HARI KARTINI: Ibu Negara dan Pegiat Perempuan Berdialog soal Narkoba

Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla memandu dialog dengan pegiat perempuan di halaman Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/4/2018). Dialog digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini yang jatuh hari ini. (Sumber: KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT).

Bogor, Baranews.co – Ibu Negara Iriana Joko Widodo menggelar dialog dengan pegiat perempuan terkait masalah penanganan narkoba dan anak penyandang disabilitas di halaman depan Istana Bogor, Jawa Barat (21/4/2018).

Dialog yang digelar dalam suasana santai itu merupakan ajang berbagai persoalan antara pegiat perempuan, pejabat pemerintah, dan istri pejabat pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah. Kali ini, dialog digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini.

Dialog yang dipandu langsung Iriana Joko Widodo dan Mufidah Jusuf Kalla itu menghadirkan Aisyah Dahlan, pegiat perempuan pencegahan narkoba serta Trusti Moelyono, pimpinan Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Kedua aktivis melayani semua pertanyaan Iriana dan Mufidah seputar kegiatan yang telah dilakukannya.

Kepada Aisyah, Mufidah Kalla menanyakan tantangan-tantangan apa yang dihadapi dalam menjalankan kegiatannya. Menurut Aisyah, penanganan pecandu narkoba tidak mudah karena narkoba mengganggu fungsi otak dan memicu orang untuk emosi.

“Sehingga kesulitan keluarga membawa berobat. Jika anaknya yang belum bisa dibawa berobat, kami mohon orangtuanya untuk berkonsultasi ke kami,” kata Asiyah memberi saran.

Aisyah mengaku memiliki kiat-kiat untuk membujuk anak-anak yang kecanduan narkoba. Salah satu caranya adalah melibatkan teman-temannya, orangtuanya, dan lingkungan sekitar. Dengan cara itu, membujuk mereka yang kecanduan narkoba untuk menjalani rehabilitasi dapat dilakukan.

Iriana terkejut saat Aisyah menyampaikan bahwa pecandu narkoba dapat diawali dengan persentuhan anak-anak pada benda disekelilingnya. Benda yang dimaksud antara lain lem, spidol, bensin, dan pembersih kamar mandi. Dengan menghirup barang-barang itu, maka anak mulai terkena zat adiktif. Kegiatan seperti ini, kata Aisyah, sulit dihentikan karena telah menjadi kebiasaan.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua dari kiri) dan istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla (ketiga dari kiri). Foto diambil saat memanen sayuran di Balai Besar Latihan Masyarakat Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (9/5/2016).

Pertanyaan serupa ditujukan pada Trusti Moelyono, pimpinan Yayasan Sayap Ibu Bintaro. Menurut Trusti, tantangan menghadapi anak-anak penyandang disabilitas justru datang dari keluarga mereka sendiri.

Sebagian besar, penyandang disabilitas parah dianggap sebagai aib, hal yang memalukan, dan mereka akhirnya disembunyikan. “Mereka dianggap barang dan tidak diapa-apakan. Padahal mereka seharusnya dapat diperlakukan lebih baik ke tempat terapi,” kata Trusti.

Pada kondisi ini, keluarga dan lingkungan sekitar memegang peran penting. Anak-anak seperti perlu diperlakukan sama dengan anak pada umumnya. Sehingga mereka dapat hidup lebih produktif untuk lingkungan sekitarnya. Menurut Iriana, lingkungan sekitar anak harus mendukung program seperti ini.

Hadir Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yambise, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar

Di lokasi yang sama, hadir para istri menteri yang terganung dalam Oase, Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja kabinet kerja. Melengkapi mereka, hadir para istri gubernur se Indonesia dan sejumlah pegiat perempuan. (ANDY RIZA HIDAYAT/Harian KOMPAS).

Be the first to comment

Leave a Reply