Kampanye Agar Ibu Australia Tidak Malu Menyusui Depan Umum

Ilustrasi (Sumber: australiaplus.com)

Baranews.co – Sarah Murnane mendirikan Proyek Menyusui ASI Australia atau ‘Australian Breastfeeding Project’ pada tahun 2015. Sudah ada 30 fotografer yang memotret lebih dari 2.000 orang ibu yang menyusui, di lebih dari 260 lokasi di seluruh Australia. Mulai di gedung ikonik Sydney Opera House hingga sejumlah pedalaman.

Dengan berbagi foto secara online, proyek ini bertujuan untuk mengurangi stigma seputar menyusui ASI di depan umum, sehingga dapat mendorong ibu menyusui ASI lebih lama.

breastfeeding1_abc_1803019.jpg
Wanita difoto sedang menyusui di lokasi-lokasi yang indah di sekitar Australia dalam upaya menjadikan pemberian ASI sebagai hal yang normal. (Disediakan: Australian Breastfeeding Project).

‘Bukan telanjang, tapi memberi makan bayi Anda’

Tingkat pemberian ASI di Australia masih jauh di bawah rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO. Anjuran WHO ASI diberikan secara eksklusif kepada bayi hingga usia enam bulan dan terus memberikan ASI bersama makanan lain sampai anak berusia dua tahun atau lebih.

Meskipun 96 persen ibu berusaha memberikan ASI pada anaknya saat lahir, namun statistik dari Survei Makanan Bayi Nasional Australia pada tahun 2010, serta dari Studi Jangka Panjang Tahun 2006-2007 tentang Anak-anak Australia, menunjukkan pemberian ASI ekslusif bagi bayi berusia dibawah lima bulan turun hingga 15 persen dan hanya 5 persen yang masih disusui ASI hingga usia dua tahun.

Sarah Murnane yakin salah satu alasan penurunan dramatis dalam pemberian ASI dikarenakan stigma seputar menyusui ASI di masyarakat umum. Beberapa ibu merasa tidak nyaman dan akhirnya benar-benar berhenti memberikan ASI pada anaknya.

“Beberapa ibu mengaku orang-orang memandangi dengan rasa jijik. Orang-orang datang menghampiri dan berkomentar apa yang mereka lakukan [menyusui anaknya di ruang publik] adalah menjijikkan, mereka harus pergi,” katanya.

Haylee Rees, seorang ibu yang menghadiri acara pemotretan untuk Proyek Menyusui ASI Australia baru-baru ini di Dubbo, New South Wales (NSW) bersama dengan putrinya yang berusia tujuh bulan, menggambarkan pengalaman negatif saat ia menyusui anaknya di sebuah pusat perbelanjaan.

“Ada seorang pria tua berjalan melewati saya. Ia memang tidak mengatakan apapun, tapi dari caranya memandang saya menunjukkan rasa jijik dan negatif, membuat saya merasa sangat dihakimi dan tidak nyaman. Keesokan harinya saya berhenti [menyusui] ,” tuturnya.

Melihat foto perempuan lain yang menyusui telah mendorong Haylee Rees untuk terus menyusui putrinya.

breastfeeding2_abc_1803019.jpg
Proyek Breastfeeding Australia baru-baru ini melakukan pemotretan di Dubbo, NSW, yang dihadiri oleh 20 ibu menyusui dan anak-anak mereka. (ABC Western Plains: Ana Tovey).

Berbagai pengalaman dari ibu-ibu lainnya saat pengambilan foto di Dubbo itu sangat beragam. Beberapa diantara mereka mengatakan tidak ada masalah sama sekali dengan menyusui di depan umum, sementara yang lain mengaku telah menerima tatapan jijik dari orang lain sesekali.

“Saya pikir dengan berada di pedalaman, stigma bagi ibu-ibu yang menyusui anaknya akan berkurang, tapi ternyata tetap akan mendapatkan ‘tatapan jijik’,” kata Ebony Jamieson, yang telah menyusui lebih dari empat bulan.

Para ibu yang ambil bagian dalam pemotretan di Dubbo merasa bangga, karena dapat difoto ketika menyusui dan menjadi bagian dari proyek tersebut.

Rebecca Smith telah menyusui anaknya selama hampir dua tahun.

Beberapa ibu pernah mengalami tantangan dalam menyusui anak mereka.

Kristi Zumbo tidak bisa menyusui bayinya yang pertama, dan kemudian mengalami kesulitan menyusui bayinya yang kedua, yang ia beri nama Sophie.

Sophie memiliki kelainan pada lidahnya, yang awalnya salah dipotong. Setelah pergi berobat ke Sydney untuk memperbaiki lidah anaknya dengan perawatan laser, menyusui menjadi lebih berhasil.

Dengan anaknya Sophie yang kini berusia delapan bulan, Kristi Zumbo melihat pemotretan sebagai ajang untuk merayakan proses menyusui mereka sejauh ini, dan juga kesempatan agar memberikan ASI dianggap sebagai hal yang biasa dilakukan oleh perempuan.

menyusui ASI
Pengambilan foto dilakukan di banyak lokasi ikonik di seluruh Australia. (Disediakan: Australian Breastfeeding Project).

Otoritas menyusui khawatir rasa takut jadi penghalang

Louise Duursma dari Asosiasi Menyusui ASI Australia (ABA) yakin mayoritas perempuan yang menyusui ASI anaknya di depan umum tidak memiliki masalah. Tapi ia mengatakan ketakutan menjadi merupakan hambatan besar.

“Ini adalah sebuah hambatan untuk terus memberikan ASI, sehingga ibu merasa tidak nyaman dengan menyusui anaknya di depan umum karena merasa khawatir seseorang bisa mengatakan sesuatu kepada mereka,” katanya.

Progam ‘Breastfeeding Welcome Here [Menyusui ASI dipersilakan disini]’ yang diluncurkan oleh ABC berusaha untuk mengatasi halangan ini dengan mengajak tempat-tempat umum untuk mendaftar dan menempelkan stiker dengan tulisan ‘Menyusui Dipersilakan Disini’.

Ada 6.276 tempat yang telah terdaftar di seluruh Australia.

Louise Duursma setuju dengan lebih banyak foto ibu-ibu menyusui berperan penting dalam menganggap pemberian ASI sebagai hal yang normal.

Pemotretan juga menunjukkan keragaman cara ibu dapat menyusui bayi mereka, tidak hanya menyusui langsung dari payudara.

Sejumlah ibu juga difoto sedang memberikan ASI melalui botol susu, memompa, dan menggunakan suplemen pelengkap ASI.

Menyusui ASI
Foto-foto ini menunjukkan keragaman cara ibu menyusui bayi mereka, seperti memberikan ASI melalui alat pemberi asi. (Disediakan: Australian Breastfeeding Project).

Sarah Murnane mengatakan tanggapan masyarakat terhadap foto-foto dari Proyek Menyusui Australia telah menjadi semakin positif. Namun tanggapan di Facebook dari perempuan yang mendukung proyek tersebut mengindikasikan masih adanya kebutuhan untuk proyek semacam ini.

“Tiap hari kami mendapati banyak perempuan yang memberitahu kami jika mereka telah mendapatkan informasi yang salah dari para profesional kesehatan, atau mereka telah diminta untuk meninggalkan sebuah kafe [karena menyusui]. Perjalanan kita masih panjang.” (ABC Western Plains oleh Ana Tovey/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*