PILKADA JAWA TIMUR: Jokowi dan Prabowo Semakin Senjang di Jawa Timur

Proyeksi lawan-lawan Jokowi di Pilpres 2019. Jarak elektabilitas Jokowi dan Prabowo di Provinsi Jawa Timur terpantau semakin jauh dalam Survei Elektabilitas yang diselenggarakan Litbang Kompas. (Sumber: DHANANG DAVID UNTUK KOMPAS).
Bestian Nainggolan, (Sumber: KOMPAS/HANDINING)

Oleh: BESTIAN NAINGGOLAN

Apabila Prabowo Subianto kembali bertarung dalam Pemilu Presiden 2019, menaklukkan pemilih Jawa Timur merupakan pertarungan paling berat. Lonjakan dukungan harus terjadi pada semua wilayah kultural, bahkan termasuk wilayah basis kekuatannya selama ini.

Pasalnya, becermin pada hasil survei, nyaris semua benteng loyalitas yang menopang perolehan suaranya pada Pemilu Presiden 2014 kini sudah terkuasai rivalnya, Presiden Joko Widodo.

Mengkaji peta persaingan yang terbentuk, jika pemilu presiden dilakukan saat ini, Jawa Timur tidak lagi menjadi medan pertarungan perebutan suara yang kompetitif. Hasil survei yang dilakukan Litbang Kompasmenunjukkan pola persaingan hanya terjadi pada sosok-sosok terbatas.

Saat ini, mayoritas responden (77,9 persen)  menjatuhkan pilihannya hanya kepada dua sosok, Presiden Jokowi dan Prabowo. Tidak banyak alternatif sosok pilihan lain yang tersirat mampu menandingi kedua sosok tersebut.

Nama-nama tokoh masyarakat yang kini banyak beredar dalam berbagai pemberitaan, seperti Gatot Nurmantyo, Moeldoko, Anies Baswedan, Sri Mulyani, ataupun sosok pemimpin partai yang semakin sering ditonjolkan, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Agus Harimurti Yudhoyono (putra Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono), dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, relatif senyap di Jawa Timur.

Pola persaingan menjadi semakin tidak kompetitif jika dilihat dari penguasaan suara kedua sosok yang bersaing. Jarak perbedaan yang tecermin dari tingkat keterpilihan Presiden Jokowi dan Prabowo tampak senjang.

Saat ini, Jokowi mampu menguasai hingga 58,5 persen responden. Terpaut jauh di bawahnya, dukungan yang dikuasai Prabowo. Maksimal, hanya seperlima bagian responden yang terkuasai  Prabowo. Dengan hasil tersebut, jika pemilu presiden dilakukan saat ini, di Jawa Timur Jokowi berlenggang.

Keunggulan Jokowi mengindikasikan hingga saat ini ia semakin banyak disukai pemilih Jawa Timur.  Becermin pada Pemilu Presiden 2014, Jawa Timur sebenarnya juga menjadi wilayah kemenangan Jokowi. Sekitar 53,2 persen atau 11,7 juta suara pemilih dari total 21,9 juta pengguna hak pilih di Jawa Timur dikuasai Jokowi. Artinya, becermin pada hasil survei saat ini, surplus dukungan kini terjadi pada Jokowi, dan sebaliknya penurunan dukungan terjadi pada Prabowo.

Padahal, sekalipun Jokowi mampu menjadi pemenang dalam Pemilu Presiden 2014, Jawa Timur bukan wilayah mudah.  Perolehan suara Prabowo di Jawa Timur juga tergolong signifikan. Ia mampu menghimpun hingga 10,2 juta pemilih (46,8 persen).  Dengan perbedaan suara di antara keduanya (net margin) hingga 6,3 persen, Jawa Timur menjadi potret medan persaingan sengit.

Apalagi, apa yang saat itu tergambarkan di Jawa Timur menjadi potret persaingan riil kedua sosok tersebut secara nasional. Dikatakan demikian lantaran proporsi penguasaan suara kedua sosok yang bersaing itu mirip dengan proporsi suara nasional. Dalam pilpres, saat itu secara nasional  Jokowi unggul 53,15 persen dan Prabowo menguasai 46,85 persen, dengan selisih yang juga relatif sama dengan Jawa Timur.

Itulah mengapa, dengan kondisi yang  tengah berlangsung, sebagaimana pola persaingan yang  tergambarkan dari hasil survei ini, tiada pilihan lain bagi Prabowo mengatasi segenap ketertinggalannya di Jawa Timur. Namun persoalannya,  bagaimanakah gambaran detail peta ketertinggalannya kini di Jawa Timur?

Di mana wilayah yang pernah menjadi basis kemenangannya dan sampai seberapa jauh penguasaan Jokowi kini di wilayah tersebut? Bagaimana pula kondisi keterpilihannya di wilayah-wilayah yang menjadi basis kemenangan Jokowi di Jawa Timur?

 

 

Perluasan penguasaan

Menjadikan hasil Pilpres 2014 sebagai titik tolak pola persaingan, di Jawa Timur dapat dipilah menjadi tiga kategori wilayah persaingan. Pertama, wilayah-wilayah yang menjadi pusat kekuatan Jokowi. Dari total 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, Jokowi mampu menguasai 24 kabupaten dan kota.

Seluruh kabupaten dan kota tersebut jika dikelompokkan berdasarkan pada kondisi kultur sosial politiknya terdiri dari mulai ujung barat Jawa Timur, yaitu wilayah yang dikenal ”Mataraman” (Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, Madiun, Magetan, Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek);  menuju wilayah tengah yang terkelompokkan ”Arek” (Surabaya, Jombang, Malang, Sidoarjo, dan sekitarnya), serta ujung timur Jawa Timur, ”Banyuwangi”.

Pada wilayah kemenangan Jokowi, terdapat wilayah-wilayah dengan perolehan suara pemilih  yang tinggi dapat dijadikan sebagai basis kantong suara terbesar. Wilayah ”Mataraman”, ”Arek”, dan ”Banyuwangi” adalah benteng paling loyal bagi kemenangan Jokowi.  Di wilayah Kabupaten Blitar, misalnya, mencapai hingga 71,6 persen. Wilayah Tulung Agung, Trenggalek, dan Kediri hingga di atas 65 persen. Namun di wilayah Pacitan, justru Jokowi hanya mampu meraih 35,4 persen.

Kedua, wilayah yang menjadi area persaingan sengit. Pada wilayah ini, proporsi penguasaan kedua sosok, baik Jokowi maupun Prabowo, relatif imbang. Pada wilayah yang tergolong  ”Mataraman Pesisir” (Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan) secara total Jokowi mampu unggul tipis terhadap Prabowo  (51,3 persen: 48,7 persen). Sebaliknya, di wilayah ”Pandalungan” yang terdiri dari Pasuruan, Probolinggo Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang, secara keseluruhan justru Prabowo unggul dengan selisih juga tipis.

Ketiga, wilayah yang menjadi basis kemenangan Prabowo sekaligus menjadi area ketertaklukkan Jokowi. Wilayah ”Madura” yang terdiri dari  Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep merupakan benteng kokoh kemenangan Prabowo. Tidak tanggung-tanggung, kecuali di Sumenep, Prabowo mampu menghimpun hingga di atas tiga perempat bagian suara. Proporsi tertinggi di Bangkalan, ia mampu mengusai hingga 81,2 persen.

Persolannya, selang lebih dari tiga tahun setelah pilpres, Jokowi mampu mengubah pola persaingan menjadi semakin tidak kompetitif di tiap-tiap wilayah.  Surplus dukungan pada Jokowi terjadi pada setiap kategori wilayah. Pada wilayah-wilayah yang bukan menjadi basis kekuatan Jokowi, kini justru beralih menjadi wilayah kemenangannya.

Wilayah Madura, misalnya, hasil survei menunjukkan, tidak kurang 50,7 persen  menyatakan akan memilih Jokowi jika pemilu dilakukan saat ini. Prabowo yang terbukti mampu menguasai mayoritas Madura pada pemilu lalu kini hanya dipilih 28 persen responden.

Kondisi yang tidak kurang sama terjadi pada wilayah-wilayah yang terkategorikan sebagai wilayah paling kompetitif. Hasil survei saat ini menunjukkan, di kawasan ”Mataraman Pesisir” dan ”Pandalungan” juga dikuasai Jokowi. Di wilayah Mataraman Pesisir, misalnya, wilayah yang dalam pemilu lalu dimenangi Jokowi secara tipis, pada saat ini terjadi penguatan dukungan  dengan proporsi yang tergolong sangat signifikan. Sebanyak 58,1 persen responden kini memilih Jokowi.

Di sisi lain, pada wilayah-wilayah yang sejak awal menjadi kantong-kantong suara Jokowi, saat ini juga terjaga. Dibandingkan dengan hasil pemilu lalu, wilayah ”Mataraman” dan ”Arek” pemilih Jokowi dapat dipertahankan dengan proporsi yang relatif sama tinggi. Peningkatan dukungan justru terjadi di wilayah ujung Timur Jawa Timur, Banyuwangi. Hasil survei menunjukkan, lebih dari tiga perempat bagian responden menjatuhkan pilihannya kepada Jokowi.

Perubahan peta konfigurasi dukungan yang menempatkan Jokowi sebagai pemenang dan mampu mengambil alih seluruh benteng kekuatan pemilih di Jawa Timur ini jelas menempatkan Prabowo dalam posisi yang kurang menguntungkan. Ruang gerak penguasaannya semakin menyempit, bahkan wilayah-wilayah yang menjadi benteng terbesar miliknya mulai terambilalihkan.

Dalam situasi semacam itu, bagaimanakah peluang kemenangannya? Apabila bangunan penguasaan pemilih di masa mendatang tetap terjaga seperti hasil survei ini, praktis potensi penguasaan dukungan hanya tertuju pada kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan ataupun mereka yang lebih menyukai sosok di luar Jokowi dan dirinya.

Dalam hitungan matematis, sekitar 22,1 persen kalangan responden yang masih potensial ia kuasai. Namun, sekalipun itu terjadi, tampaknya masih tidak cukup pula memenangi pertarungan di Jawa Timur.  Di Jawa Timur, kunci kemenangan hanya dimungkinkan terjadi jika ia berekspansi masif dan mampu menaklukkan wilayah-wilayah yang kini  menjadi benteng penguasaan Jokowi. (BESTIAN NAINGGOLAN/LITBANG KOMPAS)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*