). Ketika itu (1972) AS menjatuhkan bom Napalm (bom berisi zat kimia yang mudah terbakar yang ditandai dengan bola api besar yang menghanguskan apa saja pada radius 100 meter) sebagai bagian dari upaya AS melumpuhkan Vietnam.

Foto gadis cilik yang dijepret oleh wartawan kantor berita AS “Associated Press(AP), Huynh Cong “Nick” Ut. Selain menunjukkan kedahsyatan bom napalm foto itu juga jadi saksi sehingga identitas gadis cilik itu dikenal yaitu Kim Phuc, ketika itu berusia 9 tahun. Dia telanjang karena pakaiannya kena serpihan bom dan kulitnya mengelupas. Gadis itu selamat dan sekarang jadi duta PBB untuk kegiatan sosial.

Korban senjata kimia di Syria (4/4-2017) (Sumber: dailymail.co.uk)

Sedangkan di Suriah rezim Presiden Bashar al-Assad  melancarkan serangan senjata kimia untuk melumpuhkan pasukan yang mereka sebut sebagai pemberontak sejak tahun 2013. Perang saudara yang terjadi sejak 2011 menewaskan lebih dari 470.000 orang menurut lembaga swadaya masyarakat Pusat Penelitian Kebijakan (Syrian Center for Policy Research/SCPR) (bbc.com/indonesia, 15/3-2018).

Tahun lalu yang disasar adalah Provinsi Idlib Utara (4/4-2017). Seperti dilaporkan lembaga pemantau asing membunuh puluhan orang, sebagian di antaranya anak-anak. Korban luka-luka dan sesak napas menjalani perawatan di rumah sakit. Korban tiba-tiba sesak napas. Ini bukti yang dipakai adalah senjata kimia bukan senjata atau bom dengan mesiu.

Senjata kimia terus dipakai dalam konflik di Suriah. Celakanya, tidak ada pihak yang bersengketa di negeri itu yang mengakui atau membenarkan serangan senjata kimia tsb. Laporan dw.com (4/4-2017) menyebutkan serangan senjata kimia ini merupakan yang ketiga kalinya. Dua kasus sebelumnya disebutkan terjadi di wilayah Provinsi Hama yang justru tidak jauh dari Khan Sheikhoun yang jadi sasaran senjata kimia (4/4-2017). Tahun 2013  serangan gas beracun terjadi di pinggiran Ghouta, pinggiran Kota Damaskus, menewaskan ratusan warga sipil. Serangan itu, menurut laporan PBB merupakan serangan gas sarin beracun, sebuah serangan terburuk dalam perang sipil di Suriah.

Serangan senjata kimia di Suriah seakan-akan dilancarkan “makhlus halus” karena tidak pernah ada pihak yang bertanggung jawab. Bahkan, ada negara besar yang justru menuding AS dan Barat membuat propaganda senjata kimia dalam kancah perang saudara yang melibatkan asing di Suriah. Penggunaan senjata atau bom kimia jadi momok yang menakutkan bagi manusia.

Sebagian korban perang saudara ini adalah perempuan dna anak-anak” sejak 2013, hampir seperempat korban tewas adalah anak-anak (Sumber: bbc.com/indonesia-AFP)

Belakangan koalisi AS, Inggris dan Perancis (13/4-2018) menggempur pusat persenjataan dan penelitian kimia Suriah. Koalisi menyebutkan bahwa serangan udara Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis disebutkan sebagai tanggapan atas serangan senjata kimia oleh pemerintah Suriah terhadap warga sipil di Douma awal April 2018 (bbc.com/indonesia, 14/4-2018).

Biar pun secara internasional senjata kimia dilarang, tapi banyak negara yang justru mengembangkan senjata kimia. Kelak perang tidak hanya memakai peluru tajam, tapi juga memakai zat-zat kimia yang mematikan. Senjata kimia yang dikenal luas dan jadi andalan beberapa negara, al. gas VX, gas sarin, gas mustrad atau moster, gas fosgene, dan klorin.

Tampaknya, PBB tidak bisa mengatasi pembuatan senjata kimia, bahkan negara-negara kecil pun mulai mengembangkan senjata kimia dengan alasan untuk melindungi negaranya.

Maka, perlu gerakan dunia untuk menghentikan pengembangan senjata kimia karena menyangkut nyawa jutaan manusia yang tidak berdaya sebagai korban konflik dan perang. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply