PSIKOLOGI: Mentor bagi Anak dan Remaja

Ilustrasi (Sumber: KOMPAS)

MA alias Gopal (24) dan MF alias Rayap (19) mencoba membunuh R (16), gadis yang hamil akibat hubungannya dengan MA. Saat R meminta pertanggungjawaban dari MA, MA yang tidak siap menikah bercerita kepada adiknya, MF, dan MF memberikan ide untuk membunuh R. Lalu, R pun ditemukan di pinggir kali dengan tubuh penuh luka tusuk. (”Kompas”, 12 April 2018)

KRISTI POERWANDARI (Sumber: KOMPAS)

Oleh: KRISTI POERWANDARI

Berita di atas sangat menyedihkan dan menyadarkan kita bahwa banyak anak dan remaja berada dalam situasi berisiko. Anak atau remaja perempuan berisiko menjadi korban kejahatan, sering kali justru oleh orang-orang dekatnya. Anak atau remaja laki-laki mungkin berisiko menjadi pelaku kejahatan meski makin banyak pula yang menjadi korban.

Situasi berisiko

Anak atau remaja akan lebih berisiko menjadi pelaku atau korban kejahatan jika mereka telantar, ada dalam lingkungan terdekat yang melakukan penganiayaan atau kekerasan, serta secara ekonomi tergolong miskin, termasuk juga jika orangtuanya tidak ada, tidak bertanggung jawab, serta banyak mempermalukan dan menghukum secara fisik. Kecenderungan untuk mengadopsi perilaku bermasalah juga meningkat jika anak terpapar remaja-remaja lain yang berperilaku antisosial.

Dengan lingkungan demikian, remaja berada dalam situasi sulit. Mungkin terpisah dari orangtua atau tidak memiliki hubungan dekat dan tidak memperoleh bimbingan yang baik dari keluarga. Mereka membutuhkan teman dekat atau orang yang memahami, tetapi dalam kenyataannya mereka kesepian dan terisolasi. Sementara itu, lingkungan menyodorkan pornografi, minuman oplosan, memberi contoh penyalahgunaan narkoba, kekerasan, dan berbagai perilaku maladaptif. Bahkan, lingkungan juga mungkin turut mencontohkan model mencari nafkah dengan melakukan tindak kriminal.

Anak memerlukan penerimaan positif dari lingkungan agar dapat mengembangkan penerimaan dan konsep yang juga positif tentang diri sendiri. Akan tetapi, lingkungan menyulitkannya mengembangkan konsep diri positif. Tidak hanya itu, selain tidak memberikan contoh perilaku positif, yang terus dipaparkan justru contoh-contoh perilaku buruk.

Anak dan remaja perlu teman, penerimaan, dukungan, dan orang yang mengerti kebingungan mereka, serta dapat memberi arahan positif. Namun, mereka mungkin ragu: apakah orang lain sungguh peduli, mengerti, menerima, dan mau memberikan dukungan? Bahkan, remaja yang memiliki hubungan baik dengan orangtua juga punya tekanan-tekanan hidup khusus sebagai remaja, dan mungkin akan merasa lebih nyaman bila ada orang dewasa lain yang peduli dan mau berbagi.

Mentor

Dari masa ke masa, kebutuhan anak dan remaja itu sama: memperoleh penerimaan, dukungan, dan arahan. Di masa Kartini, kebutuhannya adalah pendidikan dan sekolah bagi anak perempuan. Di masa kini, situasinya lebih kompleks lagi. Bila Kartini hidup di masa kini, tampaknya ia tidak akan tinggal diam karena merasakan kasih sayang dan dorongan yang begitu besar untuk menjadi mentor dan pendamping anak dan remaja.

Anderson dan Shannon (1988) mendefinisikan mentor sebagai seorang yang lebih memiliki keterampilan dan pengalaman, yang mengambil peran membimbing, menyemangati, menjadi teman bagi orang lain yang kurang pengalaman dan keterampilannya. Tujuannya untuk membantu pengembangan personal dan profesional dari yang dibimbing.

Karla Satchwell (2006) menyusun tinjauan terhadap berbagai penelitian mengenai kegiatan bimbingan (mentoring) pada remaja. Program bimbingan berhasil mengembangkan berbagai perilaku positif dan memberdayakan remaja untuk dapat mengembangkan hubungan lebih baik dengan orangtua dan teman sebaya.

Bimbingan bagi remaja memiliki beberapa ciri: menyediakan bimbingan dan perawatan, mengajarkan kebajikan sosial dan kultural yang diperlukan, dan menghadirkan koneksi. Mentor menyediakan waktu untuk mendengar, membimbing, memberi dukungan emosional, membagikan pengalamannya sendiri, serta membukakan pemahaman mengenai hal-hal positif yang perlu diperjuangkan.

Jadi, mentor adalah model peran sekaligus sosok yang hadir nyata untuk memberikan perasaan terhubung atau rasa aman bagi remaja. Yang kita bayangkan mungkin mentor formal yang mendapat tugas dari sekolah atau lembaga pendampingan remaja. Akan tetapi, sebenarnya jauh lebih dapat diefektifkan mentor informal atau alamiah dari lingkungan remaja itu sendiri, misalnya dari keluarga besar atau lingkungan tempat tinggal. Bila memiliki kapasitas, dapat pula teman sebaya yang melakukannya.

Mentor secara sukarela menyediakan waktu untuk bertemu dan terlibat dalam berbagai aktivitas remaja, memberi dukungan, pendampingan, dan contoh. Akan lebih efektif bila mentor juga dapat bertemu dengan orang-orang penting di lingkungan remaja, misalnya orangtua, guru, atau pekerja sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa bila remaja merasa mentornya sungguh peduli dan menghargai minat-minatnya, mereka akan tergugah dan mampu memperbaiki sikap dan perilakunya. Jadi, dampaknya positif bila mentor menunjukkan kepedulian dan penghormatan kepada remaja yang dibimbingnya serta memiliki keterampilan untuk mendampingi dan membimbing.

Pendekatan positif

Disadari atau tidak, guru, orangtua, dan orang dewasa di sekitar anak dan remaja sering memberikan label negatif: ”dia memang ’bandel’, ’susah diatur’, ’sudah rusak’, ’tidak bisa dinasihati’, ’kalau keluarganya brengsek, ya, anaknya brengsek’” dan label-label lain. Label negatif justru akan menghadirkan hal-hal yang dilabelkan itu.

Dalam psikologi ada yang disebut self-fulfilling prophecy. Karena fokus diarahkan pada hal-hal buruk, hal-hal buruk itulah yang akan terjadi. Bila kita terus menyebut anak kita nakal dan bodoh, ia diyakinkan ada yang salah dengan dirinya dan memang bodoh.
Sebenarnya itu dapat dipahami secara sangat sederhana: apa yang akan terjadi bila orang lain terus saja punya kesimpulan negatif mengenai diri kita? Jika demikian, untuk apa harus tampil positif? Tidak ada yang ingin terus dipersalahkan dan diingat-ingatkan akan sisi negatif diri dan hidupnya. Mentor juga perlu mengembangkan keterbukaan, kepedulian, dan pendekatan yang positif dalam mendampingi anak dan remaja. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply