LIGA CHAMPIONS: Barca Diterkam ”Serigala”

Kiper Barcelona, Marc-Andre ter Stegen, menghadang upaya pemain serang AS Roma, Stephan El Shaarawy (tengah), yang dikawal bek Barcelona, Nelson Semedo, pada laga kedua perempat final Liga Champions di Stadion Olimpico Roma, Rabu (11/4) dini hari WIB. Roma menjungkalkan Barcelona, 3-0, dan dengan agregat 4-4 lolos ke semifinal berkat keunggulan gol tandang. (Sumber: KOMPAS/AP PHOTO/GREGORIO BORGIA).

Roma, Baranews.co AS Roma berubah menjadi serigala yang buas saat menjamu Barcelona pada laga kedua babak perempat final Liga Champions di Stadion Olimpico, Rabu (11/4/2018) dini hari WIB. Roma yang tertinggal agregat gol 1-4 di laga pertama babak perempat final pekan lalu, kemarin mampu menjungkirkan Barca setelah menang 3-0.

Dengan hasil itu, Roma menyamakan agregat gol menjadi 4-4. Roma lolos ke semifinal karena mencetak gol di kandang Barca pada laga pertama. Kemenangan ini memutarbalikkan prediksi yang berpihak kepada Barca. Kemenangan itu menguatkan ungkapan lama, ”semua hal bisa terjadi di sepak bola”.

Barcelona yang sangat perkasa sepanjang musim 2017-2018 dan baru kalah satu kali menjadi mati kutu saat menghadapi Roma. Lionel Messi dan Luis Suarez yang biasanya beringas di depan gawang tidak bisa berbuat banyak menghadapi disiplinnya para pemain Roma di semua lini.

Pelatih Roma Eusebio Di Francesco mempelajari kekalahan di laga pertama dan meracik taktik yang tepat guna menghadapi Barca. Francesco melihat dominasi penguasaan bola Barcelona sebagai kelebihan dan sekaligus kelemahan.

Lima gelandang

Taktik Barca yang tak banyak berubah sepanjang musim memudahkan Francesco mencari celah. Ia memasang lima gelandang yang memiliki kecepatan dan stamina untuk merusak permainan di lini tengah Barca. Pada lini depan, Edin Dzeko diduetkan dengan Patrik Schick untuk menyerang balik dengan cepat.

Para gelandang dan penyerang Roma menghadang pergerakan bola Barca sejak lini tengah. Dominasi penguasaan bola Barca sulit diwujudkan sehingga ritme permainan mereka kacau.

Kondisi itu memaksa para bek Barcelona ikut maju sehingga garis pertahanan mereka terlalu jauh dari gawang. Hal itu memudahkan Edin Dzeko mencetak gol perdana dari skema serangan balik pada menit keenam.

Gol cepat itu membuat para pemain Roma semakin menggebu-gebu. Pertahanan yang ketat dan diikuti serangan balik cepat membuat Roma berulang kali menusuk pertahanan Barca.

Messi yang biasanya menjadi solusi bagi semua masalah Barcelona menjadi tidak berdaya karena dijaga ketat. Pasokan bola baginya juga dibatasi.

”Ini merupakan laga yang membuat kami tidak dapat memainkan permainan kami. Roma sangat agresif, mereka bermain sangat baik,” kata Pelatih Barcelona Ernesto Valverde.

Agresivitas serangan Roma pada babak kedua memaksa Gerard Pique menjatuhkan Dzeko di kotak terlarang. Gol penalti Daniele De Rossi, menit ke-58, membuat Roma unggul 2-0. Gol lewat sundulan Kostas Manolas, menit ke-82, melengkapi keunggulan Roma, 3-0.

Keberhasilan menembus semifinal ini mengakhiri penantian Roma selama 34 tahun. Roma terakhir kali mencapai babak empat besar pada musim 1983-1984. Saat itu, Roma mencapai final, tetapi kalah dari Liverpool.

”Saya menerima semua kata-kata buruk di media sosial saat kalah. Jadi, kini, saya menerima semua pujian setelah menang. Saya memilih membuat taktik melebar, yang memungkinkan lebih banyak serangan balik dan bermain cepat. Namun, yang berubah adalah filosofi dari sayap dan kami harus berlanjut seperti ini,” kata Francesco.

Francesco yakin timnya dapat mencapai final dan mengulang prestasi pada 1983-1984. ”Tentu kami harus yakin mencapai final. Mengapa tidak percaya? Kami sudah mencapai sejauh ini dan tidak seorang pun mengira kami dapat melakukannya. Jadi, kami harus terus maju dan mengincar sesuatu yang lebih, mencapai batas setiap saat,” tuturnya.

Bagi Barcelona, kekalahan itu mengulang kegagalan yang sama pada musim 2016-2017. Saat itu, Barca juga kalah dari klub Italia, Juventus, dengan skor 0-3 pada laga kandang di perempat final.

”Hasil kami di tingkat Eropa pada dua tahun ini sangat buruk. Kami harus mengubah beberapa hal jika ingin memenangi Liga Champions lagi,” kata Sergio Busquets, gelandang Barca.

Barca terakhir kali menjuarai Liga Champions pada 2014-2015. Sampai saat ini, Barca sudah lima kali menjuarai Liga Champions. (AFP/Reuters/ECA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply