PSIKOLOGI: Mengatasi Perasaan Negatif Anak

Sumber: Harian KOMPAS

Bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak merupakan pembahasan yang tak pernah selesai. Selalu ada hal baru dan hal lama yang perlu diingatkan kembali.

Agustine Deiputri (Sumber: KOMPAS)

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Satu hal yang pasti, orangtua dan anak adalah individu terpisah sehingga mereka bisa memiliki dua jenis perasaan yang berbeda. Tak satu pun darinya yang benar ataupun salah. Orangtua dan anak masing-masing merasakan apa yang mereka rasakan.

Adele Faber dan Elaine Mazlish (2012) mengatakan, umumnya seseorang mencoba ”membantu” orang lain (sesama orang dewasa ataupun anak) melalui cara yang berbeda.

Pertama, penolakan perasaan: ”Tidak ada alasan untuk marah, bodoh sekali kalau seperti itu. Tidak mungkin seburuk itu perasaanmu. Ayo, tersenyum, kamu terlihat cantik kalau tersenyum.”

Kedua, respons filosofis: ”Lihatlah hidup itu ya seperti ini. Segala sesuatu tidak selalu terjadi seperti yang kita inginkan. Di dunia ini, tidak ada yang sempurna.”

Ketiga, pemberian saran: ”Tahukah kamu apa yang saya pikir harus dilakukan? Besok lakukan ini dan itu supaya hal seperti itu tak akan terjadi lagi.”

Keempat, pertanyaan: ”Apakah kamu menyadari bahwa guru akan marah jika kamu tidak segera melakukannya? Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?”

Kelima, membela pihak lain: ”Ayah bisa mengerti reaksi gurumu. Dia mungkin sangat stres dan banyak beban. Kamu beruntung dia tidak terlalu sering kehilangan kesabaran.”

Keenam, mengasihani: ”Betapa malangnya kamu. Itu keterlaluan! Aku merasa sangat kasihan padamu, aku hanya bisa bersedih.”

Ketujuh, psikoanalis amatiran: ”Pernahkah terpikir olehmu bahwa sebenarnya alasanmu sangat kecewa dengan peristiwa ini adalah karena gurumu mewakili sosok ayah dalam hidupmu? Sebagai anak, mungkin sebelumnya (kamu) sudah khawatir ayah tidak menyukaimu. Ketika guru memarahimu, kamu jadi kembali merasakan seperti tidak disayang lagi. Begitu kan?”

Kedelapan, respons empatis (usaha untuk menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain): ”Nak, sepertinya kamu mendapat pengalaman berat. Dimarahi guru seperti itu di depan teman-teman sekelas, apalagi setelah terpeleset di jalan, rasanya cukup sulit untuk menahan perasaan kecewamu ya.”

Respons empatis

Saat seseorang kesal atau sakit hati, ia tidak ingin mendapat penyangkalan, nasihat, dikasihani, ataupun pendapat orang lain. Tanggapan semacam itu akan membuat seseorang yang sedang punya perasaan negatif akan merasa lebih buruk dari sebelumnya. Reaksi utama mereka terhadap sebagian besar tanggapan ini adalah: ”Ya, lupakan sajalah, atau apa gunanya melanjutkan, dia tidak mengerti saya.”

Proses ini juga terjadi pada anak-anak. Mereka akan dapat membantu diri mereka sendiri jika mereka memiliki telinga yang mendengarkan dan respons yang empatis.

Jadi, orangtua perlu benar-benar mendengarkan untuk mengenali rasa sakit dalam batin anak dan memberi kesempatan anak berbicara lebih banyak tentang apa yang mengganggunya. Dengan begitu, rasa kesal dan bingung pada anak dapat berkurang. Akhirnya anak menjadi lebih mampu mengatasi perasaan dan masalahnya. Anak mungkin akan merenungkan sendiri, ”Oh, biasanya guru saya adil, saya akan pergi ke sekolah lebih cepat besok….”

Empat keterampilan

Berikut ini terdapat empat kemungkinan cara dari Faber dan Mazlish untuk membantu anak mengatasi perasaan sulit mereka.

Pertama, dengarkan dengan penuh perhatian ketimbang hanya mendengarkan setengah-setengah. Anak dapat juga merasa kecil hati atau diremehkan jika orangtua hanya berbasa-basi dalam memahami dan mendengarkan.

Jauh lebih mudah menceritakan masalah kepada orangtua yang benar-benar mendengarkan. Berhentilah melakukan aktivitas lain, kecuali hadapkan tubuh, wajah, dan tatapan mata sepenuhnya kepada anak. Terkadang bersikap diam yang simpatik dalam waktu sebentar saja justru menjadi hal yang sangat dibutuhkannya.

Kedua, akui perasaan mereka dengan kata-kata, seperti ”oh”, ”hm”, dan ”begitu”, daripada memberi pertanyaan atau saran. Akui penyampaian anak dengan kata-kata semacam ini. Sulit bagi seorang anak untuk berpikir jernih atau konstruktif saat seseorang mempertanyakan, menyalahkan, atau menasihatinya. Kata-kata sederhana seperti ini, ditambah sikap peduli dan anggukan kepala, adalah ajakan kepada anak untuk mengeksplorasi pemikiran dan perasaannya sendiri, dan mungkin menemukan solusi sendiri.

Ketiga, beri nama terhadap perasaan mereka. Menyangkal perasaan adalah sesuatu yang aneh. Ketika kita mendesak seorang anak menyingkirkan suatu perasaan buruk, hal itu hanya akan membuat anak makin kesal. Orangtua biasanya tak memberikan respons seperti yang tertera di sini karena mereka takut memberi nama pada perasaan anak akan memperburuk keadaan.

Padahal, dengan memberi nama pada perasaan, anak yang mendengar kata-kata tentang apa yang dia alami akan merasa sangat terhibur. Penamaan pada perasaan itu membuat anak merasa ada seseorang yang mengakui pengalaman batinnya. ”Oh, sungguh mengejutkan ya kejadian tadi”, ”Kehilangan seorang teman memang bisa menyakitkan, sayang”, ”Kamu benar-benar peduli pada kucing yang sakit itu”.

Keempat, beri kesempatan menyatakan keinginan anak dalam fantasi. Daripada memberikan penjelasan dan logika, beri kesempatan anak menyampaikan keinginannya dalam fantasi. Apabila anak menginginkan sesuatu yang tidak dapat mereka miliki, orang dewasa biasanya merespons dengan penjelasan logis mengapa mereka tidak memilikinya. Sering kali, semakin sulit kita jelaskan, semakin keras mereka memprotes. Padahal, terkadang hanya dengan hadirnya seseorang yang mengerti betapa anak menginginkan sesuatu membuat anak lebih mudah menanggung kenyataan.

Hal yang lebih penting daripada berbagai kata-kata yang kita gunakan adalah sikap kita. Jika sikap kita bukan sesuatu yang bersifat kasih sayang, apa pun yang kita katakan akan dirasakan anak sebagai palsu atau manipulatif. Ucapan kita yang diresapi dengan perasaan empatilah sebenarnya yang akan berbicara langsung kepada hati sang anak.

Dari empat keterampilan itu, mungkin yang paling sulit adalah mendengarkan curahan emosional anak, kemudian memberi nama pada perasaan yang disampaikan. Dibutuhkan latihan dan konsentrasi agar bisa melihat ke dalam, melampaui apa yang anak katakan untuk mengidentifikasi apa yang mungkin dirasakannya.

Berdasarkan uraian itu, mana respons orangtua yang lebih baik atas kata-kata anak berikut ini: ”Ibu, saya capek, belajarnya nanti lagi ya.”

A: ”Mana bisa kamu capek? Kamu baru saja tidur siang.”

B: ”Jadi kamu masih merasa capek ya Nak meskipun baru saja tidur siang?”

Selamat berlatih. (Harian KOMPAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*