Bersepeda di Jeddah: Perempuan Saudi Sambut Kebebasan

Amirah al-Turkistani, seorang dosen desain grafis di Jeddah International College, bersepeda di Jeddah, Arab Saudi, 7 November 2017. (Sumber: VOA Indonesia/Reuters).

Jeddah, Baranews.co – Ketika Amirah al-Turkistani meninggalkan Boston pada 2015 setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana, teman-temannya mentertawakan keputusan Amirah untuk mengirim sepeda kesayangan yang berwarna hijau muda ke negara asalnya, Arab Saudi.

“Mereka bilang kepada saya, “Mau kamu apakan sepeda itu di Jeddah, digantung di dinding?” kata Amirah, tergelak, merujuk pada kota kelahirannya di pantai Laut Merah.

Pada masa pengaruh konservatif di kerajaan Muslim itu, kegiatan bersepeda di tempat umum sama sekali tak terpikirkan. Polisi syariat sering berpatroli di tempat-tempat umum untuk memberlakukan aturan pakaian yang sopan, melarang musik dan minum alkohol, menutup toko-toko pada saat shalat dan memisahkan laki-laki perempuan yang bukan muhrim.

Tiga tahun kemudian, Amirah bersepeda secara rutin di sekitar jalan-jalan di sepanjang tepian pantai, sendiri atau bersama suami dan anak-anaknya.

Ketika bersepeda, perempuan berusia 30 tahun itu, mengenakan abaya, baju panjang longgar, dan masih diwajibkan sebagai baju yang dikenakan di tempat umum untuk para perempuan Saudi.

Tapi dia memilih mengenakan abaya yang dia desain sendiri dalam berbagai warna pastel dan tidak memilih abaya hitam. Abaya yang dikenakan berhias renda dan bercak-bercak warna cerah.

“Jeddah masa kini tidak sama dengan Jeddah lima, enam tahun lalu,” kata Amirah, yang berprofesi sebagai pengajar desain grafis di Jeddah International College.

“Pengawasan terhadap busana (telah melonggar), ada lebih banyak tempat untuk dikunjungi, kesempatan bekerja antara laki-laki dan perempuan, sama,” ujar Amirah yang menjual abaya buatannya untuk kepuasan pribadi dan sekadar mendapat penghasilan tambahan.

Arab Saudi, yang selama puluhan tahun tampak terjebak dalam masa lalu, mulai berubah hari demi hari.

Di bawah program reformasi yang bertujuan memodernisasi kerajaan dan mentransformasi perekonomian dengan mengurangi ketergantungan dari minyak, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, 32 tahun, telah melonggarkan pembatasan sosial, mengurangi kekuasaan polisi syariat, mensponsori konser-konser umum dan mengakhiri pelarangan bioskop komersial yang sudah berjalan 40 tahun.

Baca: Pameran Mobil Khusus Perempuan di Jeddah

Fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Arab dan Turki, serta pernah belajar balet, Amirah adalah bagian dari generasi muda perempuan Arab yang meraih kesempatan baru meski ada sistem perwalian yang masih mewajibkan perempuan untuk mendapatkan persetujuan kerabat laki-laki untuk beberapa keputusan penting, seperti bepergian ke luar negeri.

Namun Amirah menyadari tidak semua perempuan di negara berpenduduk 32 juta itu, punya kesempatan yang sama. Hukum adat, kerabat laki-laki yang mendominasi dan konservatisme agama yang masih ada, menutup kesempatan perempuan Saudi untuk mendapatkan hak-hak dasar.

“Dia mungkin (modern) tapi tidak keluarganya. Dia bisa saja seperti ini tapi suaminya tidak membolehkannya,” kata ibu dua anak yang yakin masih banyak pihak menentang reformasi baru itu.

“Memang benar ada perubahan tapi saya berbicara mengenai sesuatu yang sangat kecil,” kata dia. “Saya tidak tahu tempat lain, kota lain. Saya hanya berbicara mengenai Jeddah.” [ft]/Reuters/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply